Cari Blog Ini

SEBAB NABI ISA KEMBALI KE BUMI

Nabi Muhammad S.A.W. adalah rasul terakhir dengan membawa kitab Al-Qur’an. Jadi mengapa di dalam hadist disebutkan bahwa Yesus (Isa A.S.) akan kembali lagi sebagai rasul? Bukankah itu artinya Nabi Muhammad S.A.W. bukan rasul terakhir?
Jawaban:
Nabi Muhammad S.A.W. adalah rasul terakhir. Dan tidak akan ada kitab baru yang akan diwahyukan setelah Al-Qur'an. Dan kedatangan Yesus (Isa A.S.) yang kedua tidak disebutkan secara gamblang di dalam Al-Qur'an namun disebutkan di dalam hadist. Hadist-hadist tersebut di antaranya adalah:

  1. Rasulullah bersabda: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga turun kepada kalian Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil, ia mematahkan salib, membunuh babi, menghentikan jizyah dan melimpahkan harta sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerima pemberian harta. (Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Al-Qurthubi.)
  2. Rasulullah bersabda: “Bagaimana keadaan kalian apabila Ibnu Maryam turun di antara kalian sedangkan yang menjadi imam (pemimpin) kalian berasal dari kalangan kalian sendiri?” (HR. Bukhari: no. 2296.)
  3. Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: Saya mendengar Nabi bersabda: “Akan senantiasa ada di antara umatku satu kelompok yang berperang di atas kebenaran, mereka senantiasa menang hingga hari kiamat.” Beliau bersabda: “Lantas Isa ibnu Maryam turun, maka pemimpin kelompok tersebut berkata, ‘Kemarilah, shalatlah sebagai imam kami!’ Maka Isa menjawab, “Tidak, sebagian kalian memimpin sebagian yang lain sebagai penghormatan Allah terhadap umat ini.” (HR. Bukhari: Kitabu ahaditsil anbiya’ no. 3193 dan Muslim: Kitabul iman no. 222, 223, 224.)
Jadi mengapa Yesus harus kembali untuk kedua kalinya?
Pertama-tama, Yesus (Isa A.S.) tidak kembali lagi sebagai seorang rasul. Dia kembali sebagai pengikut Nabi Muhammad S.A.W. Itulah mengapa ketika dia turun dengan menempatkan kedua tangannya pada bahu para malaikat di menara putih Damaskus. Berikut ini hadistnya:

“Ketika Allah telah mengutus al-Masih Ibnu Maryam, maka turunlah ia di menara putih di sebelah timur Damsyiq dengan mengenakan dua buah pakaian yang dicelup dengan waras dan za’faran, dan kedua telapak tangannya diletakkannya di sayap dua Malaikat; bila ia menundukkan kepala maka menurunlah rambutnya, dan jika diangkatnya kelihatan landai seperti mutiara. Maka tidak ada orang kafirpun yang mencium nafasnya kecualipasti meninggal dunia, padahal nafasnya itu sejauh mata memandang. Lain Isa mencari Dajjal hingga menjumpainya dipintu Lud, lantas dibunuhnya Dajjal. Kemudian Isa datang kepada suatu kaum yang telah dilindungi oleh Allah dari Dajjal, lalu Isa mengusap wajah mereka dan memberi tahu mereka tentang derajat mereka di surga (Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrathis Sa ‘ah, Bab DzikrAd-Dajjal 18: 67-68).

Kemudian dia pergi ke Al-Quds, maka dia akan shalat di belakang pemimpin muslim pada saat itu. Dia kembali sebagai pengikut hukum syariah yang telah diberikan kepada Nabi Muhammad S.A.W. Kemudian Yesus (Nabi Isa A.S.) akan mematahkan kayu-kayu salib, membunuhi semua babi, dan menghapuskan jizyah. Meskipun jizyah merupakan bagian dari syariah, tapi Nabi bersabda bahwa dia akan menghapuskannya.
Kenapa Yesus (Nabi Isa A.S.) harus kembali lagi? Alasannya karena agama Yahudi dan Kristen. Terlebih lagi dalam sudut pandang Yudaisme. Singkatnya, tidak ada seorang Yahudi pun yang menerima Yesus sebagai messiah. Salah satu alasannya adalah, jika Kristen mengaku-ngaku bahwa Yesus (Isa A.S.) telah terbunuh dan disalib, maka hal itu cukup bagi para Yahudi karena Yesus (Isa A.S. ) pastinya bukan messiah.
Karena para Yahudi tahu dari kitab suci mereka dan Tuhan telah bernubuat kepada mereka, bahwasanya sang messiah akan datang dan mendirikan kerajaan Tuhan di muka bumi. Itu artinya dia akan mendirikan hukum syariah yang berasal dari Tuhan, dan dia akan berseru agar umat manusia di seluruh muka bumi menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

