Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label INFO PENTING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFO PENTING. Tampilkan semua postingan

SETAN BUKAN MAHLUK



Salamun Alaikum,Okey unutk hari ini saya hanya mau meluruskan makna setan yang kita sering dengar dalam keseharian kita.Mungkin saja saudara kita yang lain belum tau mana itu setan dan mana iblis ataupun jin.Sebenarnya kata syaithan ( setan ) terambil dari akar kata syathana, yang berarti “jauh” karena yang bersangkutan jauh dari rahmat Tuhan. Ada juga pendapat yang menyatakan, bahwa kata itu terambil dari akar kata syaatha, yang berarti “terbakar” boleh jadi karena ia akan terbakar di neraka dan juga membakar hati dan fikiran untuk berbuat hal2 yg dilarang oleh Allah sehingga hati tidak menjadi tenang ( terbakar ). Atau dari kata syatha, yang berarti “tepi”, karena ia berada di tepi. Ini bersumber dari konsep bahwa segala yang baik berada di tengah dan yang di tepi ( ekstrem kiri atau kanan ) adalah buruk.
Syetan adalah Sifat yang mengajak kepada keburukan dengan gambaran yg disenangi oleh hawa Nafsu… Ia tidak terbatas pada jin atau makhluk halus, tetapi juga boleh jadi manusia..
QS al-An’am (6) : 112 menjelaskan bahwa “setan dan jin dan manusia saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk memperdaya.”
Atas dasar ini, ulama merumuskan bahwa setan adalah : “Segala makhluk Tuhan yang durhaka kepada-Nya dan mengajak kepada kedurhakaan.. Bahkan ulama menegaskan bahwa Al-Quran tidak hanya menggunakan kata syaithan untuk jin dan manusia, tetapi juga binatang yang melapaui batas dalam sikap / kelakuannya.. Kata syaithan juga digunakan untuk sifat yang buruk bukan pelakunya. Al-Raghib al-Asfahaniy, seorang pakar bahasa, mengutip hadis Nabi SAW yang menyatakan bahwa: ”Dengki adalah setan, marah adalah setan.” Sehingga pada akhirnya ia berpendapat bahwa syetan merupakan nama bagi segala yang buruk dari sifat manusia..
Bisikan baik yang didengar hati manusia bersumber dari malaikat. Bila buruk, sumbernya setan. Namun, boleh jadi juga ia datang dari diri manusia. Dalam surat Yusuf (12) : 53, Al-Quran menyatakan :
”Sesungguhnya nafsu manusia adalah pendorong kepada kejahatan ( inna al-nafsu la ammarah bi al-su’..
Ulama-ulama tasawuf membedakan antara bisikan setan dan bisikan buruk hati manusia.. Ini berbeda dengan setan. Setan, bila gagal merayu pada satu kejahatan/keburukan, akan berpindah pada kejahatan/keburukan yang lain, yang lebih rendah. Tetapi tidak pernah berhenti, atau puas. Karena itu, begitu berhasil, ia akan pindah kepada yang lain. Sehingga, manusia menjadi setan sepertinya. Atau, dengan kata lain, durhaka kepada Tuhan, dan mengajak orang lain kepada kedurhakaan..
Iblis adalah termasuk komunitas Jin, karena ia membangkang perintah Allah maka disebut dengan Iblis. Ia bukanlah dari golongan Malaikat. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah..
Dan ketika kami katakan kepada para Malaikat bersujudlah kalian kepada Adam, maka bersujudlah mereka semua kecuali Iblis adalah dia dari golongan Jin maka dia durhaka dari perintah Tuhannya”. (QS. al-Kahfi 18:50)..
jadi Setan itu Sifat. Setan bukan sosok makhluk tersendiri, tapi hanyalah sifat dan sebutan bagi setiap Pembangkang dari golongan Jin dan Manusia.. Dan sebagai musuh bagi setiap orang beriman. Terkadang Allah menyebut Iblis dalam al-Qur’an dengan sebutan Setan. Allah berfirman,
“Dan demikianlah kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh, yaitu Setan-Setan (dari jenis) Manusia dan (dari jenis) Jin”. (QS. al- An`am 6:112)..
Nyatalah bahwa Setan merupakan Kata Sifat bukan Jenis Makhluk. Dan Iblis merupakan dari golongan Jin yang Membangkang, selanjutnya disebut Rajanya Setan (Pembangkang).. Setan/Syaithan = Sifat Buruk / Jauh dari Kebenaran (bisa menjangkiti manusia & jin) Iblis = Golongan Jin yang membangkang kepada Allah..
Perbedan tafsir ulama tentang iblis adalah ada yang mengatakan bahwa iblis sebagian dari jin yang fasik ( dalam surat alkahfi ayat 50) dan ada juga pendapat ulama yang mengatakan iblis adalah bahagian dari malaikat yang fasik ( dalam surat al baqarah ayat 34). Dalam suatu kitab dinyatakan bahwa iblis ahli ibadah, dan tinggal di surga dan ibadah nya lebih baik dari malaikat. Tapi dosanya hanya satu, yaitu tidak mau sujud kepada Adam..
Jin adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dari api. Yang memebedakan jin dengan iblis adalah tugasnya. Tugas jin adalah untuk beribadah kepada Allah seperti yang disebutkan dalam surat Adz dzaariyaat ayat 56 yang artinya “tidaklah diciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada Allah..
Setan itu bermakna lebih kepada sifat yang dimilki makhluk Allah. Sehingga semua iblis pasti setan. Sifat setan ini selalu mengajak pada keingkaran kepada Allah SWT..
Pada surat an nas telah disebutkan oleh Allah jenis-jenis setan, yakni :
1. Setan manusia
Setan yang paling berbahaya adalah setan manusia. Setan jenis ini dapat kita lihat sehari-hari dengan nyata. Setan inilah yang kita hadapi sehari-hari yang sering mengajak manusia bermaksiat kepada Allah..
2 Setan Jin
Setan jin adalah setan yang tidak terlihat oleh kasat mata. Karena ada sifat setan pada jin maka dari ada jin kafir dan jin muslim. Jin kafir lah yang selalu mengajak manusia untuk bermaksiat kepada Allah..
Bisikan dari Iblis : berada di sebelah kiri yaitu selalu bertentangan dengan Allah. Iblis juga membisikkan suatu perbuatan yang baik dengan tujuan :
1. Agar manusia lebih mementingkan perkara yang tidak wajib dan meninggalkan perkara yang wajib..
2. Agar lebih terperosok kepada dosa yang lebih besar. Setan menghasut kepada riya padahal niat awal kita bagus..
Bisikan dari Malaikat : berada di sebelah kanan dan selalu membisikkan perbuatan yang sesuai dengan hukum-hukum Allah.. Nafsu merupakan bisikan yang berada diantara malaikat dan Iblis..
Ciri-ciri dari nafsu sebagai berikut:
1. tidak berfikir akibat dari suatu perbuatan
2. senang akan sesuatu yang indah-indah,
3. nafsu cenderung mengikuti bisikan setan,
4. ketika mendapat musibah nafsu akan ingat kepada Allah sedangkan ketika mendapat nikmat maka lupa kepada Allah..
bagaimana membedakan apakah bisikan tersebut mudhorot ataupun manfaat dan bertentangan dengan agama atau tidak. Jawabannya, kita harus belajar agama, belajar dan terus belajar agar kita mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak menurut agama. itu salah satunya cara.
” Dan ketika kami katakan kepada para Malaikat bersujudlah kalian kepada Adam, maka bersujudlah mereka semua kecuali Iblis adalah dia dari golongan Jin maka dia durhaka dari perintah Tuhannya”. (QS. al-Kahfi 18:50).. Pertanyaannya yang sering saya terima kenapa Iblis tak mau sujud kepada ADAM? Jawabanya simple banget karena itu adalah Skrip yang di terima Iblis.Oke kita balik ke setan,Setan itu Sifat. Setan bukan sosok makhluk tersendiri, tapi hanyalah sifat dan sebutan bagi setiap Pembangkang dari golongan Jin dan Manusia, dan sebagai musuh bagi setiap orang beriman. Terkadang Allah menyebut Iblis dalam al-Qur’an dengan sebutan Setan. Allah berfirman,
“Dan demikianlah kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh, yaitu Setan-Setan (dari jenis) Manusia dan (dari jenis) Jin”. (QS. (QS. al- An`am 6:112).
Berarti manusia bersifat setan wujud manusia sifat setan maka itu di namakan setan dari golongan manusia .. seperti hal nya syetan dari golongan jin .
al- An`am 6:112).
Di namakan setan dari golongan manusia,berarti wujudnya manusia tapi bersifat setan seperti hal nya setan dari golongan jin .

 Wasalam........

