Cari Blog Ini

KISAH NABI AYUB AS



Nabi Ayyub adalah putra Ish. Dengan demikian beliau masih masih saudara misan (sepupu) nabi Yusuf. la memiliki harta banyak. Tetapi nabi Ayyub tidak pernah sombong.

Nabi Ayyub adalah nabi terkaya sebab ia memiliki ternak yang sangat banyak, sawah amat luas. Ia juga dikaruniai anak yang banyak pula. Sehingga lengkaplah sudah kehidupan duniawinya.

Nabi Ayyub menyadari bahwa harta yang diberikan Allah kepadanya hanyalah suatu cobaan belaka. Untuk itu ia tidak segan-segan memberikan.sumbangan pada anak yatim dan keperluan agama. Karena sifat yang demikian itulah, akhirnya ia menjadi panutan kaumnya.

Nabi Ayyub lebih senang membantu para janda, orang miskin dari pada memberi hartanya untuk keperluan maksiat. Ia tidak pernah mengeluh sedikitpun jika cobaan datang bertubi-tubi. Begitu pula ketika mendapat kenikmatan ia tidak lupa mengucapkan syukur kepada Allah.

1. Nabi Ayyub Mendapat Cobaan
Karena kesabarannya dalam menghadapi segala persoalan, maka iblis jadi iri hati. la ingin mencoba kesabaran itu dan meminta izin pada Allah

Iblis yang dengki itu akhirnya dikabulkan Allah untuk menggoda Ayyub. Sebab Allah ingin menunjukkan padanya bahwa hambanya yang bernama Ayyub tidak pernah melupakan meskipun ia dalam keadaan sangat sulit. Tuhan ingin menunjukkan pada iblis bahwa Ayyub adalah utusan-Nya yang sangat sabar. Dan hendaknya iblis malu pada perbuatannya yang ingkar.

Mula-mula Allah menguji nabi Ayyub dengan dikikiskannya harta yang melimpah itu. Sedikit demi sedikit harta itu habis sehingga kehidupan nabi Ayyub menjadi miskin. Orang tidak akan mengira akan kekayaan nabi Ayyub yang bisa habis dalam waktu singkat.

Nabi Ayyub tidak pernah mengeluh sedikitpun tentang hartanya yang telah ludes. la tetap bertaqwa sebagaimana biasanya. Dengan ludesnya harta itu, ia memperoleh keringanan, sebab selama ini selalu merasa berdosa jika lalai memberi santunan pada anak yatim.

Tidak berapa lama setelah kejadian ttu, Allah mencoba lagi dengan dimatikannya semua anak nabi Ayyub. Sebab Iblis masih belum percaya dengan firman Allah yang menerangkan kesabaran nabi Ayyub.

Tiap hari anaknya menderita sakit, kemudian meninggal. Begitu seterusnya sampai semua anak-anaknya tidak ada lagi yang hidup. Bagi orang awam mungkin hal ini merupakan pukulan batin yang amat berat. Namun bagi nabi Ayyub hanya cobaan, dan untuk itulah ia tidak pernah meratapi kematian anak-anaknya. Nabi Ayyub beranggapan bahwa semua yang ada di muka bumi ini akan musnah. Begitu pula dengan kepergian anaknya. Mereka menghadap kembali pada Allah. Alangkah tabahnya nabi Ayyub dalam menghadapi cobaan yang tidak pernah berhenti itu. la tetap menjalankan ibadahnya seperti biasa. la tidak pernah mengeluh sedikitpun meskipun semua hartahya telah ludes dan anak-anaknya sudah tiada lagi.

Karena iblis belum puas dengan godaannya itu, maka ia meminta pada Allah agar memberi cobaan berupa penyakit yang menimpa nabi Ayyub. Penyakit itu berupa penyakit kulit seperti kudis dan termasuk penyakit yang berbahaya. Menurut sebuah riwayat Ibnu Katsir dalam tafsirnya ialah yang sakit adalah anggota tubuhnya, hanya akal dan pikirannya saja yang masih waras.

Meskipun ia mendapat cobaan yang beruntun dan tidak pernah ada habisnya nabi Ayyub tetap beribadah kepada Allah seperti biasanya. Hal ini membuat hati Iblis semakin dengki. la sudah mencoba dengan segala upaya untuk menggoda Ayyub agar tidak beribadah kepada Allah. Namun usahanya selalu sia-sia.

Karena bencana yang menimpa terus menerus, membuat semua sahabatnya tidak ada yang berani mendekatinya, bahkan mereka menjauhinya. Mereka menganggap jika masih berdekatan dan berhubungan dengan nabi Ayyub, maka semua usahanya akan sial. la menganggap nabi Ayyub kena tuah dari tuhan-tuhannya.

Meskipun semua sahabatnya tidak ada lagi yang datang menjenguknya dan bahkan ia mendengar akan ocehan-ocehan mereka tidak membuat sakit hatinya. la bahkan semakin taqwa kepada Allah, la yakin bahwa penyakitnya pasti terobati.Dan ia yakin bahwa semua itu adalah cobaan dari Allah.

Karena hartanya ludes dan ia sendiri tidak dapat mencari nafkah maka isterinya yang memegang peranan. Pada mulanya ia bekerja di pabrik roti. Namun hal itu tidak berlangsung lama sebab ia diberhentikan oleh majikannya. Pemberhentian ini dengan alasan takut ketularan penyakit yang diderita nabi Ayyub.

Karena setiap mendapat pekerjaan ia selalu diberhentikan, akhirnya untuk makan sudah tidak ada. Dengan tulus ia memotong rambutnya yang berurai untuk dijual pada tetangganya.

Walaupun nabi Ayyub dilanda cobaan yang begitu berat, ia selalu mendekatkan diri kepada Allah, la masih beribadah seperti sedia kala meskipun tidak dapat berdiri lagi. la hanya memohon kepada Allah agar diberikan kesembuhan.

Meskipun doanya belum dikabulkan oleh Allah, nabi Ayyub tidak pernah putus asa dalam beribadah. la malah mendekatkan dirinya dengan penuh kesungguhan hati. Semua yang dialaminya diterima dengan sabar.
Melihat nabi Ayyub masih beribadah dengan tidak mengurangi sedikitpun, iblis semakin marah. Semua upaya mulai dari ludesnya harta, matinya anak-anak Ayyub dan ia sendiri yang dicoba tidak membuahkan hasil. Hal ini semakin membuat iblis geram.

Dasar iblis, setelah semua usahanya untuk menggagalkan ibadah nabi Ayyub kepada Allah tidak menemui hasil, maka ia mencoba menggoda isterinya (isteri Ayyub).

la membisikkan kata-kata agar segera meninggalkan nabi Ayyub, sebab suaminya sudah tidak dapat mencari nafkah lagi. Semula isterinya masih mampu bertahan, namun bisikan iblis semakin kuat akhirnya ia meninggalkan juga. Kita sudah dapat membayangkan bagaimana penderitaan nabi Ayyub ketika itu. Sebab dirinya sudah sakit parah, ditinggalkan pula oleh isterinya.

Namun menurut beberapa riwayat, istrinya tidak meninggalkan nabi Ayyub. la hanya enggan disuruh suaminya. Maka ketika nabi Ayyub mengetahui bahwa istrinya sudah enggan kepadanya ia pun mengucapkan nadzar.

" Jika aku sembuh nanti niscaya akan kupukul seratus kali, "kata nabi Ayyub kepada istrinya dengan nada marah. Istri nabi Ayyub yang sudah tergoda oleh iblis tidak menghiraukan sama sekali. la langsung pergi pergi meninggalkan nabi Ayyub.

Ketika mengetahui istrinya tidak mau lagi melayani dan menungguinya maka ia memohon kepada Allah agar disembuhkan.

Firman Allah dalam surat Shood ayat 41 telah diterangkan mengenai penyakit yang diderita nabi Ayyub : 
Artinya: Ingatlah ketika Ayyub menyeru kepada Tuhannya : "Ya Tuhan ! Aku dapat penyakit dan cobaan dari syetan".

Nabi Ayyub berkata demikian karena setanlah yang meminta agar Allah mengujinya. Menguji ketaatan beribadahnya. Syetan tidak senang jika melihat orang yang selalu taat dengan ajaran agama.

Syetan punya pikiran bahwa jika nabi Ayyub menderita tentu ia akan durhaka kepada Allah. Allah pun memperlihatkan ketaatan nabi Ayyub kepada syetan.

2. Nabi Ayyub Sembuh Dari Penderitaannya
Selama bertahun-tahun nabi Ayyub menderita. Selama itu pula ia tidak pernah durhaka kepada Allah bahkan semakin meningkatkan ketakwaannya. Semua harta yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun lenyap begitu saja, kemudian anaknya mati dan ia sendiri sakit. Akhirnya istri yang setia meninggalkan pula. Sungguh lengkap penderitaan yang dialami nabi Ayyub.

Karena syetan sudah tidak mampu lagi menggoda nabi Ayyub ia tidak lagi mencobanya. Sebab semua upayanya untuk menaklukkan nabi Ayyub sia-sia belaka.

Setelah ia mengucapkan janji pada istrinya, nabi Ayyub pun berdoa agar disembuhkan dari penyakitnya. Doa itupun dikabulkan oleh Tuhan seperti yang tertera dalam Al Qur'an surat Al Anbiyaa' ayat 83 sampai 84 :
Artinya : Ingatlah kisah Ayyub AS. ketika berdoa kepada Tuhannya seraya berkata : "Ya Tuhanku ! Saya telah ditimpa kemelaratan dan Engkaulah yang lebih Pengasih dari segala yang pengasih". (Al Anbiyaa': 83)

Maka Kamipun memperkenankan seruannva itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai rakhmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Al Anbiyaa': 84)

Demikianlah nabi Ayyub memohon kesembuhannya pada Allah dan Allahpun mengabulkan doanya. Allah juga mengembalikan semua harta dan anak-anaknya, bahkan lebih dari sedia kala.

Dalam surat Shood ayat 42 sampai 43 juga telah diterangkan mengenai kesembuhannya. Ayat-ayat tersebut mempunyai arti sebagaimana berikut:

Allah SWT berfirman kepada nabi Ayyub: Rentangkanlah kakimu di atas tanah, niscaya terbit mata air di sana, itulah air mandi yang sejuk dan minumlah. Lalu sembuhlah penyakitnya.

Kami anugerahi ia famili yang berlipat ganda dari yang terdahulu, sebagaimana rahmat dari pada Kami dan peringatan bagi orang-orang yang berakal. (Shood: 42-43)

Setelah mendengar firman itu, maka ia lakukan sebagaimana yang telah difirmankan Allah kepadanya. Ia pun berusaha merangkak. Kemudian ia menjejakkan kakinya ke tanah dan memancarlah air dari bekas injakkannya.

Kemudian nabi Ayyub mandi dan minum dari air tersebut. sehingga sembuhlah dari penyakitnya. Tidak lama kemudian ia mencari isterinya untuk membayar janji yang telah diucapkan sewaktu sakit

3. Nabi Ayyub Membayar Nadzar
Begitu ia sembuh dari penyakitnya, maka yang perlu dilakukannya pertama kali adalah membayar janji pada istrinya ketika masih sakit. la mencari istrinya, setelah ketemu ia hendak memukulnya seratus kali. Namun belum sampai terlaksana, ia mendapat pelajaran dari Allah

Teguran itu sudah diterangkan dalam Al Qur'an surat Shod ayat 44 :  
Artinya : Ambillah sekerat kayu dengan tanganmu sendiri, lalu pukullah istrimu satu kali, maka Engkau tiada melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami mendapat Ayyub itu orang yang sabar. Dia sebaik-baik hamba yang banyak bertobat kepada Allah (Shod : 44)

Kemudian nabi Ayyub mengambil seratus batang rumput dan diikatkan menjadi satu. Lalu ia pukulkan ke istrinya hanya sekali saja. Kemudian istrinya menjelaskan sebab-sebab ia tidak mau melayani dan menunggui suaminya ketika sakit. Semua itu adalah ulah dari syetan yang telah menggodanya.

4. Kenabian Ayyub AS.
Kenabian Ayyub ini telah diterangkan dalam Al Qur'an surat An Nisa' ayat 163 : 
Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagai-mana Kami telah memberikan Wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi kemudian. Dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'kub dan anak cucunya, Isa, Ayyub. (An Nisa’: 163)

Ayat itu tujuannya untuk memberikan nabi Muhammad bahwa sebelum pengangkatannya menjadi Nabi, Allah telah mengangkat beberapa orang nabi.