Dan kita sebagai umat muslim juga percaya bahwa Yesus akan kembali lagi ke bumi. Kemudian dia akan memerintah di bumi sebagai penguasa yang adil selama 40 tahun dan tidak akan ada agama lain kecuali agama Islam. Jadi itulah mengapa Yesus harus kembali untuk memenuhi ramalannya yang diberikan kepada umat Yahudi dan Tuhan tidak pernah melanggar janji-Nya.

Karena pada masa kerasulan Yesus (Isa A.S.), dia ingin dibunuh dan disalib oleh orang-orang, maka Allah mengangkatnya. Jadi Yesus tidak terbunuh dan dia tidak disalib karena dialah sang messiah.

PROSES PEMBENTUKAN HUJAN




Dalam sebuah ayat Al Qur’an disebutkan sifat angin yang mengawinkan dan terbentuknya hujan karenanya.
وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ
Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. QS Al-Hijr ayat 22
Dalam ayat ini ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke 20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin yang menggerakkan awan. Namun penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran “mengawinkan” dari angin dalam pembentukan hujan.

Fungsi mengawinkan dari angin ini terjadi sebagaimana berikut:
Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer. . Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan dan kemudian jatuh ke Bumi dalam bentuk hujan.
Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan.
Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfer bagian atas tidak akan pernah terbentuk dan hujanpun tidak akan pernah terjadi.
Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat Al Qur’an, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam.
Pembentukan Hujan
Proses terbentuknya hujan masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan.
Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, “bahan baku” hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk. Akhirnya, curahan hujan terlihat.
Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas dalam Al-Qur’an berabad-abad yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan,
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. QS Ar-Ruum ayat 48
Tiga Tahapan
Tahap 1 : “Dialah yang mengirim angin,…”
Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut “perangkap air”.
Tahap 2 : “…lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal…”
Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.
Tahap 3 : “…lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya…”
Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel -partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’anlah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.
Dalam sebuah ayat, informasi tentang proses pembentukan hujan dijelaskan :
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ 
Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. QS An-Nuur ayat 43
Para ilmuwan yang mempelajari jenis-jenis awan mendapatkan temuan yang mengejutkan berkenaan dengan proses pembentukan awan hujan. Terbentuknya awan hujan yang mengambil bentuk tertentu, terjadi melalui sistem dan tahapan tertentu pula. Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut:
Tahap 1 : Pergerakan awan oleh angin
Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.
Tahap 2 : Pembentukan awan yang lebih besar
Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar
Tahap 3 : Pembentukan awan yang bertumpang tindih
Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dsb. (Anthes, Richard A.; John J. Cahir; Alistair B. Fraser; and Hans A. Panofsky, 1981, The Atmosphere, s. 269; Millers, Albert; and Jack C. Thompson, 1975, Elements of Meteorology, s. 141-142)
Kita harus ingat bahwa para ahli meteorologi hanya baru-baru ini saja mengetahui proses pembentukan awan hujan ini secara rinci, beserta bentuk dan fungsinya, dengan menggunakan peralatan mutakhir seperti pesawat terbang, satelit, komputer, dsb. Sungguh jelas bahwa Allah telah memberitahu kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu.
Kadar Hujan
Fakta lain yang diberikan dalam Al Qur’an mengenai hujan adalah bahwa hujan diturunkan ke bumi dalam kadar tertentu. Hal ini disebutkan dalam Surat Az Zukhruf sebagai berikut ;
وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ
Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). Qs Az Zukhruf ayat 11
Kadar dalam hujan ini pun sekali lagi telah ditemukan melalui penelitian modern. Diperkirakan dalam satu detik, sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini menghasilkan 513 trilyun ton air per tahun. Angka ini ternyata sama dengan jumlah hujan yang jatuh ke bumi dalam satu tahun. Hal ini berarti air senantiasa berputar dalam suatu siklus yang seimbang menurut “ukuran atau kadar” tertentu. Kehidupan di bumi bergantung pada siklus air ini. Bahkan sekalipun manusia menggunakan semua teknologi yang ada di dunia ini, mereka tidak akan mampu membuat siklus seperti ini.
Per tahunnya, air hujan yang menguap dan turun kembali ke Bumi dalam bentuk hujan berjumlah “tetap” yakni 513 triliun ton. Jumlah yang tetap ini dinyatakan dalam Al Qur’an dengan menggunakan istilah “menurunkan air dari langit menurut kadar”. Tetapnya jumlah ini sangatlah penting bagi keberlangsungan keseimbangan ekologi dan, tentu saja, kelangsungan kehidupan ini,.
Bahkan satu penyimpangan kecil saja dari jumlah ini akan segera mengakibatkan ketidakseimbangan ekologi yang mampu mengakhiri kehidupan di bumi. Namun, hal ini tidak pernah terjadi dan hujan senantiasa turun setiap tahun dalam jumlah yang benar-benar sama seperti dinyatakan dalam Al Qur’an.(hy/islamanswered)