HAKEKAT FANA



Salamun Alaikum,Alhamdulillah artikel ini bisa saya muat dengan izin Allah,sudah lama pengen curhat tapi selalu saja ada halangannya.FANA adalah Titik penting seorang salikin yang sedang berjalan menuju Allah SWT.Sebuah keadaan dimana ke-diri-an (kehambaan) seseorang telah “tiada”. Dalam situasi demikian bagi salikin yang bersangkutan tidak ada lagi yang hidup kecuali Allah SWT, dan sirnalah semua yang tampak.
Yang dimaksud dengan fanâ’ (hilang) di sini bukan fana’ ? al-jism atau fana’ secara lahiriah. Tapi fana’ secara maknawiah, yaitu fana’ atau hilang dari wilayah akidah. Fana’ ?llah dengan baqâ’ billâh. Fana’ ?llah konsep dasarnya adalah La ilaha Illa Allah. Semua hal hanya untuk diri-Nya dan tidak untuk yang lainnya. Sebagai bukti konkret orang yang telah fanâ’ adalah ia senantiasa meyakini konsep la hawla wa laquwwata illa billah al ‘aliyy al adzîm. Tak ada kekuatan diri, tak ada kemampuan diri, kecuali kekuatan dan kemampuan diri Allah SWT. Pada diri Rasulullah SAW kondisi fana tampak pada periode Mekkah. Semua ketakwaan beliau dan berbagai mukjizat yang terjadi selama periode Mekkah merupakan bukti kuat akan hal itu.
Seorang sâlikîn yang tengah fana’ tampak jelas dalam sifat kesehariannya. Berbagai emosi dan reaksi negatif yang biasa bersemayam dalam diri telah berubah menjadi sebaliknya. Tenang, kuat, dan sabar ketika menghadapi gelombang kehidupan merupakan bukti kuat bahwa seseorang telah fana. Bahkan, ketika dicaci-maki oleh banyak orang pun ia tidak serta merta balas memaki atau membenci. Karena, baginya yang penting Allah SWT tidak murka dan membencinya. Konsentrasinya hanya pada Sang Khalik. Semua yang dilakukannya senantiasa berangkat dari kesadaran kehambaan yang harus senantiasa memiliki catatan baik di sisi Allah SWT.
Dalam keseharian, orang yang fana’ sepertinya tampak masa bodoh dan asyik dengan dirinya sendiri. Berbagai hal di luar dirinya hanya mendapat sedikit perhatian dan sedikit memberi dampak padanya. Bahkan ketika ia tengah dalam keadaan serba berkekurangan, ia tetap bergeming. Ia tetap bersyukur dan senantiasa mengucap alhamdulillâh.
Fana’ bagi seseorang yang belum berkeluarga barangkali tidak menjadi masalah. Tapi lain halnya bila ia telah menikah atau bahkan harus menanggung jawabi orang seisi rumah. Karena sikap kesehariannya terkesan santai dan tidak peduli, sudah barang tentu membuat khawatir banyak orang. Meski, sesungguhnya fana yang benar adalah fanâ’yang tetap pada kesadaran kemanusiaannya, dan tetap sadar pada tanggung jawab sosialnya.
Seseorang yang masih termasuk dalam kategori seorang salikîn, fana-nya masih kerap tidak stabil. Ia sering fana’ hanya untuk hal-hal yang enak baginya, tapi tidak fana’ ketika menghadapi hal buruk yang tidak sesuai dengan kehendak hatinya. Karena itu, agarfana’ yang terjadi pada seorang salikin adalah fana’ yang benar menurut agama dan fanâ’nya stabil, dibutuhkan bimbingan seorang Mursyid. Tidak hanya fana’ ketika dalam kesenangan, tapi juga mampu fana’ dalam kesulitan. Karena fana’ dalam bimbingan seorang Mursyid adalah fana’ yang terstruktur, yakni dengan ilmu dan amal yang disebut jalan mutawasith pertengahan). Sehingga yang terjadi adalah fana’ yang tidak membuat orang disekelilingnya menjadi gelisah dan marah. Karena ia tetap hidup normal dan menjalankan kewajiban sosialnya dengan baik, namun orientasinya tetap pada hati nurani.
Zaman dahulu, proses fana’ dilalui lewat berbagai proses yang terkadang sulit diterima oleh akal, seperti khalwat di gua hingga ditidurkan selama ratusan tahun. Namun tentu saja hal itu bisa terjadi karena situasi dan kondisi zamannya memang berbeda dengan sekarang. Maka, proses pembelajaran dan laku olah spiritualnya pun berbeda. Contohnya, di zaman sekarang banyak orang lebih mengutamakan syariatnya daripada tauhidnya. Sehingga, akhirnya keislamannya pun hanya di permukaan, tidak menyentuh keislaman yang mendalam-Islam yang sesungguhnya.
Tantangan lain, kalau dulu orang melakukan khalwat dengan jalan menyendiri di tempat-tempat sepi macam di gua, maka sekarang orang dituntut untuk bisa khalwat dan ‘uzlah di tengah-tengah masyarakat ramai. Artinya, hati kita tetap terpaut dengan Allah SWT meski ?sik jasmaniah kita sibuk dengan kegiatan kemasyarakatan, bekerja mencari nafkah, dan kesibukan mengurus keluarga.
Harus disadari betul bahwa yang khalwat itu adalah khalwat hati bukan jasad. Dan kesadaranpun harus terusdijaga, bahwa pengamalan ma’rifah, pengamalan hakikat, dan pengamalan aqidah merupakan bagian dari perjalanan kita menuju Allah SWT, dan kemampuan kita melakukan khalwat juga merupakan anugerah-Nya. Maka, semua itu harus dikembalikan kepada Allah SWT. Jadi, yang khalwat itu benar-benar bukan jasadnya, melainkan hati dan pikirannya. Hati harus senantiasa menghadirkan Allah SWT, belajar pada setiap keadaan, dan belajar pada setiap persoalan, serta mengembalikan semua yang terjadi pada Allah SWT. Bahkan, bagi seorang mursyid pun khalwat juga merupakan anugerah. Tidak ada seorang pun yang bisa khalwat kalau bukan karena mendapat anugerah-Nya.
Kata Syaikh Abd al-Qâdir al-Jailanî, banyak orang yang tersesat oleh jin dan iblis ketika berkhalwat. Hal itu bisa terjadi karena minimnya ilmu pengetahuan dan tidak mendapat bimbingan dari seorang Mursyid. Syaikh Abd al-Qâdir al-Jailanî demikian khusyuk dan bergeming ketika tengah ber-khalwat meski digoda oleh iblis. Hanya Allah, Allah dan Allah yang memenuhi ruang batin beliau. Keyakinan bahwa bukan ilmu yang ada padanya yang memberinya kekuatan, namun Allah SWT lah yang memberinya kekuatan dan kemampuan. Akhirnya, beliau pun selamat dan berhasil menyelesaikan khalwat-nya dengan baik.
Di zaman yang serba sibuk sekarang ini, kita tidak perlu melakukan khalwat munfarid atau khalwat di suatu tempat yang sepi. Kita justru dituntut mampu melakukan khalwat hakiki (di dalam hati). Hati senantiasa memandang kepada Allah SWT meski ?sik jasmaniah sibuk menjalani hidup keseharian.

Khalifah di Muka Bumi
Hakikatnya, manusia adalah khalifah Allah SWT di muka bumi. Namun, tidak sembarang orang bisa disebut khalifah. Yang bisa benar-benar di katakan khalifah adalah mereka yang sudah “sampai” (secara iman-hati-piki-ran) kepada Allah SWT. Sedangkan mereka yang belum sampai belum pantas menyandang khalifah, karena berarti ia belum punya bekal sebagaimana Nabi Adam AS yang diberi bekal oleh Allah SWT nama-nama di bumi dan di langit. “Barang siapa yang ma’rifatullâh maka tidak ada sesuatu apa pun yang tersembunyi di langit maupun di bumi.” Artinya, ia paham dengan basyirah al-qalbi maupun ladunni. Bahkan, bila ada sesuatu yang tersembunyi sekalipun dia paham, apa yang belum terjadipun dia tahu karena ia diberitahu oleh Allah SWT. Itulah ilmu ladunni.

Ada pula orang yang disebut Âlim al-Rabbânî, yaitu orang yang ‘alim (paham-ahli) dengan Tuhannya, bukan ulama lahiriah. Seorang ulama lahiriah biasanya hanya mampu membaca kitab, sedangkan seorang professor biasanya hanya fasih berwacana tentang agama maupun tasawuf (ia tidak mengamalkan secara mendalam). Berbeda dengan orang yang Âlim al-Rabbânî, yang diberi ilmu ladunni oleh Allah SWT, yang setiap saat membutuhkan ilmu dengan mudah ia memperolehnya, namun sembari tetap mengembalikan semua ilmunya kepada Allah SWT. Orang semacam itu tidak pernah kehabisan jawaban. Semakin banyak orang bertanya padanya, makin mudah ia menjawabnya.
Orang yang Âlim al-Rabbânî juga orang yang sosoknya low pro?le (rendah hati). Ia tidak akan mengumbar kata-kata kalau tidak ada yang bertanya. Kecuali pada waktu-waktu tertentu ketika ia menjalankan rutinitas tugasnya sebagai ulama. Seperti Rasulullah SAW yang tidak akan mengeluarkan (ilmunya) bila tidak ditanya oleh umatnya. kecuali ketika beliau harus menyampaikan wahyu. Makanya, semua asbâb al-nuzûl dan asbâb al-wurûd Al-Quran dan Al-Hadis itu merupakan hasil pertanyaan dari para sahabat. Begitu juga orang yang dekat dengan Allah SWT. Ia akan diberikan ilham yang sifatnya setingkat dengan wahyu, dan ?rman Allah akan jelas dan gamblang apabila penjelasannya didasari oleh ilham. Cara Allah memelihara Al-Quran tidak sebatas penjilidan. Karena, penjilidan bisa dilakukan oleh siapa saja. Tapi pemahaman Al-Quran hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang bersih hatinya dan diangkat oleh Allah SWT. Sebagaimana janji Allah SWT, “Kami yang menurunkan Al-Quran dan kami yang memelihara.” Maka Allah SWT menurunkan orang-orang yang diisi hatinya dengan ilham untuk mengurai Al-Quran yang sesungguhnya bukan semena-mena dalam bentuk ta’wil.

Ilham dan Wahyu
Turunnya ilham itu sama seperti wahyu. Terkadang mudah dan nikmat, terkadang diterima dengan rasasakit di kepala, dan lain sebagainya. Wahyu dengan ilham tidak berbeda jauh. Bedanya kalau ilham itu tidak boleh ditulis karena akan mengganggu, sebagaimana Rasulullah SAW yang tidak pernah menyuruh sahabat untuk menulis hadis, meski bila para sahabat menulis pun tidak apa-apa, karena bukan merupakan sebuah larangan keras.