KISAH NABI ADAM AS

Kisah, Cerita, dan Sejarah Nabi Adam AS - Nabi Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah. Dari Adamlah sehingga bumi sekarang ini dipenuhi jutaan manusia dari berbagai suku bangsa. Namun sebelum Allah menciptakan Adam terlebih dahulu Allah menciptakan langit, bumi dan isinya.

Dalam penciptaannya, Allah memerlukan waktu kurang lebih enam masa. Masa disini tidak dapat diartikan dengan ukuran kita. Semua itu hanya Allah yang mengetahuinya. Namun menurut berapa riwayat bahwa penciptaan bumi, Iangit dan isinya ini hanya enam hari.

Bila riwayat tersebut benar, maka alangkah singkatnya Allah menciptakan bumi dan isinya. Kita harus meyakini bahwa Allah Maha Agung dan Maha Besar. Sehingga tidak mustahil jika apa yang dikehendaki dapat terjadi. Kita dapat membayangkan betapa luasnya bumi dan betapa tingginya jarak dengan langit. Semua itu hanya enam hari dalam penciptaannya.

Untuk itu hendaknya kita merasa kecil jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah. Kita akan berdosa jika tidak mengakui ke-Agungan Allah, kita hidup ini juga dihidupkan oleh Allah.

1. Allah Menciptakan Bumi

Sudah dijelaskan di atas bahwa sebelum Adam diciptakan terlebih dahulu Allah menciptakan langit, bumi dan isinya. Dan Allah juga telah menciptakan Malaikat serta Iblis. Diterangkan pula bagaimana dan berapa lama Allah menciptakan bumi yang luas ini.

Dalam Al Qur'an surat Yasin ayat 82 telah diterangkan bagaimana ke-Agungan Allah, surat itu yang
Artinya : "Sesungguhnya keadaannya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah (cukup) mengatakan "jadilah" maka terjadilah". ( Yasin : 82)

Begitu pula dengan penciptaan bumi. Tuhan hanya mengatakan "KUN" artinya jadilah, maka jadilah bumi ini. Allah tidak kesulitan dalam segaia hal.

Dalam surat lain yaitu Al A'rof ayat 54 Allah juga menerangkan tentang tamanya (singkatnya) penciptaan bumi, langit dan isinya. Ayat itu menunjukkan kebesaran Allah.

"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menjadikan langit dan bumi dalam enam masa". (Al A 'rof: 54).

Allah juga melengkapi bumi ini dengan poros yang lazim disebut gravitasi bumi. Dengan adanya gaya gravitasi ini maka bumi tidak bertabrakan dengan planet lainnya, Gravitasi ini dapat menahan bumi sehingga tetap berada ditempatnya sampai batas waktu yang ditentukan Allah. Jika gravitasi tersebut sudah pudar maka bumi akan bertabrakan dengan planet lainnya sehingga terjadilah kiamat besar. Mengenai kiamat ini kita sebagai manusia biasa tidak mengetahuinya. Nabi pun tidak mengetahui kapan terjadinya begitu pula dengan malaikat dan iblis.

Kita kembali pada masalah pembuatan bumi. Bumi ini diciptakan Allah hanya memakan waktu enam masa. Enam masa jika diukur dengan waktu manusia berarti 6.000 tahun. Sebab satu masa bagi Allah sama dengan seritu tahun menurut perhitungan manusia

Mengenai ukuran Allah dengan ukuran manusia sudah diterangkan dalam Al Qur'an surat Al Hajj ayat 47 yang artinya :

"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan. Padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari bagi (disisi) Tuhanmu adalah seribu tahun menurut perhitunganmu". (Al-Hajj: 47)

2. Allah Menciptakan Nabi Adam

Setelah bumi dan langit sudah tercipta. maka Allah menciptakan makhluk dari cahaya. Makhluk ini tidak berjenis kelamin. Makhluk ini juga sangat patuh pada Allah, dialah malaikat. Karena tidak berjenis kelamin, maka malaikat tidak memiliki nafsu birahi.

Malaikat yang wajib kita ketahui dan kita imani ada sepuluh jumlahnya. Dari sekian banyaknya malaikat, mereka mempunyai tugas sendiri-sendiri. Malaikat merupakan makhluk Tuhan yang patuh dan setia pada Allah sebab apa yang diperintahkan-Nya selalu dijalankan.

Karena malaikat diciptakan dari cahaya (Nur), maka perjalanannya laksana kilat. Tidak dapat dilihat dengan mata kepala manusia kecuali mendapat perintah Allah untuk menampakkan dirinya.

Disamping itu, Allah juga menciptakan iblis dari api. Sehingga bisa dibayangkan bagaimana kalau kita sedang emosi dan marah tentulah badan terasa panas. Untuk itu jika kita sedang marah berarti iblis sudah bersarang dalam raga. Untuk memadamkan api ialah air. Sebaiknya jika kita marah segera berwudlu agar api yang ada di dalam raga tidak menjalar ke seluruh tubuh.

Mengenai penciptaan malaikat dan jin sudah diabadikan dalam Al Qur'an surat Al Hijr ayat 27 yaitu :
Artinya : "Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dan api yang sangat panas". (Al Hijr: 27)

Jin ini pada dasarnya ada yang beriman dan ada pula yang ingkar seperti layaknya manusia. Jin (Iblis) juga tidak mati seperti manusia sebab telah direstui oleh Allah sehingga sampai kiamat tiba. Iblis yang ingkar kepada Allah selalu berusaha untuk mengajak umat manusia ke jalan kemungkaran. Sebab ia tidak sudi jika melihat anak cucu Adam berbuat kebaikan. Dan ini telah menjadi sumpahnya.

Setelah Allah menciptakan kedua makhluk seperti di atas maka Allah menciptakan manusia. Manusia itu diciptakan dari tanah liat dan merupakan cikal bakal nenek moyang manusia. Dialah Adam.

Mulanya Allah membentuk tanah sedemikian rupa sehingga menyerupai manusia kemudian diberi roh dan mengatakan "KUN". Maka jadilah Adam. Kemudian Adam diberi pengetahuan oleh Allah mengenai benda-benda yang ada di bumi. Dan hal ini tidak diberikan pada malaikat dan iblis. Sehingga Adam saja yang memiliki pengetahuan itu.

Setelah itu Adam dihadapkan pada malaikat. Allah menanyakan benda-benda yang telah dikenal Adam pada malaikat. Namun tidak ada satu malaikatpun yang dapat menjawab pertanyaan Allah. Sehingga mereka berkata sambil bersujud :

" Maha suci Engkau ya Allah, kami tidak mengetahuinya melainkan yang sudah Allah ajarkan". (Al Baqarah ; 32)

Nyatalah, bahwa nabi Adam tebih tinggi derajatnya dibanding malaikat. Sebab dengan kecerdasannya ia dapat menjawab semua benda yang ditanyakan Allah. Kemudian Allah menyuruh pada malaikat bersujud dihadapan nabi Adam dan memulyakan nama Allah. Maka malaikatpun melakukan perintah-Nya.

Setelah itu nabi Adam dihadapkan pada iblis. Allah juga menanyakan benda-benda seperti pertanyaan-Nya pada malaikat. Iblis pun tidak dapat menjawab. Dan setelah ditanyakan kepada

nabi Adam, maka dijawabnya semua benda-benda itu.

Nyatalah sudah bahwa nabi Adam lebih tinggi derajatnya dari iblis. Namun tidak mau mengaku kekalahannya. Ketika ia disuruh bersujud dihadapan nabi Adam dan memulyakan nama Allah, mereka justru menolaknya. Sebab mereka beralasan bahwa derajatnya lebih tinggi dari nabi Adam, sebab diciptakan dari api sedangkan nabi Adam diciptakan dari tanah.

Mengetahui hal seperti itu, maka Allah pun menanyakannya pada iblis seperti yang tertera dalam Al Qur'an surat Al A'rof ayat 12:  
Artinya : "Allah berfirman : Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu ?".

Dalam ayat itupun dijelaskan mengenai perkataannya sebagai jawaban kepada Allah :

" Saya lebih baik dari padanya. Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah". (Al A'rof: 12)

Dengan demikian iblis merupakan makhluk yang membangkang atas perintah Allah. Oleh karena itu, ia dikeluarkan dari syurga. Dan ia termasuk makhluk yang dilaknat Allah.

3. Keluarnya Iblis dari Syurga dan Adam Penghuninya

Setelah iblis membangkang pada Allah, karena ia tidak mau bersujud dihadapan nabi Adam dan memulyakan nama Allah, maka ia dikeluarkan dari Syurga. Karena syurga tidak patut dihuni makhluk yang membangkang pada Allah. Syurga adalah tempat bagi orang-orang yang menjauhi larangan Allah dan berbuat kebajikan untuk jalan Allah .
Mengenai pengusiran iblis dari Syurga sudah diabadikan dalam Al Qur'an surat Al A'rof ayat 13 yang artinya : " Allah berfirman : Turunlah kamu dari Syurga itu, karena kamu tidak patut (sepantasnya) menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasukorang-orang yang hina". (Al A'rof: 13)
 
Kemudian Adam menempati syurga yang penuh dengan kenikmatan. Di dalamnya ia tidak bersusah payah jika menginginkan sesuatu. Sebab segalanya sudah tersedia begitu di dasar hatinya ingin sesuatu. Meskipun demikian ia mendapat pesan dari Allah agar tidak mendekati pohon larangan. Pohon itu ialah Khuldi. Ketika masih sendiri di syurga semua larangan-Nya dihindari sebab tidak ada yang mengajaknya ke sana dan selalu beriman pada Allah.

4. Iblis Menjadi Musuh Manusia
Setelah merasakan nikmatnya hidup di syurga, maka ketika Allah mengusirnya ia terkejut dan meminta pada Allah agar dipanjangkan umurnya hingga kiamat tiba. Permintaan iblis ini dikabulkan oleh Allah. Dan iblispun bersumpah akan selalu menggoda Adam dan anak cucunya sampai hari kiamat. Selain itu iblis juga akan mengajaknya ke neraka, Hal ini telah diabadikan dalam Al Qur'an surat Al A'rof ayat 14 yang berbunyi :
Artinya: " Iblis menjawab : Beri saya kesempatan sampai waktu mereka dibangkitkan". (Al A'rof: 14)

Kemudian Allah menjawab seperti yang ada dalam Al Qur'an surat Al A'rof ayat 15 yang artinya :

"Allah berfirman : Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi kesempatan", (Al A'rof: 15)
 
Selain itu iblis pun minta izin kepada Allah agar selalu menghalang-halangi anak cucu Adam yang hendak berbuat kebajikan. Iblis akan senang jika melihat anak cucu Adam berbuat kemungkaran dan kerusakan di muka bumi.

Dalam hal ini telah diterangkan dalam Al Qur'an surat Al A'rof ayat 16 yang artinya :

" Karena Engkau telah menghukum saya tersesat maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus". (Al A'rof: 16)
 
Oleh sebab itulah saat ini banyak manusia yang berbuat kemaksiatan, kemungkaran dan kerusakan dimuka bumi karena termakan bujukan iblis. Sebab hanya dengan cara itulah iblis memperoleh kawan di neraka jahanam kelak.

5. Ibu Hawa Sebagai Istri Adam
Setelah iblis keluar dari syurga maka Adampun tidak ada temannya. Melihat hal ini Allah menciptakan makhluk dengan bentuk yang sama seperti nabi Adam namun perempuan.

Tentang asal mula ibu Hawa ini telah diterangkan Allah dalam surat An Nisaa' ayat 1, yaitu :
  Artinya:
" Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu". (An Nisaa': 1)
 
Terciptanya ibu Hawa tidak diketahui oleh nabi Adam sebab ia dalam keadaan tidur. Sehingga Allah mengambil tulang rusuknya sebelah kiri dan menggantinya dengan daging dan diberi roh.

Setelah nabi Adam terbangun dari tidurnya ia merasa heran sekaligus kagum melihat ada makhluk disisinya.

"Siapakah engkau sebenarnya yang telah berada disisiku ?" tanya Adam.

"Aku adalah makhluk sepertimu yang telah diciptakan oleh Allah"Jawab Ibu Hawa.