SIAPAKAH MALAIKAT JIBRIL?

Jibril, adalah Malaikat Allah yang tugasnya menyampaikan wahyu dan juga malaikat pembawa rezeki. Malaikat Jibril adalah salah satu nama di antara tiga nama malaikat yang di sebut dalam Al Quran. Nama malaikat Jibril di sebut dua kali dalam Al Quran, yakni pada surat Al - Baqarah ayat 97 - 98 dan At Tahrim pada ayat 4. Banyak julukan yang tersemat pada malaikat Jibril, seperti Ruh al Amin dan Ruh al Qudus ( Roh Kudus ), Ar - Ruh Al - Amin dan lainnya. Beginilah bentuk fisik malaikat Jibril :

Bentuk fisik Ruhul’qudus, ada tertera dalam uraian mengenai kisah nabi Muhammad kala beliau mendapat wahyu kali ke dua dan nabi menuntut untuk bertemu atau melihat rupa asli sang utusan Tuhan dari langit dalam rupa yang asli atau bagaimana sesungguhnya dzat wujud Jibril tanpa rupa samar sebagaimana di berkali - kali sang utusan ( ruhul’qudus ) selalu nampak dalam rupa seorang manusia biasa.
Ruhul’Qudus tampak wujudnya dengan enam ratus sayap antara masyrik dan maghrib, ( barat - timur ) sayap dan busana kebesarannya putih laksana mutiara yang larut, dengan rupa yang begitu elok dan rupawan, dan dengan kekuatan yang dahsyat penuh mukzijat.
Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya ( Al Quran ) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa ( kitab - kitab ) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat - malaikat - Nya, rasul - rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang - orang kafir ".
Wujud para malaikat telah dijabarkan didalam Al Qur an ada yang memiliki sayap sebanyak 2, 3 dan 4. Surah Faathir 35:1 yang berbunyi:
"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan - utusan ( untuk mengurus berbagai macam urusan ) yang mempunyai sayap, masing - masing ( ada yang ) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan - Nya apa yang dikehendaki - Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu" ( Faathir 35:1 )
Kemudian dalam beberapa hadits dikatakan bahwa Jibril memiliki 600 sayap, Israfil memiliki 1200 sayap, dimana satu sayapnya menyamai 600 sayap Jibril dan yang terakhir dikatakan bahwa Hamalat al-’Arsy memiliki 2400 sayap dimana satu sayapnya menyamai 1200 sayap Israfil.
Wujud malaikat mustahil dapat dilihat dengan mata telanjang, karena mata manusia tercipta dari unsur dasar tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk tidak akan mampu melihat wujud dari malaikat yang asalnya terdiri dari cahaya, bahkan Muhammad sendiri pun disebutkan secara jelas hanya mampu melihat wujud asli dari malaikat Jibril sebanyak dua kali. Dikatakan bahwa Muhammad telah melihat wujud asli dari Malaikat Jibril yang memiliki sayap sebanyak 600 sayap.
"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu ( dalam rupanya yang asli ) pada waktu yang lain" ( An-Najm 53:13 ).
Dalam kisah suci perjalanan Isra’ Mi’raj, sesampainya di pos perjalanan Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril tidak sanggup lagi mendampingi Rasulullah untuk terus naik menghadap kehadirat Allah SWT, Jibril berkata : "Aku sama sekali tidak mampu mendekati Allah, perlu 60.000 tahun lagi aku harus terbang. Itulah jarak antara aku dan Allah yang dapat aku capai. Jika aku terus juga ke atas, aku pasti hancur luluh".