Setiap salikin dianjurkan untuk menimba ilmu dari yang “hidup” , artinya ia menimba ilmu dari seorang mursyid. Sebagaimana Abu Yazid menyatakan, “Hai kamu, mengambil ilmu dari mayit ilal mayit. Kamu ambil ilmu dari buku (benda mati), kemudian diajarkan ke orang dan orang itu juga mati, maka ilmunya tidak akan berkembang dan tidak ada berkahnya.” Karena yang benar adalah mengambil ilmu dari yang “hidup” yang tidak pernah mati. Banyak ulama yang belajar dengan, katanya. Katanya kitab ini, dan katanya kitab itu. Dan, bagi siapa saja yang mengajarkan ilmu dan dia merasa bisa mengajar-berarti dia hamba, dan hamba itu mati. Lain halnya seorang Mursyid, yang tidak pernah merasa memberi sesuatu (ilmu), dan tidak pilih kasih pada murid-muridnya. Semua sâlikîn diperlakukan sama dan mendapat perhatian serta kasih sayang yang sama darinya.

Apakah Kesimpulan Hakekat FANA sebenarnya?Fana bukan hilang atau lenyap,justru FANA adalah kesadaran Intelektual Tinggi,sehingga penglihatan mata orang yang FANA adalah TAJAM. 

WAHABI SYIAH DAN SUNNI



Salamun Alaikum..Hari ini saya coba membahas perbedaan perbedaan yang ada antara WAHABI,SUNI dan SYIAH.Dari kalimat tersebut mungkin saudara telah banyak dapati timpah tindih antara satu dan lainnya.Baiklah kita mulai dari “..Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia..” [Asy Syuura 11]
Perbandingan Aqidah Wahabi vs Sunni vs Syi’ah
Jika orang awam melihat sekedar kulitnya saja seperti Rukun Iman dan Rukun Islam antara Sunni dan Syi’ah yang berbeda, orang awam akan berpendapat bahwa aqidah Syi’ah beda dengan Sunni. Begitu pula amalannya. Karena beda, Syi’ah bukan Islam. Sebaliknya Wahabi yang sama rumus Rukun Iman dan Rukun Islam dengan Sunni dianggap sama dengan Sunni. Tak heran jika ustad Idrus Ramli berpendapat Wahabi lebih lurus ketimbang Syi’ah.
Padahal jika kita gali lebih dalam, ternyata Sunni dengan Syi’ah itu cuma beda kulitnya. Tapi hakikatnya sama. Meski Rukun Iman Sunni dengan Syi’ah beda, namun hakikatnya Syi’ah meng-Imani 6 rukun Iman di Sunni seperti beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci Al Qur’an, Rasul, Hari Kiamat, dan Takdir.
Kalau sama, kenapa beda Rukun Imannya?
Kalau kita baca banyak Hadits dan Al Qur’an, maka rumusan Iman itu macam2. Ada yang cuma 3 rukun, ada pula yang 5 rukun di mana takdir tidak termasuk. Di Al Qur’an juga rumusan orang yang beriman beda dari 6 rukun Iman yg biasa kita pelajari:
“…kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (IMANNYA)..” [Al Baqarah 177]
Di Al Baqarah 285 juga disebut Rukun Iman hanya ada 5 tanpa Iman kepada Qadla dan Qadar:
“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” [Al Baqarah 285]
Pada Al Baqarah 3-4 rumusan Rukun Iman juga lain lagi: Beriman kepada yang Ghaib, Kitab Suci, dan Akhirat.
Jadi hanya karena formulasi rukun Imannya tak menyebut beriman kepada Qadla dan Qadar, belum tentu mereka sesat/kafir. Kecuali jika mereka benar2 tidak beriman kepada Qadla dan Qadar.
Rukun Islam juga begitu. Meski rumus beda, kenyataannya Syi’ah juga bersyahadah: “Asyhadu alla ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rosulullah”. Ini sudah mencukupi Syahadah Sunni meski mereka tambah (versi mereka bid’ah hasanah) dgn Ali waliyullahu.
Sebetulnya yang sesat itu adalah jika tidak mengucapkan 2 kalimat Syahadat (Syahadat kepada Allah dan RasulNya). Tapi jika mereka mengucapkan itu, maka tidak sesat. Adakah tambahan Syahadah ke 3 membuat mereka jadi sesat/kafir?
Di dalam Islam, selain meminta ummat Islam bersyahadat, Nabi juga meminta ummat Islam untuk bai’at (berjanji setia) kepada Nabi di Baiatur Ridhwan. Saat Khalifah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali dilantik pun ummat Islam membai’at/berjanji setia kepada mereka. Adakah itu sesat/kafir?
“Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (QS. Al-Maidah ayat 55)
Kaum Syi’ah juga sholat, bayar zakat, puasa, dan juga berhaji jika mampu. Jika anda berhaji atau umrah ke Mekkah niscaya anda akan berjumpa dengan Muslim Syi’ah dari Iran yang ikut berhaji / umrah bersama anda.
Sebaliknya Wahabi meski Rukun Iman dan Rukun Islamnya sama, jika kita kaji ternyata beda dengan Sunni. Wahabi tidak mengenal bid’ah hasanah. Semua bid’ah sesat, menurut Wahabi. Ini karena mereka cuma berpegang pada hadits Kullu bid’ah dlolalah dan menolak hadits “Ni’mal bid’ah” yang disebut Khalifah Umar bin Khoththob ra. Walhasil banyak amalan Aswaja / NU yang dinyatakan sesat / syirik oleh Wahabi seperti Usholli, Qunut Subuh, Tahlilan, Maulidan, Ziarah Kubur, Tawassul, dsb.
Dan yang lebih parah adalah aqidah tentang Allah. Inti dari agama adalah Tuhan, yaitu Allah. Karena agama itu mengatur cara kita menyembah Allah. Nah jika Tuhan yang disembah itu meski nama sama, tapi zat / sifatnya beda, ini bisa keliru sejauh-jauhnya.
Saya coba tabayyun langsung ke website2 Syi’ah dan Wahabi. Pada Terjemah Al Qur’an terbitan Kerajaan Arab Saudi meski mengaku dari Tim Terjemah Depag, ada tambahan: “Pendapat yang sahih terhadap ma’na “Kursi” ialah tempat letak telapak kaki Allah”. Artinya menurut Wahabi, Allah punya “Telapak Kaki Allah”. Silahkan buka Terjemah Al Qur’an terbitan Kerajaan Arab Saudi Surat Al Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi).
Apakah ini fitnah?
Tidak. Ini saya ambil dari website Wahabi bahwa Allah punya wajah:
“… Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah: 272)
Dengan berbagai ayat Al Qur’an dan Hadits tentang Wajah Allah yang ditafsirkan apa adanya, Ulama Salafi Wahabi berkesimpulan Allah punya wajah. Dengan cara yang sama nanti mereka menetapkan Allah punya tangan, kaki, dsb:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan: “Wajah (Allah) merupakan sifat yang terbukti keberadaannya berdasarkan dalil Al-Kitab, As-Sunnah dan kesepakatan ulama salaf.”
Penulis: Abu Mushlih Ari WahyudiMuroja’ah: Ustadz Aris Munandar

Ini dari website Wahabi lain yang menyatakan Allah punya kaki. Karena mereka terjemahkan hadits apa adanya:
Di antara sifat yang tetap bagi Allah adalah: Kaki
Dalil hal tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Bukhari, no. 6661 dan Mulsim, no. 2848, dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
لَا تَزَالُ جَهَنَّمُ تَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ حَتَّى يَضَعَ رَبُّ الْعِزَّةِ فِيهَا قَدَمَهُ فَتَقُولُ قَطْ قَطْ وَعِزَّتِكَ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ
“(Neraka) jahanam masih saja berkata, ‘apakah ada tambahan’ hingga akhirnya Tuhan Pemiliki Kemuliaan meletakkan kaki-Nya. Kemudian dia berkata, cukup, cukup, demi kemuliaan-Mu, lalu. Lalu neraka satu sama lain saling terlipat.”
Dan ini tulisan dari Website Wahabi bahwa Allah punya 2 tangan dan tangannya kanan semua:
Kesimpulan Allah mempunyai kedua tangan dan kedua tangan Allah adalah kanan.
 Menurut Sunni, Allah itu Esa. ZatNya pun Satu. Tidak terbagi-bagi jadi anggota tubuh seperti wajah, tangan, dan kaki:
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.” [Al Ikhlas 1]
Sebaliknya seorang Salafi Wahabi dengan bangga menunjukkan kesesatan Syi’ah yang menyatakan bahwa Allah tidak bertempat dan tidak berarah. Katanya pernyataan tsb dari kitab Al Kafi. Kalau begitu, Allah ada di mana-mana dong?
Padahal itulah yang benar. Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja) yang asli juga Allah tidak bertempat dan tidak berarah. Keliru jika mengatakan Allah “ADA DI”, meski itu “Ada di mana-mana”. Allah tidak memerlukan tempat atau pun waktu. Justru Allah yang menciptakan ruang dan waktu. Jika kita menyatakan Allah ada di satu ruang, berarti batallah sifat Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Karena Allah ternyata dilingkupi oleh tempat / makhluk ciptaannya. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.
Pendapat Ulama’ Salaf : ” Allah Wujud Tanpa Bertempat ”
Imam Ahlussunnah; Imam Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H), dalam Kitab at-Tauhid; Allah Ada Tanpa Tempat dan Tanpa Arah
Beliau dalam karyanya, Kitab at-Tauhid menuliskan:
إن الله سبحانه كان ولا مكان، وجائز ارتفاع الأمكنة وبقاؤه على ما كان، فهو على ما كان، وكان على ما عليه الان، جل عن التغير والزوال والاستحالة
“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Tempat adalah makhluk memiliki permulaan dan bisa diterima oleh akal jika ia memiliki penghabisan. Namun Allah ada tanpa permulaan dan tanpa penghabisan, Dia ada sebelum ada tempat, dan Dia sekarang setelah menciptakan tempat Dia sebagaimana sifat-Nya yang Azali; ada tanpa tempat. Dia maha suci (artinya mustahil) dari adanya perubahan, habis, atau berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lain” (Kitab at-Tauhid, hal. 69)
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.” [Al Furqaan 59].
Jangan artikan ‘Arsy dengan langit. Dan jangan pula memikirkan Allah menempel di atas ‘Arsy. Maha suci Allah dari itu. Oleh sebab itu di kalimat berikutnya Allah menyatakan cuma Nabi Muhammad yang lebih tahu soal itu. Kita jangan coba menakwilkannya.
Sebelum Allah menciptakan Langit dan Bumi, Allah sudah ada. Tidak ada di atas langit. Setelah Allah menciptakan Langit dan Bumi, zat dan keadaan Allah tidak berubah mengikuti makhlukNya. Allah tidak nangkring di atas langit. Saat langit dan bumi dihancurkan oleh Allah, apa Allah masih di atas langit? Zat dan Keadaan Allah tidak berubah sebelum langit diciptakan, saat langit ada, atau pun sesudah langit dihancurkan. Allah tidak berubah karena makhlukNya.
Tidak seperti itu. Itu adalah pemahaman yang dangkal terhadap hadits. Tidak sesuai dengan pemahaman para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Bahkan para sahabat dan ulama salaf tidak mendiskusikan hal itu. Sekarang masalah Allah di atas langit ini dijadikan oleh kaum akhir zaman sebagai sesuatu yang amat penting. Padahal para sahabat tidak mendiskusikan itu. Begitu kata Habib Umar bin Hafidz.
Maha Suci Allah dari memerlukan tempat. Justru Allah yang menciptakan dan menguasai ruang dan waktu:
“…Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [Ali ‘Imran 97]
” Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” juga disebut dalam surat Al ‘Ankabuut ayat 6.
Yang bertempat itu cuma makhluk. Bukan Allah. Allah tidak butuh tempat sebagaimana makhlukNya:
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya..” [Huud 11]
Jika Wahabi menyatakan Allah di atas langit dan yang tidak percaya itu kafir, apakah Wahabi akan mengatakan kafir terhadap orang yang mengatakan Allah itu dekat?
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat…” [Al Baqarah 186]
“..Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.” [Saba’ 50]
“..dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [Qaaf 16]
Kemudian Salafi Wahabi juga menuliskan Allah dari langit naik-turun ke bumi. Seolah-oleh Allah itu lebih kecil dari Langit. Lebih kecil dari alam semesta. Padahal Maha Suci Allah. Allah Maha Besar. Allah jauh lebih besar daripada Langit dan Bumi. Jika kita gambarkan keyakinan Wahabi jadi seperti ini:

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda.
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ رواه البخاري( كتاب التوحيد/6940) ومسلم ( صلاة المسافرين/1262) .
“Tuhan kita Tabaaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia saat sepertiga malam terakhir. Lalu dia berkata, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Siapa yang memohon kepadaku, niscaya akan Aku berikan. Siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya akan aku ampuni.” (HR. Bukhari, Kitab Tauhid, no. 6940, Muslim, Shalatul Musafirin, no. 1262)
النزول’ (turun) menurut Ahlussunnah artinya adalah, bahwa Allah Ta’ala turun dengan dzat-Nya ke langit dunia secara hakiki namun sesuai dengan kebesaran-Nya, dan tidak ada yang mengetahui caranya selain Dia.
Menurut Sunni, Allah itu tidak bisa kita bayangkan. Esa ZatNya. Namun menurut Wahabi yang mengartikan Al Qur’an dan Hadits dengan terjemah ala kadarnya, tidak pakai Majaz / Kiasan, Allah itu punya wajah, 2 tangan yang kanan semua, betis, dan kaki.
Jika Allah ada DI atas langit, kemudian naik turun ke bumi, jadinya Allah itu bukan lagi Maha Besar. Bukan Allahu Akbar. Itu menurut paham Wahabi. Na’udzu billah min dzalik.
Maha Besarnya Allah bisa kita saksikan pada Ayat Kursi:
“…Kursi Allah meliputi langit dan bumi…” [Al Baqarah 255]
Bayangkan, Kursi Allah saja meliputi Langit dan Bumi. Artinya lebih besar dari langit dan bumi. Padahal kursi ini dibanding ‘Arsy seperti titik dengan jagad raya. Dan Allah jauh lebih besar dari ‘Arsy. Jangan sekali-kali membayangkan Allah duduk atau bertempat di atas makhlukNya. Allahu Akbar. Allahu Maha Besar!
Ulama Sunni menafsirkan bukan Allah secara fisik turun ke Bumi kemudian naik lagi, tapi Rahmat Allah turun ke bumi. Kalau Allah turun-naik ke bumi dari langit, kesannya kan Allah lebih kecil dari alam semesta.
“Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al Hasyr 24]
Menurut Aswaja Allah itu Esa Zatnya. Tidak terbagi2 jadi anggota tubuh. Menurut Wahabi yang berpaham Mujassimah karena menafsirkan Al Qur’an dan Hadits secara kaku, Allah punya wajah, 2 tangan yang semuanya kanan dan berjari, punya betis, kaki, telapak kaki, dsb. Jika tak percaya, coba tanya syekh antum atau cari di website2 Wahabi.
Ini mirip kepercayaan Kristen. Contoh di sini menurut Kristen Allah punya telapak tangan:
ALLAH MEMPERLIHATKAN “TELAPAK TANGAN KANAN-NYA” KETIKA MENJAWAB PERTANYAAN TERAKHIR BAPA SUCI PAUS YOHANES PAULUS II

Kalau meyakini Allah punya wajah, tangan, kaki, dsb lama2 Tuhannya bisa seperti ini…. Atau saat Dajjal datang mengaku sbg Tuhan, dia akan percaya karena meyakini Allah punya jasad. Aqidah Wahabi seperti ini disebut oleh Ulama sebagai Mujassimah yang sesat. Menganggap Allah punya jasad sebagaimana makhluk yaitu wajah, tangan, kaki, dsb. Jika aqidahnya sesat, kok bisa2nya ngaku sebagai penjaga aqidah?
Jadi meski nama sama, yaitu: Allah, ternyata sifat2 Allah Wahabi beda dengan Allah Sunni dan Allah Syi’ah.
Ibaratnya ada Ulama bernama Hasan. Kita ingin berguru dengan Hasan yang sifat2nya adalah Ulama, berakhlak baik, rendah hati, dsb. Nah jika ada orang yang berguru dengan orang yang namanya sama, yaitu: Hasan, tapi sifatnya beda seperti: bodoh, tidak lulus SD, tidak berakhlaq, sombong, dsb. Samakah orang yang berguru dengan Hasan yang Ulama dengan Hasan yang Bodoh? Beda bukan?

Kesimpulan dari saya http://musafirbatin.blogspot.com/ semua perbedaan adalah rahmat,permasalahan yang timbul adalah karena memang tak mengenal ALLAH sebenar benar KENAL.Tak mengerti arti hidup sebenarnya DARIMANA,DIMANA DAN MAU KEMANA....Jika 3 Konsep ini di ketahui Insya Allah tak ada tuding menuding saling menyalahkan satu sama lain.Merosotnya Islam karena satu sama lain ingin membenarkan satu golongan saja dan yang lainnya salah,menurut saya jika masing-masing ingin memperbesar golongan maka yang di dapat hanyalah salah benarnya saja,tapi jika masing masing bersatu ingin membesarkan islam Insya Allah dan yakin bahwa ALLAH akan mempersatukannya.ISLAM itu tidak beda,yang beda MINDSET atau pola pikir personalnya.