Begitu mendengar kata-kata yang terucap dari mulut ibu Hawa dan menyebut nama Allah, nabi Adam bersimpuh sambil berkata: "Maha suci Engkau ya Allah !"

Setelah itu ia menoleh lagi pada ibu Hawa sambil bertanya : "Wahai makhluk seperti daku, apakah tugasmu disisiku. Kemudian ibu Hawa menjawab dengan kemantapan hati sebab dibimbing oleh Allah." Aku diperintahkan oleh Allah untuk menemani dirimu dalam kesepian. Dari akulah kelak kuturunkan umat manusia yang banyak. Dari akulah sehingga bumi terisi oleh manusia".

Setelah mengetahui maksud kedatangan ibu Hawa, rnaka keduanya bersujud kehadapan Allah untuk memanjatkan puji syukurnya. Sehabis bersujud datanglah malaikat ke tempat mereka. "Ya Adam, siapakah makhluk yang satu ini ?" tanya malaikat. "Dia adalah makhluk seperti aku. la diutus oleh Allah untuk menemani diriku baik dalam suka, duka dan kesepian,"jawab Adam

Setelah mendengar penjelasan dari nabi Adam serta merta para malaikat bersujud dan mengucapkan,"Maha Suci Engkau ya Allah yang telah menjadikan dan menciptakan teman Adam dari tulang rusuknya".
Mulai saat itu ibu Hawa menjadi pendamping setia nabi Adam di syurga. Kehidupan mereka sangat tenteram, aman sebab semua yang diminta sudah tersedia. Melihat kejadian seperti itu iblis tidak senang. Dengan berbagai upaya ia mencoba membujuk Adam dan Hawa agar keluar dari syurga.

Meskipun demikian Adam dan Hawa tidak tergoda sedikit pun karena sudah diberitahu Allah agar tidak mendekati pohon Khuldi. Namun iblis tetap menggoda dan mengajak Adam dan Hawa untuk mendekati pohon itu. Hal ini disampaikan dari muka, belakang, samping kiri dan samping kanan.

6. Syurga Sebagai Tempat Tinggal Adam dan Hawa
Setelah iblis mendapat murka dari Allah, maka penghuni syurga adalah Adam. Di dalam syurga ia seorang diri, untuk itu Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuknya. Dengan demikian ia sudah mendapatkan teman sekaligus sebagai istri.

Di dalam syurga mereka tidak kekurangan suatu apapun, sebab semua yang diinginkannya sudah tersedia. Buah-buahan yang ada di dalamnya beraneka ragam. Kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan dunia.

Meskipun demikian Allah berpesan kepada mereka agar tidak mendekati pohon Khuldi, apalagi memakan buahnya.

Disela-sela pembicaraan Adam dengan Allah tentang larangan-Nya memakan buah Khuldi didengarkan iblis. Dengan bermodalkan buah Khuldi iblis membujuk Adam dan Hawa untuk memakannya. Adam dan Hawa juga belum mengetahui sebab-sebabnya mengapa mereka dilarang mendekati dan memakan buah khuldi.

Berbagai rayuan yang dihembuskan iblis kepada mereka tidak dapat membujuknya. Sebab Allah sudah berpesan kepada mereka. Hal ini disebabkan oleh sayangnya Allah kepada mereka agar selalu menempati syurga yang serba nikmat, serba ada dan lain sebagainya.

Firman Allah kepada mereka :
Artinya:
" Dan Allah berfirman: Hai Adam, tinggaiah kamu dengan istrimu di dalam syurga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadi kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim". (Al A'rof: 19)
 
Dari firman Allah itu kita dapat menarik kesimpulan bahwa Adam dan Hawa diperkenankan menghuni syurga. Meskipun demikian mereka tidak diperbolehkan mendekati pohon yang satu, yaitu pohon khuldi.

Meskipun begitu iblis tetap mendatangi mereka berdua karena dendamnya belum terbalaskan. Iblis menganggap karena Adam lah sehingga ia dikeluarkan dari syurga. Ia pun mengajak dan mencoba menyeret nabi Adam dan ibu Hawa keluar dari syurga. Dengan demikian iblis akan mendapatkan teman di luar syurga.

Namun iblis tidak senang melihat Adam dan Hawa berada di dalam syurga. Sehingga ia tidak putus asa dan tetap mencari daya upaya agar keduanya bisa dikeluarkan dari syurga. Berulang kali iblis datang sambil bersumpah.

"Hai Adam, maukah kamu berdua ketunjukkan buah yang sangat nikmat jika dibandingkan buah yang telah engkau makan, "bujuk iblis sambil menenteng buah khuldi.

"Kami berdua tidak ingin memakan buah yang kau bawa itu hai iblis, sebab kami telah dilarang memakannya, "jawab Adam dan Hawa.

"Tetapi buah ini nikmatnya tiada duanya, kalau engkau tidak percaya cobalah sedikit saja. Tentu kau akan mencarinya lagi setelah mencicipi buah ini, "bujuk iblis.

Iblis berkata demikian sambil memakan buah itu sedikit demi sedikit dihadapan Adam dan Hawa. Saking nikmatnya sampai ia memejamkan matanya. Hal ini membuat hati Adam dan Hawa tergiur untuk merasakannya juga. Namun di dalam hatinya ia masih ingat pesan Allah kepada mereka.

"Hai iblis janganlah kamu mencoba membujukku dengan caramu itu. Sebab aku tahu sebenarnya kamu hanya berpura-pura saja, "kata Adam.

Kemudian iblis bersumpah karena semua jalan untuk membujuknya tidak menggoyahkan hati Adam dan Hawa. Bujukan yang terakhir ini dapat dikutip di dalam Al Qur'an surat Al A'rof ayat 20 :
Artinya:
" Tuhan kamu tidak melarangmu untuk mendekati pohon ini. Melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau menjadi orang-orang yang kekal (dalam syurga)".
 
Setelah mendengar perkataan iblis seperti di atas hati keduanya agak tergiur juga. iblis yang tahu gelagat menambah perkataannya seperti pada surat Al A'rot ayat 21 yang berbunyi:  
Artinya:
" Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kamu berdua". (Al A'rof: 21)
 
Demi mendengar sumpah iblis yang seakan-akan mendapat tugas dari Allah untuk menasehati, maka Adam dan Hawa merasai buah khuldi. Setelah menelan rasanya, barulah mereka sadar bahwa mereka telah tertipu oleh iblis. Dengan senang iblis pun bersorak sambil mengejek nabi Adam dan ibu Hawa sebab bujukannya telah berhasil.

"Hai Adam dan Hawa sesungguhnya aku tidak pernah diberi tugas oleh Allah untuk menasehatimu. Kini terbalaskan sudah dendamku kepadamu, "kata iblis kegirangan.

Setelah mengetahui bahwa dirinya telah ditipu iblis, akhirnya mereka menyesali perbuatannya. Tidak berapa lama kemudian tubuh mereka telanjang bulat sehingga tampaklah aurat-aurat mereka. Dengan serta merta mereka mengambil daun-daun surga untuk menutupi auratnya.
Di saat mereka asyik menutupi auratnya, mereka dapat teguran dari Allah. Teguran ini dapat dikutip pada surat Al A'rof ayat 22 :
Artinya: "........ Kemudian Allah menyeru pada mereka : Bukankah Aku telah melarangmu berdua dari pohon kayu itu, dan Aku katakan kepadamu sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua".
 
Setelah mendapat teguran dari Allah, maka keduanya bersimpuh dan menangis untuk menyatakan rasa sesalnya kehadapan Allah. Penyesalan ini dapat dilihat pada Al Qur'an surat Al A'rof ayat 23 yang berbunyi:
Artinya:
" Keduanya berkata : Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi Rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi". (Al A'rot: 23)
 
Allah mempunyai sifat pengasih dan penyayang. Setelah keduanya menyesali perbuatannya maka Allah pun mengampuni mereka. Meskipun demikian keduanya tetap mendapat pesan dari-Nya. Pesan ini berupa teguran dan kemurkaan-Nya. Mengenai pesan ini dapat dikutip pada Al Qur'an surat Al A'rof ayat 24 yang berbunyi:
Artinya : "Allah berfirman: Turunlah kalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan".
 
Setelah Allah berkata demikian berarti Adam dan Hawa tidak menghuni syurga lagi, melainkan pindah di muka bumi. Dengan demikian Adam dan Hawa keluar dari dalam syurga yang serba nikmat dan serba ada.

7. Keadaan Adam dan Hawa Setelah Diturunkan ke Bumi
Setelah keduanya dikeluarkan dari syurga, mereka lalu mencari penghidupan yang sengsara jika dibandingkan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri karena termakan bujukan iblis.

Jika di syurga segala yang dikehendaki sudah tersedia, maka di bumi tidak lagi. Untuk memenuhi kebutuhannya mereka harus mencarinya. Dengan jalan itu barulah keinginannya terpenuhi. Jika ia ingin buah-buahan maka mereka memetiknya terlebih dahulu.

Meskipun demikian mereka tidak henti-hentinya bertaubat minta pengampunan pada Allah. Di samping bertaubat mereka juga berusaha bercocok tanam, mengembangkan peternakan dan mulai mengatur lingkungannya.

Setelah berapa lama mereka hidup berdua, akhirnya Tuhan mengaruniai anak. Anak yang dilahirkan ibu Hawa selalu kembar. Begitu pula pada kelahiran pertama. Seorang laki-laki dan yang lainnya perempuan. Anak laki-laki diberi nama Qobil dan yang perempuan iklima. Iklima mempunyai paras yang cantik, begitu pula paras Qobil yang tampan.

Tidak berapa lama kemudian ibu Hawa melahirkan kembar lagi. Kali ini juga laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki diberi nama Habil dan yang perempuan diberi nama Labuda. Jika dibandingkan dengan saudara tuanya, kedua anak itu memiliki paras yang tidak cantik dan tidak tampan.

8. Kisah Pembunuhan Pertama di Muka Bumi
Adam sebagai orang tua dari keempat anaknya mengajari bercocok tanam dan beternak. Dengan demikian mereka dapat mencart nafkah sendiri setelah usianya menginjak dewasa.

Qobil yang dilahirkan pertama mempunyai sifat dan perangai buruk sedangkan Habil malah sebaliknya. Qobil selalu iri jika melihat Habil berhasil dalam segi pertanian dan peternakan. Sifat ini adalah jalan masuk bagi iblis.

Ketika dua saudara itu beranjak dewasa, maka Adam berniat mengawinkan mereka. Perkawinan itu tidak dapat ditentukan oleh Adam. Untuk itu beliau meminta petunjuk Allah.

Menurut peraturan Allah Qobil dikawinkan dengan Labuda, sedangkan Habil dengan Iklima. Artinya Qobil dikawinkan dengan saudara kembar Habil. Demikian pula sebaliknya. Setelah mendapat petunjuk dari Allah, maka Adam pun mengatakannya kepada anak-anaknya.

Mendengar keterangan ayahnya, Qobil tidak mau menerima kenyataan. Sebab calon istrinya yaitu Labuda mempunyai paras jelek. Maksudnya ia harus dikawinkan dengan Iklima saudara kembarnya. Mengapa demikian ? Karena Iklima memiliki paras yang cantik.

Qobil yang memiliki perangai jahat tetap bersikap keras tidak mau menerima peraturan Allah yang diturunkan kepada ayahnya. Sehingga timbullah percekcokan dengan Habil.

"Hai Qobil, peraturan ini bukanlah ayah yang membuat, namun Allah yang membuatnya, "kata Adam dengan lemah lembut. Meskipun demikian Qobil tidak mau mendengarkan karena di dasar hatinya telah ada bisikan iblis.

"Meskipun demikian saya tidak mau kawin dengan Labuda yang jelek itu, ayah, "jawab Qobil sambil bersungut-sungut.

Karena Qobil tetap bersikeras pada pendiriannya, maka Adam pun meminta petunjuk Allah guna mengatasi masalah itu. Kemudian Allah berfirman agar kedua saudara yang berebut Iklima mempersembahkan qurban. Tujuan mengadakan qurban ialah untuk menentukan siapa yang akan dikawinkan dengan Iklima.

Setelah mendapat petunjuk dari Allah, Adam pun berkata kepada anaknya.

"Qobil dan Habil, karena kalian masih memperebutkan Iklima maka Allah meminta qurban dari kalian, "kata Nabi Adam kepada anaknya.