LAUH AL- MAHFUDZ

Lauh al-Mahfudz dianggap wilayah rahasia yang hanya bisa diakses oleh para malaikat utama atau hamba Tuhan lainnya yang dianggap layak.
Lauh al-Mahfudz belum banyak dibahas orang. Kitab-kitab tafsir pun tidak menguraikan panjang lebar apa itu Lauh al-Mahfudz.

Dalam literatur yang ada Lauh al-Mahfudz biasa diartikan dengan sebuah kitab atau peranti keras raksasa yang menyimpan seluruh data atau cetak biru terhadap segala peristiwa yang terjadi dari zaman azali sampai kiamat.

Dikatakan dalam hadis bahwa tidak jatuh sehelai daun melainkan sudah tercatat di dalam kitab itu. Lauh al-Mahfudz (QS al-Buruj/85: 22) sering disinonimkan dengan Umm al-Kitab (QS ar-Ra'd [13]:39), Kitab Maknun (QS al-Waaqi'ah [56]:77), dan Kitab al-Mubin (QS al-An'aam [6]:59).

Lauh al-Mahfudz dianggap wilayah rahasia yang hanya bisa diakses oleh para malaikat utama atau hamba Tuhan lainnya yang dianggap layak. Lauh al-Mahfudz dianggap gudang rahasia, karena itu kalangan jin dari golongan setan berusaha mencuri informasi itu untuk berbagai kepentingan memainkan akidah manusia.

Para malaikat penjaga Lauh al-Mahfudz sangat disiplin berjaga di sekitarnya. Jika ada setan yang berusaha mencuri berita, maka malaikat  penjaga Lauh Mahfuzh akan melemparkan bintang ke arahnya, sebagaimana disebutkan dalam Alquran:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang-(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syetan yang terkutuk, kecuali syetan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (QS al- Hijr [15]:16-18).

Ibnu Arabi menghubungkan antara Lauh Mahfuz dan perkawinan makrokosmos. Seperti yang sering dikatakannya, semua makhluk (al-khalq) diciptakan Tuhan (al-Haq) idealnya berpasang-pasangan, sebagaimana disebutkan, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah”. (QS adz-Dzariyat [51]:49).

Ia mencontohkan, pasangan makrokosmos langit (as-sama') dan bumi (al-ardh), malam (al-lail) dan siang (an-nahar), surga (al-jannah) dan neraka (an-nar), Adam dan Hawa, akal (al-aql) dan jiwa (an-nafs), dan pena /(al-qalam) dan buku/papan tulis (al-lauh).

Pasangan-pasangan ini menunjukkan adanya interaksi secara fungsional satu sama lain. Ia mencontohkan fungsi interaktif tersebut dengan yang dan yin dalam tradisi Taoisme. Pasangan-pasangan tersebut satu yang bersifat aktif (yang) dan yang lainnya bersifat reseptif (yin).

DZIKIR DALAM AL QURAN



 DZKIR adalah ingat
1. Q. S. Al-Ahzab : 41-42 :“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”

2. Q. S. Al-Baqarah : 152 : “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.”

3. Q. S. Ar-Ra’d : 28 : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

4. Q. S. Ali Imran : 190-191 : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

5. Q. S. Az-Zukhruf : 36 :“Barangsiapa yang berpaling dari zikir akan Allah, Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”

6. Q. S. Al-Anfaal : 45 :“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”

7. Q. S. Al-Jumu’ah : 10 :“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

8. Q. S. Al-Ahzab : 35 : “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

9. Q. S. Al-A’raaf : 205 :“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”

10. Q. S. Al-Hasyr : 19 : “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”


Dari beberapa ayat Al-Qur’an tersebut di atas, sudah jelaslah bahwa Allah SWT memerintahkan kita supaya banyak berdzikir kepada-Nya serta menegaskan bahwa dzikir itu adalah suatu rangka dari kesempurnaan iman yang harus dikekalkan oleh hamba-hamba-Nya yang beriman dan dengan berdzikrulah hati menjadi tenang. Dan orang-orang yang lalai dalam mengingat Allah maka dia akan menjadi temannya setan. Walhasil, orang Mu’min yang benar-benar beriman kepada Allah dan ingin memperoleh kesempurnaan imannya, maka dia tidak akan melengahkan untuk selalu ber-dzikrullah.