AHLI MA'RIFAT DALAM KITAB AL HIKAM

“Tidaklah disebut sebagai orang ahli ma’rifat orang yang memberi petunjuk (isyarah sesuatu) yang menjadi rahasia Allah yang haq, ia dapat menemukan dirinya lebih dekat kepada Allah daripada isyarahnya sendiri. Akan tetapi yang disebut ahli makrifat ialah orang yang tidak melihat dirinya mempunyai isyarah tertentu, karena kesirnaannya (fana’) dalam wujudnya Allah dan terbalutnya kenyataan diri dalam menyaksikan Allah.” (Al Hikam)
Dalam hikmah tersebut diterangkan tentang bagian-bagian orang yang sudah termasuk pada maqom fana’, yang karenanya tidak dijelaskan secara gamblang, tetapi hanya istilahnya saja yang dijelaskan, karena hikmah ini berhubungan dengan rasa yang ada pada orang yang ahli makrifat, yang pada umumnya kita sendiri belum pernah merasakannya, maka untuk lebih memudahkan para murid tasawuf dibuat beberapa istilah yang berkaitan dengan hal tersebut.
1. isyarat
2. ibaroh
3. maqom fana’ atau jam’i
4. maqom baqo’ atau farqi
Isyarat.
Pengertian isyarat disini bukan seperti pengertian mengarahkan (menuding) jari telunjuk kepada sesuatu, akan tetapi makna isyarah dalam hikmah ini berati, perkataan atau ucapan yang tidak jelas (kinayah) tentang segala sesuatu yang hanya orang tertentu yang bisa faham.
Ibaroh.
Ibaroh berarti suatu perkataan atau ucapan yang jelas (gamblang) tentang sesuatu hal yang semua orang bisa memahaminya.
Jadi isyarat adalah merupakan suatu istilah yang digunakan ahli tasawuf untuk menjelaskan tentang berapa hal, yang diantaranya
a. Asror, yaitu rahasia-rahasia Allah
b. Ilmu Laduni, yaitu ilmu yang langsung dari Allah (tanpa belajar)
c. Mawajid, yaitu rasa cinta dan rindu yang teramat sangat, yang terkadang sampai membuat seseorang kehilangan akalnya dan bahkan sampai tidak sadarkan diri.
d. Dzauq, yaitu rasa yang diterima oleh hati atau bathin. Seperti rasa tenteram karena merasa nikmat (ladzat) dalam berdzikir, shalat, dan lain sebagainya.
Dzauq terbagi menjadi dua
Dzauq Bathinyyah, yaitu semua rasa yang dialami oleh hati atau bathin
Dzauq Dhohiriyyah, yaitu semua rasa yang diterima oleh panca indera, seperti bau wangi, rasa sakit, pedas, asin, pahit, asam dan lain sebagainya.
Asror, ilmu laduni, mawajid dan dzauq adalah termasuk ‘aurat yang wajib untuk ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada khalayak umum. Hal ini dapat disamakan dengan ‘aurat dhohir dari tubuh manusia, semisal orang laki-laki, maka yang wajib ditutupi adalah antara pusar dan lutut, ssedang bagi wanita adalah seluruh anggota tubuh. Dan karena asror, ilmu laduni, mawajid, dan dzauq adalah termasuk ‘aurat, maka untuk menjelasakan perkara ini, para ahli tasawuf menggunakan isyarah (kinayah).
Al Fana’ (jam’u)
Para arif billah pasti melewati maqom jam’i. istilah lain dari maqomul jam’i adalah “wahdatul wujud” (manunggaling kawulo gusti). Istilah ini bukan berarti bahwa wujudnya Allah itu bersatu dengan wujudnya atau bercampur dengan wujudnya hamba, tetapi tiu hanyalah merupakan sebuah kiyasan atau istilah dari para sufi, yang mana timbulnya istilah itu setelah adanya pengalaman di dalam mengarungi samudera tasawuf.
Arti lain dari “manunggaling kawulo gusti” adalah , apabila ada seorang hamba melihat hamba atu ciptaan Allah yang lain, maka yang ia lihat bukan wujud ciptaan itu, tetapi yang terlihat adalah Allah. Bahkan ketika melihat dirinya sendiri pun ia tidak melihatnya, dan yang terlihat hanya Allah. Semuanya telah sirna, dan yang ada hanya Allah (dihati). Tidak wujud selain-Nya.
Pada “menyaksikan” itu, segala persoalan hilang dari dirinya karena dalam ke-esaan murni (al-fardaniyyat al-mahdhah). Dalam kondisi seperti itu ia terpesona dengan keindahan penyaksian itu, sehingga hilanglah kesadaran diri dan tidak lagi memiliki kemapuan untuk mengingat selain-Nya, bahkan tidak mampu untuk melihat diri sendiri. Pada saat dalam kesaksian seperti inilah sebagian dari para sufi seperti Al Hallaj dan Abu Yazid Al Busthami mengatakan, “anal haq” (ukulah kebenaran), “subahaani maa a’dhomi sya’ni” (maha suci aku dan betapa agung keberadaanku), “maa fil jubbati illa allahu” (tidak ada dalam jubahku ini kecuali Allah).
Apabila seseorang telah mengalami hal semacam ini, dan kemudian ia tidak mampu untuk menahan diri dengan cara tidak mengatakan secara ‘ibaroh (jelas), maka hal itu dianggap sebagai suatu pelanggaran. Hal ini juga pernah dialami Syaikh Lemah Abang ketika dipanggil oleh Sunan Kudus, “wahai Syaikh Siti Jenar”, dan beliau menjawab, “Syaikh Siti Jenar tidak ada, yang ada hanya Allah” ketika mengucapkan Itu, Syaikh Siti Jenar merasakan bahwa wujudnya sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah Allah semata. Dirinya sudah tidak nampak lagi, yang nampak hanya Allah semata.
Orang yang telah mencapai maqom fana’ atau jam’i, mereka menyadari bahwa semua yang dilakukannya adalah tindakan Allah. Syaikh Yusuf Al A’jami, “ siapa yang berkata pada maqom jam’i, maka yang berkata bukanlah dirinya, akan tetapi Allah yang berkata melalui lisan hambaNya”. Dan hal itu juga sesuai dengan hadist firman dalam hadits qudsi:
“fabii yasma’u wabii yabshuru wabii yanthiqu……..” (maka dengan Aku (Allah) ia mendengar, dan dengan Aku ia melihat, dan dengan aku pulalah ia berkata).
Setelah kaum ‘arifin melakukan pendakian mi’raj spiritual ke alam hakikat, mereka sepakat bahwa yang disaksikan oleh mereka hanyalah Allah Yang Haq. Tidak ada wujud selainNya. Dan dalam kesaksiannya ini masing-masing kaum ‘arifin memiliki memiliki dan cara kesaksian yang berbeda. Ada yang menyaksikan melalui “makrifat” dan “ilmu”, dan ada yang yang menyaksikan “dzauq” dan “al-hal”. Perumpamaan akan hal ini adalah seperti orang yang ingin mengetahui hakikat dari api. Ada yang mengetahui panas api melalui serentetan panjang imu pengetahuan dan perenungan, hingga meyakini bahwa itu panas, dan ada yang memperoleh keyakinan bahwa api itu panas karena ia sendiri sudah merasakan terbakar olehnya.
Saat menyaksikan itulah segala persoalan (syak) menjadi hilang dari diri mereka, karena tenggelam dalam keesaan murni (al-fardaniyat al-mahdhah). Mereka terpesona dengan keindahan penyaksian itu, kehilangan kesadaran diri, sehingga tidak memiliki kemampuan untuk mengingat selainNya. Hingga terlontar ucapan-ucapan mutasyabihat.
Imam Ghazali dalam kitabnya, “Misykat al Anwar”, memberikan komentar mengenai hal itu, bahwa semestinya para perindu Allah itu “asyiqin” tidak mengungkapkannya di saat kondisi ekstase “fana’”, karena kessaksian yang dialaminya bukanlah kesatuan “ittihad” yang hakiki, melainkan hanya “ittihad” seperti yang dinyanyikan oleh orang yang rindu berat,
“Akulah yang mencintai dan yang aku cintai,
kami ini ini dua ruh yang bersemayam dalam satu raga.”
Atau ibarat orang yang melihat minuman anggur dalam gelas, dan mengira bahwa warna anggur itu adalah hiasan dari gelas itu sendiri. Sebagaimana dalam untaian syair:
“Gelas bening dan anggurpun bening,
Keduanya serupa dan menyatu.
Sekan anggur tanpa gelas,
Dan gelas pun tanpa anggur.”
Ungkapan tersebut tentu berbeda, “bahwa anggur adalah gelas”, dan “anggur seakan-akan gelas. “Bila kondisi ‘ittihad’ ini memuncak, maka disebut dengan “fana’ al fana’” seseorang yang mengalami kefana’an, tidak saja saja merasakan kehilangan dirinya, bahkan rasa kehilangan dirinya itu telah hilang dalam kesadarannya. Tidak menyadari bahwa dirinya tenggelam dalam kefana’an, dan juga tidak menyadari akan kefanaan dirinya. Sebab bila masih menyadari akan kefanaan dirinya, berarti masih dalam kondisi sadar. Para ‘arifin yang tenggelam dalam kefanaan ini dalam bahasa majaz disebut “ittihad”, dan dalam bahasa hakikat disebut “tauhid.” (misykat al-anwar).
Orang yang benar-benar mencapai maqom fana’ atau “wahdatul wujud”, akan merasakan bahwa dirinya sudah tidak ada. Juga tidak mengetahui bahwa dirinya sudah sampai maqom apa, maqom fana’kah? Atau maqom yang lainnya, seperti ‘Abid, Murid, ‘Arif. Dan juga ketika ketika menerima tajalliNya, apakah tajalli af’al, tajalli sifat, tajalli dzat. Dalam perjalanan ibadahnya semisal, shalat, puasa, dzikir, dan amal ibadah lainnya, tidak merasakan bahwa dirinya sudah melakukannya, yang melakukan adalah hanya Allah. Hal ini sebagaimana makna yang tersirat dalam kalimat “laa haula walaa quwwata illa billah.” Seperti mayit yang berada di tangan orang yang memandikannya.
Dan bahwa apa yang disebut sebagai kehilangan dirinya dalam Tuhan (fana’), yang dipandang sebagai tujuan para sufi, sesungguhnya adalah merupakan tahap awal dari perjalanan yang sesungguhnya. (Al-Ghazali)
Al Baqo’ (farqi).
Setelah melewati maqom jam’i atau maqom fana’ seseorang akan memasuki maqom farqi atau disebut juga maqom baqo’. Orang yang sudah mencapai maqom ini akan kembali normal. Apabila ia melihat Allah maka ia juga dapat melihat mahluk begitu juga sebaliknya, ketika ia melihat mahluk maka ia juga dapat menyaksikan “musyaahadah” Allah didalam hatinya.
Dalam maqom inilah orang-orang melihat Allah dengan mata hatinya “arbab al-bashaa’ir” ketika melihat sesuatu mereka menyaksikan Allah bersamanya. Sebagaimana yang telah dikatakan para ‘arifin, “tidak ada sesuatupun yang aku lihat, kecuali sebelumnya aku telah melihat Allah sebelumnya”, sebagaimana yang diisyaratkan dalam firmanNya:
سَنُرِيهِمۡ ءَايَـٰتِنَا فِى ٱلۡأَفَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِہِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ‌ۗ
“Kami akan memperlihatkan kapada mereka di ufuk-ufuk dan didalam jiwa mereka sendiri bahwa Allah itu haq.” {Q.S. Al-Fushilat : 53}
Lebih jelasnya untuk lebih mudah dimengerti, seperti kisah yang tersirat dalam hadits ifqi (para pembuat berita dusta) panjang yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. ketika beliau beliau tertinggal oleh rombongannya, hingga kemudian ditemukan oleh Sofwan bin Mu’athol yang sedang mencari sesuatu miliknya yang hilang, dalam keadaan sedang tertidur. Ketika Sofwan mengetahui bahwa orang yang tertidur itu adalah wanita istri Rosulullah saw. Ia menjadi kaget dan mengucap istirja’ (Inna Lillahi Wa inna ilahi roji’un). ‘Aisyah ra seketika terbangun ketika melihat lelaki itu dan segera menutupi wajahnya dengan cadarnya. Kemudian Sofwan merundukkan ontanya dan menyuruh ‘Aisyah ra. Menaikinya tanpa berkata sepatah katapun, hanya dengan isyarat. Setelah Sofwan melanjutkan perjalanannya dengan menuntun ontanya yang kini telah dinaiki ‘Aisyah ra. Hingga akhirnya dapat menyusul rombongan bala tentaranya.
Sejak saat itu kemudian tersebar berita dusta (gosip) yang dihembuskan oleh ahli fitnah, yang mula-mula dihembuskan oleh Abdullah bin Ubay bin Sawul, yang menuduh bahwa ‘Aisyah telah berbuat tidak terpuji. Hingga sesampainya tiba di Madinah, beliau jatuh sakit selama sebulan. Keadaannya menjadi makin tertekan ketika menyadari ada sedikit perubahan sikap Rosulullah, yang pada waktu itu juga sedang gelisah menunggu datangnya wahyu dari Allah yang berkaitan dengan masalah itu. Cerita tidak kami tulis secara detail disini. Singkat cerita, ‘Aisyah ra. Meminta kepada orang tuanya seraya berkata, “jawablah Rosulullah oleh kalian berdua!.” Akan tetapi kedua orang tuanya menjawab, “Demi Allah, kami tidak mengetahui apa yang akan kami katakan.” Mendengar itu, ‘Aisyah ra. Berkata, “Sesungguhnya aku, Demi Allah telah mengetahui bahwa engkau telah mendengar berita tersebut sehingga engkau terpengaruh olehnya dan mau mempercayainya. Seandainya saja aku katakan kepadamu bahwa aku tidak bersalah, sehingga engkau terpengaruh dan mau mempercayaiku. Dan seandainya aku mengaku padamu, bahwa aku telah melakukan suatu perkara, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku tidak bersalah, niscaya engkau (Nabi) percaya kepadaku. Demi Allah aku tidak menemukan suatu perumpamaan yang kukatakan kepada engkau kecuali sebagaimana ayah Yusuf ketika mengatakan:
فَصَبۡرٌ۬ جَمِيلٌ۬‌ۖ وَٱللَّهُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
“maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kalian ceritakan” (Q.S. Yusuf 18)
Kemudian ‘Aisyah ra. Beranjak dari tempatnya dan langsung merebahkan diri di peraduannya. Sejak saat itu Rosulullah tidak lagi menetapi majlisnya hingga turun kepada beliau firman Allah Q.S An-Nur : 11-21, yang menyatakan kesucian ‘Aisyah ra. Wahyu itu membuat Rosulullah sangat senang. Dengan muka berseri-seri beliau sehera menyampaikan kabar gembira itu kepada ‘Aisyah ra. Maka ‘Aisyah ra. segera ditegur ibunya, “berdirilah, dan berterimakasihlah kepada Rosulullah.” Dan ‘Aisyah ra. berkata, “Tidak. Demi Allah, aku tidak akan berterima kasih kepada selain Allah yang telah menurunkan wahyu tentang kebersihanku.” (ketika mengucap ini, ‘Aisyah ra. dalam kondisi fana’)
Kemudian Abu Bakar ra. menyuruh ‘Aisyah ra. untuk bersyukur kepada Rosulullah, karen dengan lantaran beliaulah wahyu itu diturunkan dan ditujukan kepada ‘Aisyah ra.
Dalam hadits tersebut terkandung makna, bahwa disaat ‘Aisyah ra. mengatakan, “Tidak, Demi Allah, aku tidak akan berterima kasih kepada selain Allah yang telah menurunkan wahyu tentang kebersihanku.” Beliau berada maqom fana’, karena diwaktu mendapat cobaan itu beliau hanya memohon kepada Allah, sampai akhirnya wushul kepada Allah dan beliau lihat hanya Allah semata, sedangkan Rosulullah yang hadir kala itu tidak tampak oleh beliau.
Lain halnya dengan Abu Bakar ra., disamping beliau melihat Allah, Rosulullah juga terlihat oleh beliau. Yang mana hal ini menandakan, bahwa Abu Bakar ra. telah berada dalam maqom baqo’. Dan hal itu sesuai dengan sabda Rosulullah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
من لم يشكر الناس لم يشكرالله
“Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia (makhluq), maka ia tidak bisa bersyukur kepada Allah ta’ala”
Orang yang telah mencapai maqom baqo’, adalah orang yang telah bisa mencapai maqom makrifat yang hakiki. Orang yang telah mencapai maqom baqo’, dan sebelumnya didahului kondisi fana’, disebutu dengan “firoq ba’dal jam’i”. sedangkan orang yang telah mencapai maqom baqo’ tanpa pernah sama sekali fana’, disebut “firoq qoblal jam’i”. pada yang disebutu terakhir, terkadang seseorang masih tergolong “ahlul hijab”. (Iqodhul Himam).
Orang yang berada pada maqom “firoq qoblal jam’i” , kebenaran ucapannya masih harus sesuai dan didasari Al-Qur’an, Al Hadits dan pendapat-pendapat para ulama’, karena perkataannya masih dimungkinkan salah dan benar. Dan perkataan orang yang berada pada maqom “firoq ba’dal jam’i, bisa dipastikan apa yang dikatakannya adalah benar. Karena apa yang mereka katakan adalah merupakan suatu pengalaman nyata melalui “dzauq”, seperti perumpaan api di awal tulisan ini.
Wallahu A’lamu Bishshowab.
Semoga Allah memberikan kepada kita semua istiqomah dan ikhlas dalam mengabdikan diri kepadaNya.