"Di mana kami menaruh qurban itu, ayah, "tanya Qobil. "Allah telah menentukan dipuncak gunung, "jawab Adam.

"Bagaimana tandanya bahwa qurban yang diterima itu, "tanya Qobil dan Habil.

"Qurban yang diterima oleh Allah ialah habisnya barang persembahan."

"Barang apa saja yang bisa dijadikan qurban ?, "tanya kedua anak itu.

"Barang yang bisa dijadikan qurban ialah hewan ternak dan hasil pertanianmu, "jawab Adam tegas.

"Hendaknya barang yang dipersembahkan untuk qurban jika hasil peternakan yang gemuk dan dari pertanian yang masih baik," tambah nabi Adam.

Karena Qobil mempunyai perilaku yang buruk, maka ia tidak mau menuruti perintah ayahnya. Untuk itu dipilihnya hewan ternak yang kurus dan buah-buahan yang sudah rusak, karena ia mempunyai pikiran bahwa untuk mendapatkan hewan gemuk dan buah yang baik harus mengeluarkan tenaga. Mengapa untuk persembahan qurban harus yang gemuk dan baik.

Jika Qobil mempunyai perilaku buruk, maka lain lagi dengan Habil. la mempersembahkan hewan gemuk dan buah yang baik. Hal ini disebabkan oleh pikirannya yang bersih. la yakin bahwa hewan ternaknya menjadi banyak dan buahnya bertambah lebat karena Allah. Sehingga ia mengorbankan miliknya dengan rela. Tibalah hari yang dinantikan kedua anak Adam. Keesokan harinya mereka naik ke puncak gunung yang telah ditunjuk nabi Adam dengan membawa barang qurban. Setelah mereka menaruh di tempat yang paling tinggi dan batas tertentu barulah pulang.

Malam hari kedua anak itu tidak bisa tidur. Qobil memikirkan dan berharap agar qurbannya diterima. Sedangkan Habil berdoa dengan tulus.

"Ya Allah Maha mengetahui. Aku bersujud dan meminta pada-Mu agar kiranya qurbanku Kau terima. Hanya Engkau tempat aku meminta," Doa Habil di tengah malam. la berdoa dengan segenap jiwa raganya. Tanpa dirasakan jatuhlah air matanya.

Setelah matahari terbit bergegas mereka menuju ke puncak gunung untuk melihat qurban mereka. Allah Maha Mengetahui dan Maha Mendengar. Ternyata qurban Habil diterima oleh Allah karena barang-barang persembahannya tidak ada lagi ditempatnya.

Melihat qurban persembahannya sudah tidak ada, tiada henti-hentinya Habil mengucapkan syukur kehadirat Allah.

" Ya Allah kiranya Engkau telah mendengarkan permintaanku, sehingga qurbanku telah Kau terima. Alhamdulillah ya Allah.Hanya Engkau yang mengetahui isi hati kami, "ucap Habil sambil bersujud.

Lain lagi dengan Qobil. Begitu ia melihat barang qurbannya masih ada dan tidak berkurang sedikitpun, ia jadi marah. Sambil menendang barang qurbannya. la memaki-maki Habil. Katanya ini tidak adil. la berprasangka bahwa Habil selalu didoakan ayahnya.

" Hai Habil. Aku tahu bahwa kamu selalu didoakan ayah, sehingga barang qurbanmu diterima Allah, "ucap Qobil dengan berang. Meskipun Habil dituding demikian, ia tetap tenang menjawabnya.

" Tidak begitu kakak.sebenarnya kita semua didoakan ayah, semua ini hanya Allah yang mengetahui. Saya menyerahkan barang qurbanku dengan rela, "jawab. Habil tenang.

Mendengar jawaban Habil dengan tenang menyebabkan Qobil terkejut dan semakin naik pitam. la mengira Habil mengejeknya. Hal ini mengakibatkan percekcokan antara keduanya. Di saat itulah iblis datang dan berpihak kepada Qobil.

Di dasar hati Qobil sudah ada bisikan dari iblis. Bisikan itu bersifat jahat. Iblis yang telah bersarang di dadanya membakar kemauan Qobil.

" Kamu tidak perlu bertengkar, jika perlu bunuh saja Habil agar kamu bisa kawin dengan Iklima, "bujuk iblis dari dasar hati yang paling dalam. Meskipun demikian ia masih berpikiran waras. Sehingga terjadi pertentangan batin antara membunuh dan tidak melakukannya.

" Tidak, aku tidak akan membunuh Habil karena ia masih saudaraku, "jawab nalurinya.

" Kau sangat bodoh Qobil, di sini tidak ada yang melihat perlakuanmu terhadap Habil. Untuk itu bunuhlah ia !, "kata iblis yang menjawab nalurinya. Karena iblis selalu menggoda dan memberi dorongan seperti itu, iapun tidak tahan.

Ketika hatinya mulai goyah, maka iblis pun semakin melancarkan bujuk rayu kepada Qobil untuk membunuhnya serta merta ia memukul Habil yang ada di hadapannya.

Habil yang tahu maksud kakaknya tidak mengelak ketika Qobil memukulnya. Semua itu ia serahkan kepada keadilan Allah dan ia terima. Sehingga kematiannya tidak dapat dielakkan. Dengan demikian Qobil merupakan orang pertama yang melakukan pembunuhan di muka bumi ini.

Setelah membunuh adiknya, Qobil merasa berdosa, menyesal dan takut terhadap ayahnya. Pembunuhan ini diterangkan dalam Al Qur'an surat Al Maidah ayat 30 :
Artinya : " Maka hawa nafsu Qobil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya lah, maka jadilah la seorang diantara orang-orang merugi".(Al Maidah : 30)
 
Karena hatinya merasa dikejar dosa yang bersatu dengan penyesalan, ia pun kebingungan. Mayat adiknya dipanggul kesana kemari. la tidak tahu hendak diapakan mayat adiknya itu. Di saat ia kebingungan, iblis datang mentertawakan. " Kini sudah dua manusia yang telah termakan bujukan. Dan engkau Qobil merupakan salah satu temanku di neraka kelak," ejek iblis dengan sukaria.

"Kemana harus kubawa mayat adikku,"gumam Qobil sambil bersandar di bawah pohon rindang. Di saat demikian rasa sesalnya timbul kembali.

Allah Maha Pengasih. Meskipun Qobil telah melakukan pembunuhan ia diberi jalan oleh Allah. Allah menyuruh dan mengirim dua ekor burung gagak. Keduanya berkelahi sehingga salah satunya mati. Melihat hal ini Qobil teringat kelakuannya terhadap adiknya Habil.

Setelah salah satu gagak mati, maka gagak yang hidup menggali tanah dan menguburkannya. Kelakuan gagak yang masih hidup itu tidak terlepas dari pengamatan Qobil. Dengan serta merta ia meniru gagak tadi. la menggali tanah dan menguburkan adiknya. Gagak yang memberi contoh pada Qobil untuk menguburkan saudaranya sudah dijelaskan dalam Al Qur'an surat Al Maidah ayat 31 yang berbunyi:  
Artinya:
" Kemudian Allah menyuruh seekor gagak menggali-gali dengan paruhnya dan kakinya untuk memperlihatkan kepadanya (Qobil) bagaimana seharusnya mengubur saudaranya. Berkata Qobil: "Aduhai celaka aku mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lain aku dapat menguburkannya mayat saudaraku ini ?". Karena itu jadilah dia orang-orang yang menyesal". (Al Maidah : 31)
 
Setelah menguburkan adiknya, Qobil tidak pulang ke rumah. Hal ini menyebabkan Adam dan Hawa merasa khawatir. Meskipun demikian mereka tetap menyerahkan semuanya kepada Allah. Adam pun sebenarnya sudah mengetahui kejadian yang menimpa Habil, karena ia diberi petunjuk dari Allah.

Sernua kejadian yang menimpa kedua anaknya adalah hasil tipu daya iblis. Karena ia tidak senang jika melihat anak cucu Adam mempunyai perilaku yang baik, taqwa pada Allah. Hal ini disebabkan oleh janjinya kepada Allah yang selalu membujuk anak cucuk Adam untuk diseretnya ke dalam perilaku buruk.