PENGHAMBAAN ATAU ILAH

Aqidah Islam sebenarnya merupakan kebulatan nilai yang telah menjadi suatu simpul yang kokoh dari nilai-nilai iman yang jumlahnya lebih dari 70. Termasuk di dalamnya yang paling sederhana adalah menyingkirkan duri dari jalanan dan yang paling tinggi serta sentral adalah kalimat tauhid Laa ilaaha illallah.

         
Melihat begitu pentingnya kalimat tauhid Laa ilaaha illallah yang merupakan sentral dan landasan bagi seorang muslim maka kita wajib memahami hal ihwal yang terkandung di dalam kalimat tauhid tersebut, salah satu diantaranya adalah tentang ILAH DAN PENGHAMBAAN, yang tentunya akan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai perwujudan (manifestasi) jati diri seorang muslim sejati yang dikehendaki oleh ajaran Islam yang Maha Tinggi dan Suci.

         
Dalam bahasa Arab kata “penghambaan” disebut “Ubudiyah”. Kata ini berkaitan erat dengan kata ILAH, sebab diantara arti ILAH adalah “al-ma’bud”. ILAH itu sendiri berasal dari kata ALIHA yang artinya :

1. Sakana ilaihi artinya tenang kepadanya.
Jadi seseorang apabila mengingat atau melihat seseorang yang digandrungi, menjadi tenang hatinya. Jika seseorang meng-ILAH-kan Allah berarti ia akan selalu tenang apabila disebut atau mengingat-Nya.
Firman Allah : “Sesungguhnya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”. (Q.S. Ar-Ra’d : 28)

2. Istijarobihi artinya meminta perlindungan kepadanya.
Jika seseorang meng-ILAH-kan sesuatu dia akan meminta perlindngan kepadanya. Baik perlindungan itu bersifat fisik ataupun non-fisik (kejiwaan). Perlindungan menjamin akan adanya rasa keamanan. Seseorang yang meng-ILAH-kan Allah senantiasa merasa aman apabila ia telah mendekatkan diri kepada-Nya. Ia merasa perlindungan Allah senantiasa menyertainya.

3. Ittaja ilaihi bi syuqin artinya hatinya menuju ke sana dengan penuh kerinduan.
Seseorang akan selalu merindukan apa saja yang di-ILAH-kannya. Rindu untuk bertemu. Dengan demikian yang meng-ilah-kan Allah akan merasa rindu untuk bertemu dengan-Nya.
Firman Allah SWT : “Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya”. (Q.S. An Naba’ : 39)

4. Wuli’a bihi artinya cendrung kepadanya.
Seseorang yang cendrung kepada sesuatu akan didominasi sesuatu yang digandrunginya itu. Fikiran, perasaan, dan perbuatannya selalu diilhami atau dilatarbelakangi oleh yang dicenderungi itu.

            Keempat makna ILAH ini berkaitan satu sama lain, dan merupakan rangkaian yang tak dapat dipisahkan. Seseorang yang meng-ILAH-kan sesuatu merasa dirinya senantiasa dilindungi oleh sesuatu itu. Hingga tumbuh rasa aman dan ketenangan bila merasa dekat, tiada berjarak dengannya. Setiap manusia pasti mendambakan suasana ketentraman dan ketenangan diri. Dan jika hal itu sudah dirasakannya maka dia tak mau berpisah lagi dengannya. Kerinduannya senantiasa menyertainya. Kerinduan adalah awal dari cinta. Sedangkan cinta adalah awal dari penyerahan total : perasaan, fikiran, dan perbuatan. Dalam situasi ini seseorang hanyut dalam sesuatu yang amat dicintai dan dirinduinya. Inilah yang disebut kegandrungan/kecenderungan. Jika sesuatu itu tidak bisa ditemuinya terasalah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Kehidupannya menjadi hampa dan seakan tiada arti lagi.