KEKERAMATAN BUKAN JAMINAN

 
 TIDAK SEMUA YANG TERZAHIR KEKERAMATANNYA ITU SEMPURNA PANGKAT KEWALIANNYA.

Orang yang kerohaniannya belum cukup mantap suka meninjau keadaan dirinya sendiri untuk melihat kalau-kalau terdapat tanda-tanda kekeramatan padanya. Kekeramatan yang dimaksudkan adalah kebolehan luar biasa yang tidak dapat dilakukan oleh orang ramai, misalnya berjalan di atas air, tidak basah ditimpa hujan, dalam sekelip mata boleh berada di Makkah, doa cepat makbul dan lain-lain. Jika dia melihat tanda-tanda yang seumpama itu ada pada dirinya dia merasakan telah berjaya dalam perjuangannya.
 Orang yang beranggapan begini kurang mengerti tujuan perkara luar biasa yang berlaku ke atas dirinya. Perkara seperti itu bukanlah peristiharan bahawa dia sudah cukup bersih dan sudah menjadi wali yang agung. Perkara seperti ini adalah alat untuknya mengenal kekuasaan Allah s.w.t yang tidak terikat pada hukum sebab akibat, tidak dikongkong oleh ikhtiar makhluk. Kekeramatan adalah pengenalan kepada sifat Berdiri Dengan Sendiri, Berkehendak dan Berkuasa melakukan apa sahaja tanpa ditekan oleh sesiapa dan tanpa disebabkan oleh sesuatu sebab. Allah s.w.t tidak ditakluki oleh sempadan sebab musabab. Sebab musabab mengongkong kekuasaan dan kekuatan makhluk tetapi tidak memberi bekas kepada kekuasaan dan kekuatan Allah s.w.t. Sebab musabab menjadi dinding yang tebal menghalang manusia dari melihat kepada kekuasaan dan keagungan Allah s.w.t. Jika seseorang ingin menghampiri Allah s.w.t dinding tersebut perlu dirobohkan. Dia tidak boleh bersandar kepada sebab musabab untuk mengeluarkan akibat. Sebab dan akibat tidak terjadi dengan sendirinya. Kudrat dan Iradat Allah s.w.t yang melahirkan sebab dan akibat juga.
 Sebab-sebab adalah utusan yang membawa perintah Allah s.w.t. Sungguh tidak wajar kiranya dalam menerima perintah perhatian hanya ditujukan kepada utusan tidak kepada Empunya perintah. Bagi menyedarkan hamba-hamba tentang keperkasaan Yang Empunya perintah, kadang-kadang dicabut kesan daripada sebab. Kesan membakar dicabut dari api apabila Nabi Ibrahim a.s memasukinya. Proses pembiakan dikejutkan apabila Nabi Isa a.s dilahirkan tanpa percampuran ibu dan bapa. Hukum alam semula jadi dirombak apabila Nabi Musa a.s membelah laut dengan tongkat beliau a.s dan Nabi Muhammad s.a.w mengeluarkan air dari jari-jari baginda s.a.w. Kejadian-kejadian yang seperti disebutkan itu menjadi ledakan yang kuat meruntuhkan benteng sebab-akibat agar para hamba dapat melihat dengan jelas akan Kudrat dan Iradat Allah s.w.t yang menguasai dan mengatur segala-galanya. Demikian juga peranan kekeramatan yang berlaku kepada orang-orang tertentu. Kekeramatan merupakan pendidikan kerohanian dalam mengenal Allah s.w.t agar hati meyakini sungguh-sungguh kepada Allah s.w.t sebagai Rab (Tuhan) sekalian alam. Orang yang padanya terzahir kekeramatan akan melihat dengan jelas akan ketuhanan Allah s.w.t yang menguasai sekalian alam dan dia dapat menghayati maksud:

Tiada daya dan upaya melainkan dengan Allah s.w.t.
 Tidak ada daya dan upaya melainkan apa yang didayakan dan diupayakan oleh Allah s.w.t. Kekeramatan menjadi pasak yang meneguhkan bangunan iman. Dia tidak lagi ragu-ragu terhadap jaminan Allah s.w.t.
 Kekeramatan yang mengangkat darjat seseorang boleh menjadi ujian yang menghalang perkembangan kerohanian orang lain. Orang yang terpesona melihat kekeramatan yang terzahir dari dirinya merasakan dirinya sudah berada pada kedudukan yang tinggi lagi mulia. Kekeramatan menambahkan rasa taasub kepada diri sendiri dan memperbesarkan keegoan dirinya. Ini menyebabkan proses penyucian hatinya terbantut. Kegagalannya melihat rahsia Kudrat dan Iradat Allah s.w.t menebalkan hijab dirinya dengan Allah s.w.t dan tidak bertambah kekuatan tauhidnya.
 Orang yang dirinya benar-benar suci bersih dapat menyelamatkan dirinya dari fitnah kekeramatan. Kekeramatan boleh terjadi pada dirinya  tetapi tidak mengalihkan pandangan mata hatinya daripada Allah s.w.t. Kekeramatan membuka pintu ghaib kepadanya untuk melihat rahsia kekuasaan Tuhan pada penciptaan dan aturan-Nya. Apa sahaja yang diciptakan Allah s.w.t dan ditadbir-Nya adalah luar biasa dan merupakan kekeramatan.
 Arasy adalah luar biasa dan semut juga luar biasa. Bintang dilangit adalah luar biasa dan kelip-kelip juga luar biasa. ‘Adam (yang tidak ada) tiba-tiba menjadi ada, sungguh luar biasa sekali kekuasaan Allah s.w.t. Seluruh alam maya ini adalah luahan kekeramatan yang luar biasa yang hanya Allah s.w.t sahaja  yang mampu berbuat demikian. Dia adalah Allah s.w.t, yang tidak ada Tuhan kecuali Dia!