KISAH NABI MUSA AS


 cerita nabi musa as lengkap

 Seperti yang telah dibahas pada cerita nabi yusuf bahwa nabi yusuf telah berjuang, berdakwah mengajak masyarakat mesir untuk menyembah satu Tuhan yaitu Allah. Namun setelah Nabi Yusuf as meninggal dunia, Sistem Tauhid diubah menjadi system multi Tuhan atau menyembah banyah tuhan. Hal ini diduga kuat karena adanya campur tangan kelompok-kelompok elit yang berkuasa ketika itu. Karena ketika mesir menganut system tauhid, mereka tidak mendapatkan perlakuan istimewa, sehingga mereka mempunyai tujuan khusus untuk mengembalikan system penyembahan kepada banyak tuhan. Selanjut masyarakat mesir pun mengikuti system penyembahan Fir’aun. Lalu akhirnya mesir dipimpin oleh keluarga-keluarga Fir’aun dan mereka mengklaim bahwa mereka merupakan tuhan atau wakil wakil tuhan.
Masyarakat mesir pada dasarnya merupakan masyarakat yang beradab, mereka disibukkan dengan pembangunan peradaban. Mereka mempunyai kecenderungan keagamaan yang kuat.  Serta kelompok-kelompok masyarakat mesir meyakini bahwa Fir’aun bukanlah tuhan, namun karena mendapat tentangan yang kuat dari Fir’aun dan fir’aun memaksa agar kaumnya taat kepadanya, sehingga mereka pun terpaksa mengakui dia sebagai tuhan, namun dalam kepura puraan dan menyembunyikan keimanan dalam hati mereka. Berbagai macam Tuhan dengan bentuk berhala pun banyak sekali di mesir. Ini bisa dimaklumi karena Fir’aun  menguasai berbagai macam tuhan dan ia mengisyaratkan dengan dan berbicara atas namanya. Yang demikian itu sangat jelas di mesir. Ketika terdapat system multi Tuhan di Mesir meskipun masyarakatnya meyakini tuhan utama, yaitu Fir’aun kelompok elit yang berkuasa membatasi untuk hanya menyembah Fir’aun dan melaksanakan perintah-perintahnya serta membenarkan tindakan semena-menanya.
Nabi Musa as merupakan anak laki-laki Imran bin Yash-har, dan bersaudara dengan Nabi harun as. Nabi Musa as dilahirkan pada waktu zaman Fir’aun menguasai mesir.
Rakyat mesir ketika itu benar-benar tuntuk pada Fir’aun yang menggunakan system banyak tuhan, padahal sebelumnya telah berada di jalan yang benar melaui dakwah yang dilakukan Nabi Yusuf.  Sementara anak-anak nabi yakub atau anak-anak israil juga telah menyimpang dari TAuhid. Mereka mengikuti jalan orang-orang mesir lainnya. Tidak banyak keluarga yakub yang mempertahankan agama Tauhid, itupun dilakukan dengan cara tersembunyi.
Lalu tibalah suatu masa atas bani israil di mana mereka semakin banyak dan semakin menyebar. Mereka mengerjakan berbagai macam pekerjaan dan mereka memenuhi pasar-pasar di mesir. Hari demi hari semakin erlalu, kekuasaan mesir diperintah oleh seorang raja yang bengis yaitu Firaun, dimana-mana orang mesir menyembahnya. Raja yang jahat ini melihat bahwa bani israil semakin banyak dan semakin berkembanga serta mempunyai posisi yang penting.
Lalu Fir’aun mengeluarkan perintah yang aneh, yaitu memerintahkan agar anak yang lahir berjenis kelamin laki laki harus dibunuh. Aturan itupun mulai dijalankan. Namun para pakar ekonimi berkata kepada Fir’aun; Orang-orang tua dari bani israil akan mati sesuai dengan ajal mereka, sedangkan anak kecil disembelih maka ini akan berakhir pada hancurnya dan binasanya Bani Israil namun Firaun akan kehilangan kekayaan dan asset manusia yang dapat bekerja untuknya atau menjadi budak-budaknya dan wanita-wanita tidak dapat lagi dimilikinya. Maka yang terbaik adalah, hendaklah dilakukan suatu proses sebagai berikut : anak laki-laki disembelih pada tahun pertama, dan hendaklah mereka dibiarkan pada tahun berikutnya. Fir’aun pun setuju dengan pendapat itu, karena mengganggap pemikiran itu lebih menguntungkan dari sisi ekonomi.
Suatu hari ibu nabi Musa mengandung nabi harun, ketika itu adalah tahun dimana anak-anak kecil laki-laki tidak dibunuh dan ia pun bisa melahirkan dengan terang-terangan. Namun ketika melahirkan mengandung Nabi Musa as, ia berada di tahun dimana anak-anak kecil harus di bunuh. Sang ibu pun merasa sangat cemas dan ketahukan yang luar biasa. Ia takut bahwa jangan-jangan nanti anak yang dilahirkannya akan dibunuh juga. Ia pun melahirkan secara sembunyi-sembunyi. Dan untuk menyembunyikan anaknya, sang ibu pun menyusui secara sembunyi-sembunyi. Lalu tibalah suatu malah yang penuh berkah, dimana saat itu Allah Yang Maha Mengetahui memberi wahyu kepadanya, sebagai berikut :
“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa : “Susuilah dia dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan jangan kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati. Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati. Karena sesungguhnya kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul” (Qs 28 : 7)
Mendengar wahyu Allah yang maha kuasai itu dan panggilan yang penuh kasih saying dan suci itu, ibu Nabi Musa as langsung mentaatinya.Lalu ia diperintahkan untuk membuat peti kecil untuk Nabi Musa as. Setelah menyusuinya., ia meletakkannya di peti itu. Kemudian ia pergi ke tepi sungai nil lalu membuangnya di atas air. Ibu mana yang tega membuang anak yang dilahirkannya, hatinya penuh derita ketika ia melempat anaknya di sungai nil. Namun itu merupakan perintah dari Allah yang maha tahu dan maha pengasih serta penyayang.
Beberapa saat setelah berada di atas air sungai nil, kemudian  Allah memerintahkan arus sungai nil agar menjadi tenang dan lembut kepada bayi yang dibawanya yang nantinya akan menjadi Nabi. Sebagaimana Allah yang maha kuasa memerintahkan kepada api agar menjadi dingin dan membawa keselamatan bagi nabi Ibrahim as, begitu juga Allah memerintahkan kepada sungai Nil agar membawa Nabi Musa dengan tenang dan penuh kelembutan sehingga mengarahkannya ke istana raja Fir’aun. Air sungai Nil tersebut membawa peti yang berisi nabi Musa ke istana raja fir’aun. DI sana ombak menyerahkannya kepada tepi pantai kemudia ia mewariskan kepada tepi pantai itu. Dan ANgin berkata kepada rumput yang tidur di sisi peti: “Jangan engkau banyak bergerak karena Musa sedang tidur. Rumput pun mentaati perintah angin dan Musa pun tetap tertidur.
Pada suatu ketika, matahari telah menyinari istana raja Fir’aun. Isteri Fir’aun keluar berjalan-jalan di kebun istana sebagaimana biasanya. Isteri raja fir’aun tidak sama dengan Fir’aun, Fir’aun merupakan orang kafir, namun isterinya adalah orang yang beriman. Fir’aun keras kepala, namun isterinya adalah wanita penyayang. Fir’aun adalah penjahat namun isterinya adalah wanita yang lembut dan penuh cinta. Namun wanita itu merasakan kesedihan yang dalam karena ia belum mampu melahirkan anak. Ia ingin sekali memiliki anak.  Ketika ia berhenti di sisi kebun ia mencium baru harum pepohonan di kebun itu, yang menyebarkan perasaan sedih akan rasa kesendirian.  Pada saat yang sama, para wanita yang membantunya sudah mengisi penuh tempat-tempat air yang diambil dari sungai nil. TIba tiba mereka menemukan peti di sisi kaki mereka. Kemudian mereka membawa peti itu kepada isteri Fir’aun. Istri fir’aun itu memerintahkan untuk membuaknya, setelah peti itu terbuka ia sangat terkejut ketika isi peti tersebut menampakkan isinya. Isi peti tersebut adalah seorang bayi laki-laki yang lucu tanpa dosa yang nantinya menjadi Nabi. IStri Fir’aun merasakan bahwa ia mencintai bayi itu seperti anaknya sendiri. Allah SWT meneruh dalam hatinya rasa cinta kepada Nabi Musa as sehingga berlinang air matanya.
Setelah menemuikan bayi itu, ia pun membawanya pulang. Ia membolak balikkan bayi nabi Musa sambil menangis. Kemudian Nabi Musa as terbangun dan menangis. Nabi Musa tampak lapar ia membutuhkan air susu pagi. Di saat yang sama Fir’aun sedang duduk di atas meja makan. Ia menunggu  istrinya namun belum juga dating. Fir’aun mulai marah lalu mencarinya. Tiba-tiba ia terkejut dengan kehadiran isterinya sambil membawa seorang bayi. Isteri fir’aun tampak menyayanginya. Ia terus menciumnya dan air matanya berlinang. Kemudian raja fir’aun pun bertanya “dari mana datangnya anak kecil ini?” Kemudian mereka menceritakan bahwa mereka menemukannya di sebuah peti di tepi sungai. Fir’aun berkata : “ini adalah salah satu anak Bani Israil. Sesuai dengan peraturan, anak-anak yang lahir di tahun ini dibunuh” mendengar perkataan dari Fir’aun itu, ia berteriak dan ia mendekap nabi muas as lebih keras.
Seperti yang tertulis dalam Al Qur’an
“Dan berkatalah isteri Fir’aun : “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak, sedang mereka tidak menyadarinya” (Qs. 28:9)
Fir’aun tampak keseharanan sekali melihat tingkah isterinya yang mendekap anak kecil yang ditemuka di tepi sungai. Fir;aun tampak tercengang karena isterinya menangis karena gembira, di mata fir’aun tidak pernah mendapati isterinya menangis karena sebahagia itu. Fir’aun mulai menyadari bahwa isterinya menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri. Fir’aun berkata dalam hati : “Mungkin ia ingat bahwa ia tidak mampu melahirkan anak dan menginginkan anak ini”. Akhirnya, Fir’aun sepakat atas apa yang dikatakan oleh isterinya. Fir’aun memenuhi keinginannya dan menyetujui untuk merawat dan mendidik anak itu di istana.
Setelah mendengar persetujuan dari suaminya, tampaklah keceriaan yang  hebat di wajah sang istri. Fir’aun belum pernah menyaksikan keceriaan seperti itu. Pada sebagai seorang suami ia telah memberikan berbagai macam hadiah kepada istrunya, berbagai perhiasan dan juga budak ia berikan kepada isterinya. Namun isterinya belum pernah tersenyum. Ia menyangka bahwa isterinya tidak mengertia arti senyuman. Dan sekarang, firaun melihat wajah isterinya dipenuh dengan senyum keceriaan.  Sementar itu Nabi Musah yang masih bayi mulai menangis karena lapar. Isteri nabi firaun berkata kepada suaminya : “Anakku yang kecil sedang lapar”, kemudian firaun berkata : “Datangkanlah kepadanya wanita yang menyusui”, kemudian datanglah kepadanya seorang wanita yang menyusui dari istana. Wanita itu mencoba untuk menyusui Nabi Musa as, tapi tanpa diduga nabi Musa as malah menolkanya. Kemudian didatangkan wanita yang kedua, kemudian ke tiga, lalu sampai kesepuluh namun nabi Musa as tetap menangis dan tidak mau menyusu kepada seorang wanita pun di antara mereka.  Melihat hal tersebut, isteri firaun menangis karena tidak tahan melihat penderitaan anak kecil yang baru ditemukannya. Ia tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya
Namun yang merasa sedih dan menangis bukan hanya isteri firaun, ibu kandung nabi Musa juga merasa sedih dan menangis. Ketika ibunya melempar nabi Musa ke sungai nil, ia merasa bahwa ia sedang melempar buah hatinya ke sungai. Lalu peti yang dilemparkan itu hilang di bawah oleh air sungai dan beritanya pun tersembunyi. Dan ketika datang waktu pagi, ibu nabi Musa merasakan kesedihan yang selalu menghantuinya. Hampir saja ia pergi ke istana firaun untuk mendapatkan berita tentang anaknya kalau, Allah SWT menaruh kedamaian dalam hatinya sehingga ia menyerahkan urusan anaknya kepada Allah SWT.kemudian, ia berkata kepada saudara perempuan Nabi Musa as.
“Pergilah dengan tenang ke istana firaun dan berusahalah untuk mendapatkan berita tentang Musa dan hendaklah engkau hati hati agar jangan sampai mereka mengetahuimu”, kemudian saudara perempuan nabi Musa pergi dengan tenang. Akhirnya ia mendengarkan kisah tentang Nabi Musa as secara sempurna. Ia melihat nabi Musa as dari kejauhan dan mendengarkan suara tangisannya. Ia melihat mereka dalam keadaan kebingungan dimana mereka tidak mengetahui bagaimana menyusuinya. Ia mendengar bahwa nabi Musa as menolak tawaran wanita yang mencoba menyusuinya.
Saudara perempuan nabi as berkara kepada para pengawal firaun
“apakah kalian mau aku tunjukkan suatu keluarga yang dapat menyusuinya dan dapat mengasuhnya”. Lalu Isteri firaun menjawab :
“seandainya kamu dapat membawa kami kepada wanita yang dapat menyusuinya dan dapat mengasuhnya niscaya kami akan memberimu hadiah yang besar. Yaitu sesuatu yang engkau inginkan akan kami penuhi”. Lalu saudara perempuan nabi Musa as itu kembali dan menghadirkan ibunya. Si ibu menyusuinya dan nabi Musa pun menyusu dengan tennang. Melihat hal itu, isteri firaun pun sangat gembira dan berkata :