            Empat makna ILAH inilah yang merupakan indikator-indikator adanya suatu penghambaan. Jadi suatu penghambaan ditentukan lebih banyak oleh faktor internal jiwa manusia terhadap sesuatu di luar dirinya. Perbuatan-perbuatannya yang bersifat zahir hanyalah cermin atau manifestasi keadaan jiwanya. Bukan perbuatan yang lahir dari sebuah tekanan luar (ekstrnal), pemaksaan ataupun teror. Penghambaan juga tidak ditentukan oleh sifat kematerialan “ilah-ilah”. Dan memang sepanjang sejarah manusia tak pernah satu generasipun dari mereka yang mengaku bahwa benda-benda mati memiliki sebuah keistimewaan yang sakral. Mereka selalu menyebutnya sebagai perantara atas sesuatu yang ghaib di balik “ilah-ilah” material itu. Dan justru Al-Qur’an menggaris bawahi hakekat penghambaan dengan makna ini. Firman Allah dalam Al Qur’an : “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai bani Adam supaya kamu tidak menyembah (menghamba kepada) setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”. (Q.S. Yasin : 60)
Dalam usaha menyesatkan manusia, setan tidak menjelmakan dirinya dalam bentuk fisik. Namun, lebih banyak lewat bisikan-bisikan kepada hati manusia yang menyebabkan mereka tersesat meski di satu sisi masih bersujud mengerjakan shalat.