WALI ALLAH TIDAK PERNAH TAKUT



Seperti dalam ayat,Allah Ta’ala ada berfirman dalam QS Yunus : 62,yang artinya:
“Ketahuilah olehmu bahwa para kekasih Allah itu tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pula ( mereka ) berdukacita
Di antara kehendak ayat ini, ialah :
  • Orang bertaqwa itu tidak takut dengan manusia dan kuasa manusia, kalau ia didatangkan ujian dari manusia tidak pula berdukacita
  • Orang mukmin tidak takut dengan kemiskinan, jika terjadi kemiskinan tidak pula berdukacita
  • Orang mukmin tidak takut dengan kesakitan, kalau terjadi tidak pula susah hatinya
  • Orang yang bertaqwa tidak bimbang dengan penghinaan dari manusia, kalau terjadi tidak pula sakit hatinya
  • Orang mukmin tidak takut dimurka oleh manusia, kalau terjadi tidak pula susah hati
  • Kekasih Tuhan itu tidak takut dan bimbang tentang rezekinya, kalau tidak ada redha hatinya
  • Orang mukmin itu tidak takut tidak dikasihi orang, kalau terjadi tidak pula cacat jiwanya
  • Wali Allah itu tidak bimbang kalau tidak ada harta,kalau hilang hartanya tidak pula jiwa derita
  • Orang mukmin tidak bimbang dengan takdir Tuhannya, kalau terjadi tidak pula bersedih hati
  • Wali Allah itu tidak takut meninggalkan dunia, harta benda dan sanak-saudaranya, dan tidak pula bersedih dengan kematiannya
Orang mukmin takut hanya dengan Tuhannya, dia berdukacita kalau terbuat dosa, dia takut kalau Tuhan tidak redha, dia susah hati kalau lalai dengan Tuhannya,dia bimbang kalau tercabut imannya, dia bersedih kalau cuai dengan ibadahnya.
Orang yang bertaqwa sentiasa saja dipimpin Allah. Karena memang mereka adalah kekasih-Nya. Sekali-sekala disusahkan-Nya untuk naik pangkat. Hati mereka tetap redha.Sekali-sekala dimewahkan kehidupannya, untuk dapat pahala syukur. Ya, dia tetap bersyukur. Dia tidak tersungkur jatuh oleh kemewahannya.
Adakalanya dia ditekan oleh musuh-musuhnya. Mungkin dizalimi, dengan berbagai-bagai caranya. Agar dia bertambah berpaut dengan Tuhannya. Supaya dia merasakan Tuhan dekat dengannya. Rasa kehambaannya bertambah-tambah menebal di jiwanya
Dia juga tidak lepas dari pujian dan cacian. Memang Allah lakukan demikian rupa. Agar dia merasa malu dengan Tuhan dari pujian. Rasa tidak layak menerimanya. Kerana itu milik Tuhan, bukan miliknya. Dengan cacian menyedarkan dirinya memanglah demikian. Hamba patut menerima kejian. Kerana hamba mempunyai kelemahan dan kesalahan. Dia berusaha membaiki dirinya. Sesiapa yang mencacinya dan menghinanya didoakannya. Moga-moga Allah ampunkan dosa-dosanya, dosa-dosa kita pun diampun. Rasa berdendam dan bertindak tidak dilakukannya. Kalaupun ada rasa hendak marah, dia boleh membendungnya
Begitulah orang yang bertaqwa. Dia sentiasa di dalam pimpinan Tuhan-Nya
[ Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi ]

MUJADDID

Terlalu banyak umat manusia di dunia dewasa ini sedang berhadapan dengan berbagai krisis yang sangat membahayakan kehidupan manusia : krisis politik, sosial, ekonomi, moral, pendidikan, kemanusiaan dan berbagai macam krisis lainnya. Terjadi perselisihan, penzaliman, pembunuhan dan peperangan yang menyebabkan pertumpahan darah. Masyarakat hidup mengikuti nafsunya masing-masing. Yang kaya menderita, susah hati dalam menjaga dan menambah kekayaannya, yang miskin tidak sabar, susah hati karena tak memiliki harta dan melihat si kaya dengan penuh cemburu. Pergolakan politik di kalangan elit tidak pernah berhenti laksana air laut yang senantiasa bergolak, saling jatuh-menjatuhkan perkara biasa, berebut jabatan mengorbankan nyawa, muda-mudi hidup berfoya-foya dan terlibat narkoba, maksiat di mana-mana, kriminalitas tidak berhenti, ibarat air sungai yang mengalir setiap waktu. Manusia hidup dalam kesusahan dan penderitaan. Jiwa-jiwa masyarakat tidak tenang, mereka bagai hidup dalam neraka dunia.
Krisis yang sangat membahayakan seperti yang dialami umat manusia sekarang ini pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia dan Al Qur’an memberikan contoh jalan keluarnya. Jalan penyelesaian untuk keluar dari krisis multidimensi yang sangat berbahaya bagi umat manusia di dunia dan akhirat ini adalah dengan kembali dan merujuk kepada Tuhan melalui ‘wakilNya’ di muka bumi. Di zaman ketika masih ada Nabi dan Rasul, manusia merujuk kepada para nabi dan Rasul utusan Tuhan. Ketika kenabian sudah ditutup dengan kedatangan Rasulullah SAW, manusia diminta bertanya kepada para ulama yang haq, ulama pewaris nabi. Untuk menyelamatkan umat islam, dengan rahmat dan kasih sayang Allah, setiap awal kurun, Allah kirimkan kepada umat Islam ini ulama besar yang bertaraf mujaddid (pembaharu). Rasulullah saw pernah bersabda :
Terjemahannya: “Sesungguhnya ALLAH akan mengutus pada umat ini (umat Rasulullah) setiap awal 100 tahun seorang mujaddid yang membaharui urusan agamanya.
Jadi berdasarkan hadis ini jelas di setiap awal kurun (100 tahun), ALLAH lahirkan seorang mujaddid. Mujaddid berasal dari perkataan jaddada yujaddidu, tajdidan, mujadidun, mujaddadun.
Jaddada : dia telah membaharui