“Bawalah dia hingga waktu penyusuannya selesai, lalu kembalikanlah dia kepada kami dan kami akan memberimu sesuatu balasan yang besar atas penyusuan dan pendidikan yang engkau berikan”
Itulah cara Allah yang maha adil dan maha kuasa mengembalikan Nabi Musa kepada ibunya agar ia merasagembira dan hatinya menjadi tenang dan tidak bersedih juga agar ia mengetahui bahwa janji Allah SWT benar dan bahwa perintah-Nya dan ketentuan-Nya pasti terlaksana meskipun banyak rintangan dan tantangan, Allah SWT berfirman :
“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hamper saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan. “Ikutilah dia”. Maka terlihatlah olehnya Musah dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yhang mau menyusui-nya sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa : “Maikah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlubait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadany?. Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” (Qs. 28 : 10 – 13)
Ibu nabi Musa as yang asli menyempurnakan penyusuan lalu menyerahkannya ke rumah firaun. Saat itu nabi Musa as disenangi dan disukai semua orang. Allah SWT berfirman :
“Yaitu : Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti,kemudian lemparkanlah ia ke sungai (nil),maka pasti sungai itu membawanya ke tepi sungai, supaya diambil oleh (fir’aun) musuhku dan musuhya. Dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih saying yang datang dari-Ku, dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (Qs. 20 : 39)
Tiada seorang pun yang melihat nabi Musa as kecuali ia akan mencintainya. Nabi Musa as dididik di istana terbesar di bawah bimbingan dan penjagaan Allah Yang Maha Kuasa. Pendidikan Nabi Muas as dimulai di rumah firaun di mana di dalamnya terdapat ahli pendidikan dan para pengajar. Mesir saat itu merupaka Negara yang besar di Dunia dan Firaun sebagai raja yang paling kuat. Karena itu dengan mudah Firaun mampu mengumpulkan para pakar pendidikan dan para cendekiawan.  Demikianlah hikmah Allah Swt berkehendak agar Nabi Musa as terdiri di bawah pendidikan yang besar dan ditangani pakar-pakar pendidik yang terlatih. Ironisnya, hal ini terjadi di rumah musuhnya yang pada suatu hari nanti akan hancur di tangannya, sebagai bentuk pelaksanaan dari perintah Allah Yang Maha Kuasa.
Nabi Musa as tumbuh di rumah firaun. Beliau mempelajari ilmu hisab, ilmu bangunan, ilmu kimia dan bahasa.  Beliau tidur di bawah bimbingan agama. SWehingga nabi Musa tidak mendengar omongan kosong yang dikatakan oleh pendidik tentang ketuhanan firaun. Jarang sekali ia mendengar bahwa firaun adalah tuhan. Beliau pun menepis pernyataan dan anggapan ini. Beliau tinggal bersama firaun di satu rumah. Nabi Musa mengetahui lebih dari pada orang lain bahwa firaun hanya sekedar manusia biasa yang lalim. Nabi Musa juga mengetahui  bahwa ia bukanlah anak dari firaun. Ia adalah anak seorang dari bani israil. Ia menyaksikan bagaimana para pengawal firaun dan para pengikutnya menindas masyarakat bani israil. Akhirnya, nabi Musa tumbuh besar dan mencapai kekuatannya.
Ketika para pengawal lali darinya, nabi muas as memasuki kota. Nabi Musa as berjalan-jalan di sekitar kota. Kemudian nabi Musa as mendapati seorang lelaki dari pengikut firaun yang sedang berkelahi dengan seorang bani israil. Lalu seorang yang lemah dari kedua orang itu meminta tolong kepadanya. Nabi Musa as pun turut campur dalam urusan itu. Nabi muas as mendorong dengan tangannya seorang lalaki yang berbuat aniyaa itu. Ternyata nabi Musa as membunuhnya. Ketika itu memang nabi Musa terkenal sebagai orang yang kuat. Nabi Musa berniat untuk melerai kedua orang yang berkelahi itu, namun tanpa sengaja malah membunuhnya, lelaki itu tersungkur kemudian mati.  Nabi Musa as kemudian kepada pada diri sendiri. Ini adalah perbuatan shetan. Sesungguihnya ia adalah musuh yang menyesatkan dan nyata. Kemudian nabi Musa as berdoa kepada Allah dan berkata :
“Ya TUhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku maka ampunilah aku” Allah yang maha pengampun pun mengampuninya. Allah berfirman
“Dan setelah Musa sudah cukup umur dan sempurna akalnya. Kami berikan kepadanya hikmah kenabian dan pengetahuan. Dan demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lemah, maka didapatinya di dalamkota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani israil) dan seorang lagi dari musuhnya (kaum firaun).  Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan darinya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matlah musuhnya itu. Musa berkata : “Ini adalah perbuatan setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang menyesatkan lagi (permusuhannya). Musa berdoa : “Ya Thanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. Musa berkata : “Ya Tuhanku, demi nikmat yang engkau anugrahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”
Nabi Musa as adalah cermin lain dari Nabi Ibrahim as. Kedua-keduanya dari kalangan ulul azmi, tetapi nabi ibrahim as merupakan cermin kesabaran dan kelebutan sementara itu nabi Musa as merupakan cermin dari kekuatan dan keperkasaan.
Nabi Musa as menjadi takut dan terancam di tengah-tengah kota. Beliau berjanji di kemudian hari bahwa beliau tidak akan lagi menjadi sahabat orang-orang yang berbuat jahat. Beliau tidak akan lagi terlimbat dalam pertengkaran dan permusuhan antara sesame penjahat. Di tengah-tengah perjalanannya, nabi Musa as dikagetkan ketika melihar seorang yang ditolongnya kemaren itu kini memanggilnya lagi dan meminta tolong pada pada nabi Musa. Dan lagi lagi orang itu terlibat permusuhan dan pertengkaran dengan orang mesir. Nabi muas as mengetahui bahwa orang Israel ini berbuat aniaya. Nabi Musa as mengetahui bahwa ia termasuk seorang preman di wilayah itu. AKhirnya, nabi Musa as berteriak di depan wajan orang israil itu sambil berkata : “SUngguh ternyata engkau adalah orang yang jahat”
Nabi Musa as mengatakan ucapan itu sambil mendorong kedua orang itu dan ia melerai pertengkaran. Orang israil itu mengira bahwa nabi Musa akan mencelakainya maka ia diliputi rasa takut. Sambil meminta kasih saying kepada Nabi Musa as, ia berkata  : “Wahai Musa apakah kamu akan membunuhku seperti kamu membunuh orang yang kemaren. Apakah kamu ingin menjadi penguasa di muka bumi ini dan tidak ingin menjadi orang yang memperbaiki bumi.” Ketika mendengar orang israil mengatakan demikian, nabi Musa as berhenti dan amarahnya mereda. Nabi Musa as mengingat apa yang dilakukannya kemaren dan bagaimana ia meminta ampun dan bertaubat serta berjanji tidak menjadi pembantu orang-orang yang berbuat jahat. Nabi Musa as kemudian kembali dan meminta ampun kepada Tuhannya.
Orang mesir yang berkelahi dengan orang Israel itu mengetahui bahwa nabi Musa as adalah pembunuh orang mesir yang mayatnya ditemukan oleh mereka kemaren. Petugas keamanan mesir tidak berhasil menyikap kasus pembunuhan itu. Akhirnya rahasia nabi muas as terungkap, lalu seorang pria dari mesir yang beriman datang dari penjuru kota. Ia membisikkan kepada nabi Musa as bahwa ada suatu rencana untuk membunuhnya. Pria itu menasehati nabi Musa agar ia meninggalkan mesir secepatnya, Allah swt berfirman
“Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba tiba orang yang meminta pertolongan kemaren berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya : “Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang sehat  yang nyata (kesesatannya), maka tatkala Musa memegan dengan keras orang yang menjadi musuk keduanya, musuhnya berkata :
“Hai Musa apakah kamu bermaksud untuk membunuhku, sebagaimana kamu kemaren telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-webang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian”. Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota tergesa-gesa seraya berkata :
“Hai Musa, sesungguhnya pembesar sedang berunding tentang kamu. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu” (Qs : 28 : 18 – 20)
Para penguasa atau para pembesar yang bertanggung jawab pada keamanan menyiapkan persekutuan untuk menyingkirkan nabi Musa as. Akhirnya kesempatan emas itu tiba. Para pembantunya mengatakan kepadanya bahwa nabi Musa merupakan orang yang membunuh orang mesir yang mereka temukan jasadnya kemaren. Selesai urusan ini. Kemudian datanglah perintah dan kesempatan untuk membunuh nabi Musa as. ORang-orang yang membenci nabi Musa as mulai mendapatkan angina kegembiraan di mana mereka akan melihat nabi Musa as terbunuh, tetapi Allah yang maha tahu mengirim orang mesir yang baik untuk mengingatkan nabi Musa agar berlari dari kejaran orang-orang yang lalim. Allah berfirman seperti yang tercantum dalam AL qur an
“Maka keluarkanlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa : ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim itu’.” (Qs. 28 : 21)
Nabi Musa as meninggalkan kota dan menjadi orang yang terusir. Nabi Musa as segera keluar dalam keadaan takut dan sambil waspada nabi Musa as selalu berdoa dalam hatinya : “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim”. Kaum itu memang benar-benar orang-orang lalim. Mereka ingin menerapkan hukuman bagi pembunuh dengan sengaja atas nabi Musa as, padahal nabi Musa as tidak melakukan selain berusaha memisahkan orang yang berkelahi tetapi dengan tidak senagaja ia membunuhnya. Nabi Musa as segera keluar dari Mesir. Beliau tidak lagi pergi ke istana firaun dan tidak mengganti pakaiannya, dan tidak membawa makanan untuk perjalanan. Beliau tidak membawa binatang tunggangan yang dapat mengantarkannya. Beliau juga tidak pergi bersama suatu kafilah. Beliau langsung pergi ketika mendapatkan kabar dari seorang mukmin yang mengingatkannya dari ancaman firaun.
Nabi Musa as berjalan melalui jalan yang tidak biasanya dilalui orang.  Nabi muas memasukin gurun dan ia menuju ke suatu tempat yang disitu Allah membimbingnya. Ini adalah pertama kalinya beliau keluar dan mengarungi gurun pasir sendirian. Kemudian nabi Musa tiba di suatu tempat yang bernama Madyan. Nabi Musa istirahat dan duduk-duduk di dekat sumur yang bersar dimana disitu orang-orang mengambil air untuk memberi minum binatang tunggangan mereka dan juga binatang gembalaan mereka. Nabi Musa as tidak membawa makanan selain daun-daun pohon. Nabi Musa as minum dari sumur-sumur yang ditemukannya di tengah jalan. Sepanjang perjalanan Nabi Musa merasakan ketakukan, jangan jangan firaun mengirim orang untuk menangkapnya. Ketika nabi Musa as sampai di kota madyan nabi Musa as berbaring di sisi pohon dan beristirahat. Nabi Musa as merasa lapar dan keletihan. Sandal yang dipakai olehhnya terlihat mulai rusak. Beliau tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli sandal baru, dan beliau juga tidak mempunya uang yang cukup untuk membeli minuman atau makanan.
Nabi Musa as memperhatikan kumpulan pengembala yang sedang mengambil air untuk kambing-kambing mereka. Nabi Musa as ingat bahwa ia sedang lapar dan haus. Ia berkata dalam hati : “Aku dapat memenuhi perutuku dengan air selama aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan:, nabi Musa kemudian berjalan ke tempar air. Sebelum sampai, ia mendapati dua orang perempuan yang sedang memisah kambing-kambingnya agar jangan sampai tercampur dengan kambing orang lain. Melalui ilham, nabi Musa as merasa bahwa kedua wanita itu membutuhkan pertolongan. Nabi Musa as lupa terhadap rasa hausnya, lalu beliau menuju kea rah mereka dan bertanya, apakah ia dapat membantu mereka? Lalu seorang gadis yang  paling tua berkata :
“kami menunggu sampai selesainya para gembala itu mengambil air untuk binatang gembalaanmereka” lalu nabi Musa bertanya :
“Mengapa kalian tidak mengambil air sekarang?” kemudian gadis kecil berkata :
“Kami tidak mampu untuk berdesak-desakan dengan kaum pria”. Nabi Musa as keheranan karena mengetahui kedua gadis itu menggembala kambing. Seharusnya yang menggembala kambing adalah kaum pria. Itu merupakan tugas berat dan sangat melelahkan, tidak semestinya wanita menggembala.