DEFINISI AL QURAN



a.   Menurut Bahasa
Lafaz Al-Qur’an berasal dari kata “Qara’a” yang berarti “membaca”. Hal ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an:
 “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (Q.S. Al-Qiyamah: 17-18)
b.   Menurut Istilah
Al-Qur'an ialah firman Allah yang merupakan mu’jizat dan diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril as. yang ditulis dalam mushaf dan membacanya adalah ibadah.
Cara-Cara Al-Qur’an Diturunkan / Diwahyukan
  Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an berdasarkan dalil ayat Al-Qur’an dan riwayat Hadits shahih melalui tiga tahap yaitu :
Tahap Pertama, Al-Qur’an berada di Lauh Mahfuzh, sebagaimana firman Allah:
 “padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (Q.S. Al-Buruuj: 20-22)
Ketika Al-Qur’an berada di Lauh Mahfuzh tidak diketahui bagaimana keadaannya, kecuali Allah yang mengetahuinya, karena waktu itu Al-Qur’an berada di alam ghaib, kemudian Allah menampakkan atau menurunkannya ke Baitul ‘Izzah di langit bumi. Secara umum, demikian itu menunjukkan adanya Lauh Mahfuzh, yaitu yang merekam segala qadha dan takdir Allah SWT, segala sesuatu yang sudah, sedang, atau yang akan terjadi di alam semesta ini. Demikian ini merupakan bukti nyata akan mengagungkan kehendak dan kebijaksanaan Allah SWT yang Maha Kuasa.
Jika keberadaan Al-Qur’an di Lauh Mahfuzh itu merupakan Qadha (ketentuan) dari Allah SWT, maka ketika itu Al-Qur’an adanya persis sama dengan keadaannya sekarang. Namun demikian hakekatnya tidak dapat diketahui, kecuali oleh seorang Nabi yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya. Dan segala sesuatu yang terjadi di bumi ini telah tertulis dalam Lauh Mahfuzh sebagaimana firman Allah :
 “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.S. Al Hadiid: 22)
Tahap Kedua, Al-Qur’an dari Lauh Mahfuzh diturunkan ke langit bumi (Baitul ‘Izzah)
Berdasarkan kepada beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan Hadits berkah yang dinamakan malam Al-Qadar (Lailatul Qadar) dalam bulan suci Ramadhan. Sebagaimana firman Allah :
 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.”(Q.S Al-Qadr: 1)
Dan firman Allah :
 “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Q.S. Al Baqarah: 185)
Dan firman Allah :
 “sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Q.S. Ad-Dukhaan: 3)
Tiga ayat tersebut di atas menegaskan bahwa Al-Qur’an, diturunkan pada suatu malam bulan Ramadhan yang dinamakna malam Lailatul Qadar yang penuh berkah. Demikian juga berdasarkan beberapa riwayat sebagai berikut :
“Riwayat dari Ibn Abbas ra. berkata : Al-Qur'an dipisahkan dari Adz Dzikir lalu Al-Qur'an itu diletakkan di Baitul Izzah dari langit dunia, lalu Jibril mulai menurunkannya kepada Nabi.”
Dan hadis riwayat Ibnu Abbas :
“Riwayat dari Ibnu Abbas berkata : Al-Qur'an diturunkan sekaligus langit bumi (Bait Al-Izzah) berada di Mawaqi’a Al-Nujum (tempat bintang-bintang) dan kemudian Allah menurukan kepada Rasul-Nya dengan berangsur-angsur.”
Dan hadits riwayat Imam Thabrani :
“Riwayat dari Ibnu Abbas ra. berkata : Al-Qur'an diturunkan pada malam Al-Qadar pada bulan Ramadhan di langit bumi sekaligus kemudian diturunkan secara berangsur-angsur.”
Ketiga riwayat tersebut dijelaskan di dalam Al-Iqam bahwa ketiganya adalah sahih sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Suyuthy riwayat dari Ibn Abbas, dimana dia ditanya oleh Athiyah bin Aswad dia berkata : “Dalam hatiku terdapat keraguan tentang firman Allah dalam surah Al -  baqarah ayat 185 :
 “ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran…….”
dan firman Allah dalam surah Al – Qadr ayat 1:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”
Sedangkan Al-Qur’an ada yang diturunkan pada bulan Syawal, Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram, Safar dan bulan Rabi’ul Awwal dan Rabi’ul Akhir. Ibnu Abbas menjawab bahwa Al-Qur’an itu diturunkan pada bulan Ramadhan malam Lailatul Qadar secara sekaligus yang kemudian diturunkan kepada Nabi secara berangsur-angsur di sepanjang bulan dan hari.
Yang dimaksud dengan nujum (bertahap) adalah diturunkan sedikit demi sedikit dan terpisah-pisah, sebagiannya menjelaskan bagian yang lain sesuai dengan fungsi dan kedudukannya.
Al-Suyuthy mengemukakan bahwa Al-Qurthuby telah menukilkan hikayat Ijma’ bahwa turunnya Al-Qur’an secara sekaligus adalah dari Lauh Al-Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit pertama.
Barangkali hikmah dari penurunan ini adalah untuk menyatakan keagungan Al-Qur’an dan kebesaran bagi orang yang diturunkannya dengan cara memberitahukan kepada penghuni langit yang tujuh bahwa kitab yang paling terakhir yang disampaikan kepada Rasul penutup dari umat pilihan sungguh telah diambang pintu dan niscaya akan segera diturunkan kepadanya.
As-Suyuthy berpendapat andaikata tidak ada hikmah Ilahiyah yang menyatakan turunnya kepada umat secara bertahap sesuai dengan keadaan niscaya akan sampai ke muka bumi secara sekaligus sebagaimana halnya kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Tetapi karena Allah SWT membedakan antara Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya, maka Al-Qur’an diturunkan dalam dua tahap, turun secara sekaligus kemudian diturunkan secara berangsur sebagai penghormatan terhadap orang yang akan menerimanya.
Tahap Ketiga : Al-Qur’an diturunkan dari Baitul-‘Izzah kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari dengan cara sebagai berikut :
a.  Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi SAW tidak ada melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu (wahyu) sudah ada dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: “Ruhul Qudus mewahyukan ke dalam qalbuku.”
     Firman Allah SWT :
 “Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”(Q.S. Asy Syuuraa : 51).
b.  Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.
c.  Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit : “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa.”
d.  Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan point b, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al-Qur’an :