yujadidu : dia sedang atau akan membaharui

tajdidan : pembaharuan

mujadidun :orang yang membawa pembaharuan
Mujaddid maknanya orang yang membawa pembaharuan. Mujaddid itu bahasa Arab, dalam bahasa Inggeris dikatakan “Reformer” : Pembaharu.
Mujaddid yang lahir di setiap awal kurun tugasnya adalah yujadidu, membaharui urusan agama. Apakan maksud memperbaharui urusan agama? Adakah dia membaharui isi Al Quran, atau isi Hadis atau isi Islam? Tidak. Ia tetap membawa Al Quran, Hadis dan akhlak Islam, isi yang lama yang pernah dibawa oleh Rasulullah SAW. Tetapi ia mendapat ilham dari Allah dan membawa satu penafsiran baru tentang Al Qur’an dan hadis. Penafsirannya yang bersumber dari ilham itulah yang paling tepat dan sesuai untuk diamalkan di zaman itu. Dia tidak hanya menafsirkannya tetapi juga mengamalkan tafsiran tersebut dalam diri, keluarga, jamaah dan perjuangannya. Dialah Al Qur’an dan hadis berjalan di kurun itu. Hasil dari keindahan Islam yang dibawa dan diperjuangkannya, banyak orang yang sangat fanatik dalam mencintai dan mengikutinya, tetapi tidak kurang juga yang sangat menentangnya, karena tidak faham atau hasad dengki dengannya.
Dia juga membawa style yang baru yang tidak pernah ditempuh oleh orang lain selama ini. Hingga Islam dapat diamalkan oleh masyarakat. Dengan kata-kata lain, agama yang lama sudah ditinggalkan itu dapat dihidupkan kembali oleh mujaddid tersebut dengan menggunakan methode, uslub, teknik, strategi dan kaedah baru yang sesuai dengan fikiran dan suasana zamannya.
Dalam ajaran Islam ini tujuan dan matlamat tidak boleh berubah tetapi methode dan uslub boleh berubah sesuai dengan fikiran manusia yang sentiasa berubah dan keadaan masa di zaman itu. Sebab itu sekiranya ada seorang pemimpin tetapi dia ikut style yang lama, walau bagaimana hebat sekalipun pimpinannya dia tidak dianggap sebagai mujaddid. Lebih-lebih lagi kalau lahirnya bukan di awal kurun.
Karena zaman dan situasi yang berbeda antara 1 mujaddid dengan mujaddid lain, maka style antara satu mujaddid dengan mujaddid yang lain juga tidak sama. Tekniknya berbeda tetapi perkara yang diperjuangkan adalah sama yaitu mengajak manusia kepada Allah SWT. Sebab itu jika kita mengkaji sejarah walaupun Islam tidak menjadi empayar tetapi di tangan mujaddid, Islam tetap hidup dan berkembang. Masih berlaku kesyumulan Islam dalam jemaah pimpinannya.
Jadi mujaddid itu tidak membawa agama yang baru, karena tidak ada Nabi dan Rasul selepas Rasulullah. Dia hanya membawa ajaran Rasulullah. Supaya ajaran Rasulullah itu diamalkan oleh masyarakat, maka dia meniti di atas teknik, methode, uslub, cara, kaedah, style dan strategi yang baru yang sesuai dengan kerusakan yang berlaku di zamannya. Sebab itu orang mudah menerimanya, sedangkan pejuang-pejuang lain di zamannya masih lagi mengekalkan style dan cara yang lama. Sebab itu masyarakat tidak dapat menerima mereka. Tetapi pejuang-pejuang yang tidak faham ini kadang-kadang menyalahkan masyarakat yang tidak mau menerima Islam. Padahal bukan masyarakat yang tidak mau Islam, tetapi kaedah mereka yang gagal untuk menarik minat orang kepada Islam. Tetapi kepada mujaddid, ALLAH membekalkan padanya melalui ilham satu cara, methode dan kaedah yang tersendiri. Sehingga hati-hati manusia dapat menerima kaedah perjuangannya.
Kedatangan Mujaddid Memperbaiki yang Rusak
Dengan kasih sayang Tuhan, selepas kewafatan Rasulullah SAW didatangkan setiap seratus tahun seorang mujadid. Kedatangan seorang mujadid yang membawa satu kaedah, cara teknik dan metoda baru yang sesuai di kurunnya, bertujuan untuk memperbaiki yang rusak di waktu itu. Metode itu hanya menyangkut perkara yang telah rusak saja. Supaya yang rusak itu dapat dibetulkan dengan menggunakan metode yang baru.
Ini berarti, semakin ke ujung semakin banyak yang rusak dan perlu dibaiki, makin banyaklah yang hilang, banyak yang rusak, banyak yang biasa wujud sudah tidak wujud lagi. Artinya mujadid yang datang makin ke ujung, makin berat tanggung jawabnya. Sebab makin ke ujung makin banyak perkara dalam agama Islam yang sudah rusak.
Kalau begitu, tugas mujadid pertama tidaklah seberat mujadid kedua. Tugas mujadid kedua tidak seberat mujadid ketiga. Juga tugas mujadid ketiga tidak seberat mujadid keempat. Tugas yang keempat tidak seberat yang kelima dan begitulah seterusnya.
Sebagai contoh, mujadid pertama ialah Sayidina Umar bin Abdul Aziz. Dia membawa pembaharuan hanya berkaitan dengan masalah negara saja. Dia tidak menyentuh soal ibadah, akhlak, masyarakat atau ekonomi. Sebab di zamannya semua aspek itu tidak rusak. Yang rusak ialah soal pemerintahan negara.
Begitu juga kedatangan mujadid kedua, Imam Syafei. Dia datang bukan untuk membetulkan masalah ibadah, akhlak, ekonomi, atau masyarakat. Dia menyelesaikan hal-hal mengenai ulama. Sebelum kedatangan Imam Syafei, ulama-ulama memberi fatwa tanpa ada kaedah atau cara. Pada masa itu, orang membuat hukum dan fatwa tidak mengikut prosedur. Maka Imam Syafei pun membuat kaedah. Lahirlah dua kaedah yaitu usul fiqh dan khawaidul fiqhiyah. Sampai sekarng ulama menerima dan memakai kaedah ini. Jadi Imam Syafei datang untuk menyelesaikan masalah ijtihad.
Di waktu kedatangan mujadid ketiga, Imam Abu Hassan Asyaari, yang rusak adalah aqidah. Sebab di waktu itu Islam sudah mulai meluas, falsafah Barat dan Yunani sudah meresap masuk ke dalam Islam. Jadi mujadid ini tidaklah menyentuh hal-hal ekonomi, akhlak dan ibadah, tetapi membetulkan aqidah yang sudah keliru. Sebab itu ada kaedah sifat 20 itu dalam ilmu tauhid dan usuludin.
Begitulah pula datang mujadid seterusnya, Imam Fakhrurrazi. Dia membuat kaedah bagaimana mentafsirkan Al Quran.
Kemudian, kerusakan semakin bertambah berat. Islam sudah terpecah-pecah. Ibadah sudah tidak ada hubungan dengan akhlak. Aqidah pula seolah-olah tersendiri. Datanglah mujadid seterusnya yaitu Imam Ghazali, membawa suatu kaedah untuk menggabungkan ketiga-tiga asas agama yaitu tauhid, fikih dan tasawuf. Dalam setiap amalan umat islam mesti terangkum tauhid, fikih dan tasawuf. Sebab ketiga-tiga asas tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Kalau begitu, makin ke ujung makin besarlah masalah umat Islam. Di kurun ini semua masalah sudah wujud. Sistem pemerintahan sudah rusak, masyarakat rusak, rakyat rusak, ibadah rusak, aqidah rusak, akhlak rusak, tauhid rusak, ekonomi rusak, politik rusak, dan macam-macam lagi yang sudah rusak. Artinya seluruh aspek kehidupan itu sudah tidak dikaitkan dengan Allah. Sebab itu kedatangan mujadid di kurun ini tentulah keadaannya lebih sulit lagi dan sangat menantang. Apabila hendak membetulkan semua perkara tadi, semua golongan yang terlibat dalam kerusakan itu yang mungkin belum paham akan menjadi penentang perjuangan dan kedatangan mujadid ini. Bila semua sudah rusak, artinya semua golongan yang terlibat akan tertantang dengan kedatangan mujadid kurun ini. Tetapi dengan ilmu ilham yang diberikan oleh Allah dan ketaqwaan yang dimiliki oleh mujaddid tersebut, Insya Allah ia akan sanggup membaiki kerusakan yang ada.
Siapakah dia ?

WANITA DI BOLEHKAN MINTA CERAI



Sesungguhnya tujuan utama dalam pernikahan adalah terbentuknya keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah seperti yang telah diterangkan Allah dalam al Quran Surat Ar Rum 21. Akan tetapi dalam beberapa kondisi dan keadaan, Islam juga telah memberikan solusi dan jalan bagi mereka yang tidak mampu menemukan kebahagiaan dalam berumah tangga dengan cara yang dihalal meskipun hal tersebut dibenci, yaitu cerai. Dalam istilah fiqihnya talak (khusus untuk pihak suami) dan khuluk (bagi sang istri)


Para ulama telah menyebutkan perkara-perkara yang membolehkan seorang wanita meminta khulu' (pisah) dari suaminya.

Diantara perkara-perkara
yang membolehkan sang istri untuk menggugat cerai tersebut adalah :

1. Apabila suami dengan sengaja dan jelas dalam perbuatan dan tingkah lakunya telah membenci istrinya, namun suami tersebut sengaja tidak mau menceraikan istrinya.

2. Perangai atau sikap seorang suami yang suka mendholimi istrinya, contohnya suami suka menghina istrinya, suka menganiaya, mencaci maki dengan perkataan yang kotor.

3. Seorang suami yang tidak menjalankan kewajiban agamanya, seperti contoh seorang suami yang gemar berbuat dosa, suka minum bir (khomr), suka berjudi, suka berzina (selingkuh), suka meninggalkan shalat, dan seterusnya

4. Seorang suami yang tidak melaksanakan hak ataupun kewajibannya terhadap sang istri. Seperti contoh sang suami tidak mau memberikan nafkah kepada istrinya, tidak mau membelikan kebutuhan (primer) istrinya seperti pakaian, makan dll padahal sang suami mampu untuk membelikannya.

5. Seorang suami yang tidak mampu menggauli istrinya dengan baik, seperti seorang suami yang cacat, tidak mampu memberikan nafkah batin (jimak), atau jika dia seorang yang berpoligami dia tidak adil terhadap istri-istrinya dalam mabit (jatah menginap), atau tidak mau, jarang, enggan untuk memenuhi hasrat seorang istri karena lebih suka kepada yang lainnya.
6. Hilangnya kabar tentang keberadaan sang sang suami, apakah sang suami sudah meninggal atau masih hidup, dan terputusnya kabar tersebut sudah berjalan selama beberapa tahun. Dalam salah satu riwayat dari Umar Radhiyallahu’anhu, kurang lebih 4 tahun.
 ما روي عن عمر رضي الله عنه ، أنه جاءته امرأة فقد زوجها ، فقال: تربصي أربع سنين ، ففعلت ، ثم أتته فقال : تربصي أربعة أشهر وعشراً ، ففعلت ، ثم أتته فقال : أين ولي هذا الرجل؟ فجاؤوا به ، فقال: طلقها ، ففعل ، فقال عمر: تزوجي من شئت . رواه الأثرم والجوزجاني والدارقطني 

Diriwayatkan dari Umar Ra bahwasanya telah datang seorang wanita kepadanya yang kehilangan kabar tentang keberadaan suaminya. Lantas Umar berkata: tunggulah selama empat tahun, dan wanita tersebut melakukannya. Kemudian datang lagi (setelah empat tahun). Umar berkata: tunggulah (masa idah) selama empat bulan sepuluh hari. Kemudian wanita tersebut melakukannya. Dan saat datang kembali, Umar berkata: siapakah wali dari lelaki (suami) perempuan ini? kemudian mereka mendatangkan wali tersebut dan Umar berkata: “ceraikanlah dia”, lalu diceraikannya. Lantas Umar berkata kepada wanita tersebut: “Menikahlah (lagi) dengan laki-laki yang kamu kehendaki”.

7. Jika sang istri membenci suaminya bukan karena akhlak yang buruk, dan juga bukan karena agama suami yang buruk. Akan tetapi sang istri tidak bisa mencintai sang suami karena kekurangan pada jasadnya, seperti cacat, atau suami yang buruk rupa. Dan sang wanita khawatir tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri sehingga tidak bisa menunaikan hak-hak suaminya dengan baik.
"Bahwasanya istri Tsaabit bin Qois mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, suamiku Tsaabit bin Qois tidaklah aku mencela akhlaknya dan tidak pula agamanya, akan tetapi aku takut berbuat kekufuran dalam Islam". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Apakah engkau (bersedia) mengembalikan kebunnya (yang ia berikan sebagai maharmu-pen)?". Maka ia berkata, "Iya". Rasulullah pun berkata kepada Tsaabit, "Terimalah kembali kebun tersebut dan ceraikanlah ia !" (HR Al-Bukhari no 5373)

 
Diberdayakan oleh Blogger.