“Mengapa kalian mengembala kambing” Gadis yang kecil mengatakan lagi :
“Orang tua kami sudah tua dimana kesehatannya tidak dapat membantunya untuk keluar dari rumah dan mengembala kambing setiap hari”. Mendengar hal itu Nabi Musa as lalu berkata :
“Kalau begitu, aku akan membantu kalian untuk mengambil air itu”
Nabi Musa as berjalan menuju tempat air. Nabi Musa air mengetahui bahwa para pengembala meletakkan di atas bibir suatu air suatu batu besar yang tidak bisa digerakkan kecuali oleh sepuluh orang. Nabi Musa as merangkul dan mengangkatnya dari bibir sumur. Otot-otot nabi Musa as tampak menonjol saat memindahkan batu itu. Nabi Musa merupakan pria yang kuat. Akhirnya, nabi Musa as berhasil mengambil air untuk remaja putrid itu, dan kemudian ia mengembalikan batu itu ke tempatnya. Nabi Musa as kembali duduk di bawah naungan pohon. Saat itu nabi Musa as lupa untuk minum. Perut nabi Musa menempel ke punggungnya karena karena saking laparnya. Nabi Musa as mengingat Allah yang maha esa dan memanggil Nya dalam hati :
“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudia dia kembali ketempat yang terduh lalu berdoa : “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang engkau turunkan kepadaku”  (Qs. 28 : 24)
Kedua gadis itu kembali ke rumah ayahnya. Si ayah bertanya :
“Hari ini kalian kembali lebih cepat dari biasnaya?”
Gadis yang paling tua berkata :
“Sungguh hari ini kami sangat beruntung. Wahai ayah, kami bertemu dengan seorang pria yang mulia yang mengambilkan air bagi hewan kami sebelum orang-orang lain mengambilnya”
Si ayah berkata
“Alhamdulullah”
Gadis yang paling kecil berkata
“saya kira wahai ayahku dia datang dari tempat yang jauh dan tampak ia sedang lapar. Saya melihat dia dalam keadaan kecapaian meskipun ia seorang pria yang kuat”
Lalu si ayah berkata kepada anak perempuannya :
“Pergilah engkau padanya dan katakana, sesungguhnya ayahku memanggilmu untuk memberimu upah atas jasamu mengambilkan air untukku”. Kemudian anak perempuan itu pergi menemui Nabi Musa as dalam keadaan hatinya berdebar-debar. Perempuan itu berdiri di depan Nabi Musa as dan menyampaikan surat dari ayahnya. Nabi Musa as bangkit dari tempat duduk dan pandangannya tertuju ke bawah. Nabi Musa as tidak bermaksud mengambilkan air untuk mereka dengan tujuan mengharapkan upah dari mereka. Beliau membantu mereka hanya semata-mata karena Allah SWT. Beliau merasakan dalam dirinya bahwa Allah SWT lah yang menggerakkan beliau untuk membantu mereka.
Gadis itu berjalan di depan Nabi Musa as kemudian bertiuplah angin dan menyentuh pakaiannya sehingga nabi Musa as menunduk padangan matanya karena merasa malu. Nabi Musa as berkata kepada gadis itu :
“saya akan berjalan di depanmu dan tunjukkanlah jalan padaku”. Mereka pun sampai di kediaman si ayah. Sebagian ahli tafsir mengatakan bawah si saya ini adalah Nabi Syu’aib as. Beliau memperoleh usia panjang setelah kematian kaumnya. Orang tua itu menghidangkan kepada nabi Musa as makan siang dan bertanya kepadanya dari mana ia datang dan kemudian ke mana ia akan pergi,
Nabi Muas as mengungkapkan ceritanya. Orang tua itu berkata kepadanya, jangan khawatir dan jangan takut. Engkau akan selamat dari orang-orang yang lalmi. Negeri ini tidak tunduk pada mesir dan mereka tidak akan sampai di sini. Mendengar ucapan itu, nabi Musa as menjadi tenang dan bangkit untuk pergi. Salah seorang anak perempuan itu berkata kepada ayahnya dengan berbisik :
“wahai ayahku, berilah dia upah. Sesungguhnya engkau akan memberikan upah kepada seorang yang kuat dan jujur”
Si ayah bertanya kepadanya :
“bagaimana engkau mengetahui dia seorang lelaki yang kuat”
Anak perempuannya menjawab
“Saya lihat sendiri ia mengangkat batu yang tidak mampu diangkat oleh sepuluh orang lelaki”
Si ayah bertanya lagi :
“Bagaimana engkau mengetahui bahwa dia seorang yang jujur”
Perempuan itu menjawab :
“Ia menolak untuk berjalan di belakangku dan ia berjalan di depanku sehingga ia tidak melihatku saat aku berjalan. Dan selama perjalanan saaat aku berbincang-bincang denganya, dia sellau menundukkan matanya ke tanah sebagai rasa malu dan adab yang baik darinya”
Kemudian orang tua itu memandangi Nabi Musa as dan berkata kepadanya :
“Wahai Musa, aku ingin menikahkanmu dengan salah satu putriku. Dengan syarat, hendaklah engkau bekerja menggembala kambing bersamaku selama delapan tahun. Seandainya engkau menyempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah kemurahan darimu. Aku tidak ingin menyusahkanmu, sungguh insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang saleh”
Nabi Musa as kemudian berkata  :
“Ini adalah kesepakatan antara aku dan engkau dan Allah SWT sebagai saksi atas kesepakatan kita, baik aku akan melaksanakan pekerjaan selama delapan tahun maupun sepuluh tahun.  Setelah itu, aku bebas untuk pergi ke mana saja”
Allah SWT berfirman
“Kemudian datanglah kepada Musa seorang dari kedua wanita itu berjalan malu-malu, ia berkata :
“Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata :
“Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang lalim itu” Salah seorang dari kedua wanita itu berkata :
“Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang aling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. Berkatalah dia (Syu’aib)
“sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak berhak memberatkan kamu. Dan kamu insyaAllah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. Dia (Musa) berkata :
“itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang aku ucapkan” (Qs. 28 : 25 – 28)
Lalu menikahlah nabi Musa as dengan salah satu anak gadis dari nabi SYu’aib as dan perjanjian yang telah ditentukan itu telah dijalankan dan dilaksanakan oleh Nabi Musa as.
Demikianlah nabi Musa mengabdi kepada Nabi Syu’aib as selama sepuluh tahun penuh. Pekerjaan Nabi Musa as terbatas pada keluar dari rumah di waktu pagi untuk mengembala kambing. Sepuluh tahun waktu yang dihabiskan oleh Nabi Musa as di Madyan merupakan suatu ketentuan yang dirancang oleh Allah SWT.
Nabi Musa as berdasarkan islam dan agama tauhid.  Nabi Musa as menghabiskan masa sepuluh tahun itu dalam keadaan jauh dari kaumnya dan keluarganya. Masa sepuluh tahun ini adalah masa yang paling penting dalam kehidupannya. Ia merupakan  masa persiapan yang besar. Pada setiap malam Nabi Musa as merenungkan bintang-bintang. Nabi Musa as mengikuti terbitnya matahari dan tenggelamnya. Pada setiap siang nabi Musa memikirkan tumbuh-tumbuhan; bagaimana ia membela tanah dan mekar. Nabi Musa as memperhatikan hari; bagaimana ia menghidupkan bumi setelah bumi itu mati, lalu bumi itu menjadi tempat yang indah dan subur. Nabi Musa as memperhatikan alam yang luas dan ia tempak tercengan dan kagum dengan ciptaan Allah SWT.
Sebenarnya pemikiran-pemikiran dan perenungan-perenungan tersebut jauh jauh hari sudah tersembunyi di dalam dirinya dan menetap di dalam jiwanya. Bukankah nabi Musa as terdidik di istana Firaun. Ini berarti bahwa beliau menjadi seorang mesir yang mempunyai wawasan luas, orang mesir menunjukkan kekuatan fisiknya, orang mesir dengan segala makanannya dan minumannya. Jadi, segala hal yang ada pada nabi Musa as berbau mesir. Nabi Musa as siap sipa untuk menerima wayu dari Allah dengan bentuk yang baru. Yaitu wayu Illahi yang langsung datang tanpa perantara seorang malaikat di mana Allah SWT yang berbicara dengannya secara langsung.
Oleh karena itu, sebelum datangnya watyu itu perlu adanya persiapan mental dan moral, sendangkan persiapa fisik telah selesai dilaluinya di mesir. Nabi Musa as tumbuh di sitana yang paling besar yang dimiliki penguasa di bumi dan di suatu pemerintahan yang paling kaya di bumi. Nabi Musa as menjadi seorang pemuda yang kuat di mana bukan hanya sekedar memisahkan seseorang yang berkelahi, namun justru membunuhnya meski tanpa sengaja. Setelah persiapan fisik yang kuat, kini nabi Musa as harus melewati persiapan mental yang seimbang. Yaitu persiapan yang dilakukan melalui pengasingan yang sempurna di mana beliau hidup di tengah-tengah guru dan tempat pengembalaan yang beliau belum pernah menginjakkan kakinya di sana. Beliau hidup di tengah-tengah orang asing yang belum pernah beliau lihat sebelumnya.
Sering kali nabi Musa as mendapatkan kesunyian dan keheningan di balik pengasingan itu. Allah SWT mempersiapkan hal tersebut kepada nabi-Nya agar setelah itu beliau mampu memegang amanat yang besar dari Allah SWT. Datanglah suatu hari atas nabi muas as. Selesailah masa yang ditentukan. Kemudian nabi Musa as merasakan kerinduan untuk kembali ke mesir. Dengan berlalunya waktu, hukuman yang harus dijalaninya dengan sendirinya gugur.
Nabi Musa as mengetahui hal itu, tetapi beliau juga mengetahui bahwa undang-undang di mesir sebenarnya terletak pada kekuatan penguasa, jika penguasa berkehendak maka nabi Musa as dapat menerima hukuman, dan jika tidak berkehendak maka dia akan memafaatkannya, meskipun yang bersangkutan berhak mendapatkan hukuman. Nabi Musa as menyadari hal itu, nabi muas as tidak sepenuhnya yakin ia akan selamat ketika beliau menginjakkan kakinya di mesir seperti keyakinannya bahwa beliau selamat di tempatnya sekarang. Meskipun demikian, rasa rindunya untuk melakukan perjalanan kembali ke tempatnya mendorong nabi Musa as segera menuju ke mesir. Nabi Musa mengambil keputusan yang tepat.
 Nabi Musa as berkata kepada isterinya :
“Besok kita akan mulai perjalanan ke mesir:
“Di dalam perjalanan terdapat seribu macam bahaya tetapi ketenangan tetap menghiasai Musa.” Istri nabi Musa as taat kepada nabi Musa as.
Nabi Musa as keluar bersama keluarganya dan melakukan perjalanan. Bulan bersembunyi di balik gumpalan awan yang tebal dan kegelapan menyelimuti sana-sini. Sementara itu, petir menyambar sangat keras dan langit menurunkan hujan. Cuaca tampak tidak bersahabat. Di tengah-tengah perjalanannya, nabi Musa as tersesat. Nabi Musa as mendapatkan dua potongan batu kemudian beliau memukul keduanya dan menggesek-gesekkan keduanya agar mendapatkan api dariny sehingga beliau dapat berjalan. Tapi sayang, beliau tidak mampu melakukan hal itu. Angin yang bertiup kencang memadamkan api kecil itu.
Nabi Musa as berdiri dalam keadaan bingung dan tubuhnya tampak menggigil di tengah-tengah keluarganya.  Kemudian Nabi Musa as mengangkat kepalanya dan menyaksikan sesuatu dari jauh. Sesuatu yang beliau saksikan adalah api yang sabat besar yang menyala-nyala dari kejauhan. Maka hati bai Musa as dipenuhi dengan rasa gembira. Ia berkata kepada keluarnya :
“Aku melihat api di sana”
Lalu beliau memerintahkan kepada mereka untuk tinggal di tempatnya sehingga beliau pergi ke api itu. Mungkin di sana beliau mendapatkan sesuatu berita atau akan menemukan seseorang yang dapat memberinya petunjuk sehingga beliau tidak tersesat, atau beliau dapat membawa segian api yang menyala sehingga tubuh mereka menjadi hangat.
Keluarganya melihat api yang diisyaratkan oleh nabi Musa as tetapi sebenarnya mereka tidak melihat sesuatu apapun. Mereka tetap menantinya dan duduk sambil menunggu kedatangan nabi Musa as. Nabi Musa as bergera menuju ke tempat api. Nabi Musa as segera berjalan dan menghangatkan tubuhnya, sementara tangan kanannya memegang tongkatnya dan tubuhnya tampak basah kuyup karena hujan. Nabi Musa as tetap berjalan sampai ia mencapai suatu lembah yang bernama Thua’. Beliau menyaksikan sesuatu yang unik di lembat ini. Di lembah itu tidak ada rasa dingin dan tidak ada angina yang bertiup. Yang ada hanya keheningan. Nabi Musa as mendekati api. Belum lama beliau mendekatnya sehingga beliau mendekar suara panggilan :
“Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia : ‘bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan maha suci Allah, Tuhan semesta alam (Qs. 27 : 8)
TIba tiba nabi Musa as berhenti dan badannya menggigil. Suara itu tampak terdengar dan datang dari segala tempat dan berasal dari tempat tertentu. Nabi mua as melihat api dan beliau kembali merasa menggigil. Nabi Musa as melihat api dan beliau kembali merasa menggigil. Beliau mendapati suatu pohon hijau dari duri dan setiap kali pohon itu terbakar dan berkobarlah api darinya maka pohon itu justeri semakin menghijau. Seharusnya pohon itu berubah warnah menjadi hitam saat terbakar, tetapi anehnya api justru meningkatkan warna hijaunya. Nabi Musa as tetap menggigil mekipun beliau merasakan kehangatan dan tampak mulai berkeringat.