Artinya : “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.” (Q.S. An-Najm: 13-14)
Hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur
Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari, tentunya mengandung hikmah. Adapun  hikmah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur itu ialah :
a. Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dari riwayat ‘Aisyah ra.
b.  Diantara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kemaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al-Qur’an diturunkan sekaligus. (Ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh).
c.  Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
d.  Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surah Al-Furqaan: 32 :
“. . . . mengapakah Al-Qur'an tidak diturunkan kepadanya sekaligus . . . . ?” Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri :
 “ . . . . Demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu . . . . “
e.  Di antara ayat-ayat yang ada merupakan jawaban daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas ra. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al-Qur’an diturunkan sekaligus.
Ayat-ayat Makkiyyah dan ayat-ayat Madaniyyah
Ditinjau dari segi masa turunnya, maka Al-Qur’an itu dibagi atas dua golongan:
a.  Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah atau sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Makkiyyah.
b.  Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Madaniyyah.
Ayat-ayat Makkiyyah terdiri dari 86 surah sedang ayat-ayat Madaniyyah terdiri atas 28 surah. Dengan demikian jumlah surah dalam Al-Qur’an adalah sebanyak 114 surah, yang diawali dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Naas.
Perbedaan ayat-ayat Makkiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah ialah :
a.  Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya pendek-pendek, sedang ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang; surah Madaniyyah ayat-ayatnya berjumlah 1.456, sedang surah Makkiyyah jumlah ayat-ayatnya 4.780 ayat. Juz 28 seluruhnya Madaniyyah kecuali surah Mumtahinah, ayat-ayatnya berjumlah 137; sedang juz 29 ialah Makkiyyah kecuali surah Ad-Dahr, ayat-ayatnya berjumlah 431. Surah Al Anfaal dan surah Asy Syu’araa masing-masing merupakan setengah juz tetapi yang pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua Makkiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227.
b.  Dalam surah-surah Madaniyyah terdapat perkataan “ya ayyuhalladzina aamanu” dan sedikit sekali terdapat perkataan “yaa ayyuhannaas”, sedang dalam surah-surah Makkiyyah adalah sebaliknya.
c.  Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti, sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum, baik yang berhubungan dengan hukum adat atau hukum-hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketatanegaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antar agama dan lain-lain.
Nama-Nama Al-Qur’an
Allah memberi nama Kitab-Nya dengan Al-Qur’an yang berarti “bacaan”. Arti ini dapat kita lihat dalam Al-Qur'an sebagai berikut :
 “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (Q.S. Al-Qiyamah: 17-18)
Nama ini dikuatkan oleh ayat-ayat yang terdapat di dalam Al-Qur'an sebagai berikut :
 “Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".(Q.S. Al Israa’:88)
 “Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Q.S. Al Baqarah: 85)
 “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur'an yang agung.” (Q.S.Al Hijr: 87)
 “Sesungguhnya Al Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia” (Q.S. Al Waaqi’ah: 77)
 “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.“ (Q.S. Al Hasyr: 21)
Dari pengertian ayat-ayat tersebut di atas jelaslah bahwa Al-Qur’an itu dipakai sebagai nama bagi Kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.
Selain Al-Qur’an, Allah juga memberi beberapa nama lain bagi Kitab-Nya, seperti :
a.  Al Kitaab atau Kitaabullah : merupakan sinonim dari perkataan Al-Qur’an sebagaimana tersebut dalam surah Al Baqarah ayat 2 :
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
     Dan surah Al An’aam 114 :
 “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur'an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.”
b.  Al-Furqaan : “Al-Furqaan” artinya “Pembeda” ialah yang membedakna yang benar dan yang batil, sebagai tersebut dalam surah Al-Furqaan ayat 1 :
 “Maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al Furqaan, kepada hamba-Nya, agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam.”
c.  Adz-Dzikir artinya “Peringatan”, sebagaimana yang tersebut dalam surah Al Hijr ayat 9 :
 “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan “Adz-Dzikir” dan sesungguhnya Kamilah penjaganya.”
      Dan surah An Nahl ayat 44 :
 “Keterangan-keterangan (mu`jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”
Dari ke-empat nama tersebut di atas, yang paling masyhur dan merupakan nama khas ialah “Al-Qur’an”.
Selain dari nama-nama yang empat itu ada lagi beberapa nama bagi Al-Qur’an.
Surah-Surah dalam Al-Qur’an
Jumlah surah yang terdapat dalam Al-Qur’an ada 114, nama-namanya dan batas-batas tiap-tiap surah, susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah sendiri (taufiq).
Sebagian dari surah-surah Al-Qur’an mempunyai satu nama, dan sebagian yang lain mempunyai lebih dari satu nama, sebagaimana yang akan diterangkan dalam muqaddimah tiap-tiap surah.
Surah-surah yang ada dalam Al-Qur’an ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 (empat) bagian, yaitu :
a. Asab’uththiwaal, dimaksudkan, tujuh surah yang panjang. Yaitu Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa’, Al A’raaf, Al An’aam, Al Maa-idah dan Yunus.
b. Al-Miuun, dimaksudkan surah-surah yang berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti : Hud, Yusuf, Mu’min, dan lain-lain.
c. Al-Matsaani, dimaksudkan surah-surah yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat, seperti : Al Anfaal, Al Hijr, dsb.
d. Al-Mufashshal, dimaksudkan surah-surah pendek, seperti : Adh-dhuha, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas, dan sebagainya.

 
Diberdayakan oleh Blogger.