LEmbah tempat nabi Musa as berdiri adalah lembah Thua’. Nabi Musa as meletakkan kedua tangannya di atas kedua matanya karena saking dahsyatnya cahaya. Beliau melakukan yang demikian itu sebagai usaha untuk melindungi kedua matanya. Kemudian nabi Musa as bertanya dalam dirinya”
“INi cahaya atau api?” Tiba tiba beliau tersungkur ke tanah sebagai wujud rasa takut, lalu Allah SWT memangggil :
“Maka ketika ia datang ke tempat itu ia dipanggil: wahai Musa” (QS. 20 : II)
Nabi Musa as mengangkat kepalanya dan berkata :
“Ya”
Allah berkata :
Sesungguhnya aku inilah Tuhanmu, maka tinggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, thuwa’ (Qs. 20 : 12)
Nabi Musa as ruku dan melepas kedua sandalnya, kemudian Allah SWT kembali berkata :
“Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain aku, maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktuhny) agar supaya tiap tipa dari itu dibalas dengan apa yang diusahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa. “Qs. 20 : 13 – 16)
Nabi Musa as semakin gemetar saat beliau menerima wahyu Ilahi dan saat berdialog dengan Allah SWT. Allah yang maha pengasih dan penyayang itu berkata :
“Apakah itu yang ada di tangan kanamu, hai Musa?” (Qs. 20 : 17)
Bertambah keheranan nabi Musa as. Allah SWT adalah zat yang mengajaknya berbicara dan tentu lebih mengetahui dari nabi Musa as tentang apa yang dipegangnya, lalu mengapa Allah SWT bertanya kepada jika memang Dia lebih mengetahui darinya. Tak ragu lagi bahwa di sana ada hikmah yang tinggi. Nabi as menjawab pertanyaan itu dengan suara yang tampak menggigil :
“Berkata Musa : “ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan abgiku ada lagi kepeluan yang ada padanya” (qs. 20 : 18)
Allah befirman : lemparkanlah ia, hai Musa! (Qs : 20 : 19)
Nabi Musa as melemparkan tongkatnya dari tangannya dan rasa herannya semakin menjadi-jari. Tiba-tiba nabi Musa as dikagetkan ketika melihat tongkat itu menjadi ular yang besar. Ular itu bergerak dengan cepat. Nabi Musa as tidak mampu lagi menahan rasa takutnya. Nabi Musa as merasa tubuhnya bergetar karena rasa takut. Nabi Musa as membalikkan tubuhnya karena takut dan ia mulai lari. Belum lama ia lari, belum sampai dua langkah, Allah SWT memanggilanya :
“Dan lemparkanlah tongkatmu”, maka tatkala (tongkat itu menjadi luar) dan Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit. Larilah ia berbalik kebelakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu takut, sesungguhnya orang menjadi rasul, tidak takut di hadapanku” (Qs  27 :10)
“Hai Musa, datanglah kepadaKu dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman” (qs. 28 : 31)
Nabi Musa as kembali memutar badannya dan berdiri. Tongkat itu tampak bergerak dan ular itupun tetap bergerak. Allah SWT berkata kepada Musa :
“Peganglah ia dan janganlah takut, kami akan mengembalikan kepadanya keadaannya semula” (qs. 20 :21)
Nabi Musa as mengulurkan tangannya ke ular itu dalam keadaan menggigil. Nabi Musa as belum sempat menyentuhnya sehingga ular itu menjadi tongkat. Demikianlah perintah Allah SWT terjadi dengan cepat. Kemudian Allah SWT memerintahkan kepadanya :
“Masukanlah tangganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir;aun dan pembesar-pembesaranya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Qs : 28 : 32)
Nabi Musa as meletakkan tangannya di kantorngnya lalu ia mengeluarkannya dan tiba-tiba tangan itu bersinar bagaikan bulan. Kembali rasa kagum Nabi Musa as bertambah. Lalu ia meletakkan tangannya di dadanya sebagaimana diperintahkan Allah SWT padanya sehingga rasa takutnya benar-benar hilang.
Nabi Musa as merasa tenang dan terdiam. Kemudian Allah SWT memerintahkan kepadanya setelah beliau melihat kedua mukjizat itu, yaitu mukjizat tangan dan mukjizat tongkat untuk pergi menemui Firaun dan berdakwah kepadanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, dan Allah SWT memerintahkan kepadanya untuk mengeluarkan Bani Israil dari mesir. Nabi Musa as manampakkan rasa takutnya kepada Fir’aun. Nabi Musa as berkata bahwa ia telah membunuh seseorang di antara mereka dan beliau khawatir mereka akan membunuh dan membalasnya. Nabi Musa as meminta kepada Allah SWT dan memohon kepada-Nya agar mengirim saudaranya Nabi Harun as bersamanya. Allah SWT menenangkan Nabi Musa as dengan mengatakan bahwa dia akan selalu bersama mereka berdua. Dia mendengar dan menyaksikan gerak-gerik dan perbuatan mereka. Meskipun Firaun terkenal dengan kejahatannya dan kekuatannya, namun kali ini Fir’aun tidak akan mampu menggangu atau menyakiti mereka. Allah SWT memberitahu Nabi Musa as, bahwa Dia-lah yang akan menang. Nabi Musa as berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar melapangkan hatinya dan memudahkan urusannya serta memberinya kekuatan dalam berdakwah di jalan-Nya.
Allah SWT telah memilih Nabi Musa as. Itu adalah salah satu puncah kemuliaan di mana tidak ada seorang pun di zaman itu yang mampu mencapainya selain nabi Musa as. Nabi Musa as kembali untuk menemui keluarganya setelah Allah SWT memilihnya sebagai rasul dan utusan untuk berdakwah ke Fir’aun. Akhirnya. Nabi Musa as beserta keluarganya berjalan menuju ke Mesir. Hanya Allah SWT yang mengetahui pikiran-pikiran apa yang terlintas di dalam diri Nabi Musa as saat beliau mengayunkan langkahnya menuju ke mesir.
Nabi Musa as mengetahui bahwa Fir’aun adalah orang yang jahat. Fir’aun akan berusaha memberhentikan langkah dakwahnya dan firaun akan menentangnya tetapi Allah SWT memerintahkannya untuk pergi ke firaun dan berdakwah kepadanya dengan kelembutan dan kasih sayang. Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa as bahwa Firaun tidak akan beriman tetapi Nabi Musa as tidak peduli dengan hal itu. Beliau diperintahkan untuk melepaskan bani israil yang sedang disiksa oleh Firaun.
Allah SWT berkata kepada Musa dan Harun :
“Maka datanglah kamu berdua kepadanya (firaun) dan katakanlah : “sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka” (Qs. 20 : 47)
Inilah tugas yang ditetukan, yaitu tugas yang akan berbenturan dengan ribuan tantangan. Fir’aun menyiksa bani israil dan menjadikan mereka budak-budak dan memaksa mereka untuk bekerja di luar kemampuan mereka. Firaun juga menodai kehormatan wanita-wanita mereka dan menyembelih anak laki-laki mereka. Nabi Musa as mengetahui bahwa rezim mesir berusaha untuk memeprbudak bani israil dan mengekspliotasi mereka di luar kemampuan mereka demi kepentinan penguasa. Tetapi nabi Musa as tetap memperlakukan dan menghadapi Firaun dengan penuh kelembutan dan kasih sayang sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT kepadanya :
“pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (qs. 20 : 43 – 44)
Nabi Musa as bercerita kepada firaun tentang siapa sebenarnya Allah SWT, tentang Rahmat-Nya, tentang surga-Nya, dan tentang kewajiban mengesankan-Nya dan menyembah-Nya. Beliau berusaha membangkitkan aspek-aspek kemanusiaan firaun  melalui pembicaraan tersebut. FIraun mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nabi Musa as dengan penuh kebosanan. Firaun membayangkan bahwa seseorang yang diharapannya adalah orang gila yang nekat untuk menentang dan menggoyang kedudukannya.
Kemudian firaun mengangkat tangannya dan berbicara
“apa yang engkau inginkan, hai Musa?
Nabi Musa as menjawab :
“Aku ingin agar engkau membebaskan bani israil”
Fir’aun bertanya :
“Mengapa aku harus membebaskan mereka bersamamu sementara mereka adalah budak-budakku?”
Musa menjawab :
“mereka adalah hamba-hamba Allah SWT, Tuhan pengatur alam semesta”
Dengan nada mengejek Fir;aun bertanya :
“BUkankah engkau mengatakan bahwa namamu Musa?”
Nabi Musa as menjawab :
“benar”
Firaun berkata :
“Bukankah engkau yang kami temukan di sungail Nil saat engkau masih kecil yang tidak mempunyai daya dan kekuatan? Bukankah engkau Musa yang aku didik di istana ini, lalu engkau memakan makanan kam dan meminum air kami, dan engkai menikmati kebaikan-kebaikan dari kami? Bukankah engkau yang membunuh seseorang lalu setelah itu engkau lari? Tidakkah engkau ingat semua itu? Bukankah mereka mengatkaan bahwa pembunuhan merupakan suatu kekufuran? Kalau begitu, engkau seorang kafir dan engkau seorang pembunuh. Jadi engkau adalah Musa yang lari dari hokum mesir. Engkau adalah seseorang yang lari dan menghindari keadilan. Lalu sekarang engkau datang kepadaku dan berusaha berbicara denganku. Engkau berbicara tetang apa hai Musa. Sungguh aku telah lupa”
“siapakah Tuhan semesta alam itu?” (Qs. 26 : 23)
Nabi Musa as menjawab :
“Tuhan pencipta lagi dan bumi dan apa-apa yang di antaranya keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya” (Qs 26 : 24)
Berkata firaun kepada orang-orang sekelilingnya :
“Apakah kamu tidak mendengarkan?” (Qs. 26 : 25)
Musa berkata dan tidak memperdulikan ejekan Firaun itu :
“Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu” Qs. 26 : 26)
Firaun berkata bahwa nabi  Musa as adalah tukang sihir dan jika sihir itu yang akan dibanggakan oleh nabi Musa as, maka iapun mempunyai tukang-tukang sihir pula.
Lalu firaun mengumpulkan tukang-tukang sihirnya, untuk bertanding melawan nabi Musa as di suatu area yang telah ditentukan waktu dan tempatnya.
Di antara mereka ada yang melemparkan tali, tongkat, maka berubahlah tongkat dan tali itu menjadi ular yang menjalar. Lalu nabi Musa as merasa takut, karena telah dikelilingi ular-ular yang berbisa.
Lalu Allah memerintahkan kepada Musa dengan firmanNya :
“Lemparkanlah tongkat yang ditangan kananmu, nanti berubah menjadi ular yang besar yang akan menelan segala perbuatan mereka itu, sesungguhna kerja mereka itu adalah tipu daya tukang sihir saja dan sekali-kali tidaklah akan menang tukan sihir itu, meskipun bagaimanapun juga”
Kemudian semua ahli sihir itu tunduk sujud kepada Nabi Musa as. Karena melihat tukang sihirnya telah beriman kepada nabi Musa demikian pula isterinya (siti asiah), maka firaun bertambah kemarahannya, sehingga isterinya disiksa hingga meninggal, demikian juga orang-orang yang beriman disiksa dengan sangat berat.
Akhirnya nabi Musa as bersama-sama orang yang beriman pergi keluar dari mesir, setelah mereka tidak berdaya lagi di negeri Mesir, maka dikejarlah mereka sampai ke laut merah, dan laut pun berubah menjadi jalan besar dan membelah menjadi dua untuk dilalui nabi Musa as dengan pengikut-pengikutnya.
Ketika firaun dengan bala tentaranya mengejar dari belakang dan ketika mereka sampai di pertengahan laut, maka air lauput pun bertaut kembali menjadi satu, kemudian mereka tenggelam semuanya, sebagaimana firman Allah :
“Maka firaun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka” (Qs. 20 : 78)
Setelah nabi Musa as, dan kaumnya bebas dari kejaran firaun, awalnya mereka mengembara. Pada saat mereka mengembara, dan tiba di suatu tempat mereka melihat para penyembah berhala. Dan kaum nabi Musa ingin melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan. Namun nabi Musa as mengingatkannya, mereka pun tersadar dan lalu bertaubat karena keinginan mereka untuk berbuat syirik.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mencari tempat tinggal yang sesuai untuk ditempati. Lembah, bukit dan padang pasir pun mereka lewati. Dan ketika mereka berada di tengah-tengah padang pasir yang tandus, mereka berkata : “WAhai, nabi Allah, mintalah kepada Allah Supaya menurunkan makanan dan minuman untuk kami”, kemudian nabi Musa as pun berdoa dan Allah SWT mengabulkan doa nabi Musa as. Langi pun melimpahkan makanan untuk mereka. Betapa pemurahnya Allah kepada para hamba-Nya, padahal mereka sebelumnya pernah berniat untuk menyekutukan-Nya.
Kemudian Nabi Musa as mengajarkan isi Taurat kepada umatnya. Nabi Musa as meninggal dunia di padang Tih pada usia yang ke 120 tahun.

 
Diberdayakan oleh Blogger.