Cari Blog Ini

ILMU BATHIN ADALAH ILMU RAHASIA

Ilmu Bathin adalah Ilmu Rahasia.
Ketahuilah oleh anda, bahwa ilmu yang kami kemukakan dalam risalah ini adalah suatu ilmu rahasia yang halus dan dalam, jarang yang dapat memahaminya kecuali Ulama-ulama yang dalam pengertiannya (rasikh), yaitu mereka yang telah mendapatkan cahaya pada kata-katanya, suatu rahasia yang diwarisinya dari Para Nabi dan Para Aulia. Selain itu, mereka Ulama yang rasikh itu, benar-benar mengamalkan apa yang diamalkan oleh para Nabi dan Aulia, mereka telah mendapatkan “khashais” (beberapa keistimewaan) karena mengamalkan apa yang mereka ketahui. Allah berfirman :
“Wa Tilkanl-Amstaalu Nadlribuhaa Linnaasi,Wamaa Ya’qiluhaa Illal’Alimuun”
Artinya : “ Begitulah beberapa contoh dan missal yang kami kemukakan kepada manusia, namun tidak ada yang dapat memahaminya, kecuali orang-orang yang alim”
Rasulullah bersabda :
Nahhnu Ma’Aasyitul Anbiyaa’I Amaranaa an Nukallimannaasa’ Alaa Qadri ‘Uquulihim “
Artinya : Kami Para Nabi-nabi, Allah perintahkana kepada kami untuk berbicara kepada manusia, menurut tingkat kecerdasan mereka.
Menyampaikan hal-hal yang halus itu, bila tidak melihat tingkat kecerdasannya, maka akan menimbulkan fitnah dikalangan mereka. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w :
Maa Hadasta Ahadus Qauman Bi Hadiistin La Yablughuhu Uquluhum Illaa Kaana Fitnatan Lahum “
Artinya : Apapun yang dibicarakan seseorang kepada suatu kaum, dengan pembicaraan yang tingkat kecerdasan mereka tidak mampu untuk memahaminya, hanya akan menimbulkan fitnah terhadap mereka
Hadist Rasulullah :
“ innaa Minal ‘Ilmi Kahai’atil Maknuuni Laya’Lamuhu Illal ‘Aalimuun “
Artinya : Sesungguhnya ada ilmu itu laksana mutiara yang tersembunyi, tak ada yang mengetahui kecuali orang yang Alim Billah “
Orang yang Alim Billah itu ialah yang mengenal Dzat Allah, Sifat-sifatNya dan AsmaNya, serta Af’alNya. Allah menyertai ilmunya dan mereka amalkan dengan tekun apa yang mereka ketahui tanpa cacat. Imam Ghazali r.a menjelaskan di dalam Ihya ‘Ulumuddin : “ Larangan dimaksud berhubung sulit dan sukarnya faham”
Hadist selanjutnya menegaskan :
“ Ma Fadldlolakum Abuu Bakrin Bi Kastrati Shiyamin Wa Laa Bi Kastrati Sholaatin Walaakin Bisirrin Qorra Fii Sadrihi “
Artinya : Kelebihan Abu Bakar dari padamu, bukanlah karena banyak sholat dan banyak puasa, tetapi kelebihan itu karena suatu rahasia yang terletak didadanya “
Catatan :
Khusus untuk ini perlu sedikit penjelasan tentang :
1. Apa yang dimaksud rahasia dan .
2. Siapa yang dimaksudkan ahlinya.
Menurut kajian dan pengamatan, bahwa rahasia yang dimaksud menyangkut 2 segi. Pertama : Rahasia yang dapat dikatakan, ditulis dan dijabarkan. Kedua : Ada pula Rahasia yang tidak mungkin untuk diucapkan, ditulis dan dijabarkan. Menurut istilah, yang dimaksud rahasia adalah sesuatu yang tersembunyi. Didalam bahasa arab dikatakan  “ SIR ” .  Ilmu tersembunyi psykologi (ilmu jiwa) atau ilmu Batin adalah sesuatu ilmu yang membicarakan tentang apa-apa yang tersembunyi pada diri manusia. Ilmu ini adalah tergolong pada segi pertama diatas. Begitu pula tentang Ilmu Metafisika, ilmu yang mengungkapkan apa-apa yang ada dibalik alam nyata ini. Itupun juga termasuk ilmu yang tersembunyi. Rahasia pada segi kedua, ialah hakekat atau arti yang sebenar-benarnya dari sesuatu yang tersembunyi dari segi yang pertama itu. Misalnya, siapakah yang dapat menunjukkan secara tepa apakah itu “RASA”. Apakah rasa itu seperti Atom, molekul, Jauhar? Dan sebagainya… dan sebagainya.. Tak ada seorangpun yang sanggup menunjukkan dengan tepat, meskipun jaman kini sudah demikian majunya tehknologi. Tidak ada seorangpun yang dapat mengingkari adanya rasa? Namun tidak ada yg mampu mengetahui dengan pasti, apakah RASA itu?. Pembicaraan dalam pembahasan kita ini, adalah membicarakan hal-hal yang tersembunyi, yaitu pembicaraan sepanjang yang dapat ditulis, dikatakan dan dijabarkan, namun tetap dalam langkiran yang dikatakan isyarat dan itibar. Siapakah yang dimaksud Ahlinya ? Banyak yang menyangka dan berpendapat bahwa mempelajari tasawuf ketuhanan ini, haruslah sudah matang dalam hal-hal syariat, mendalam ilmu Fiqihnya, harus tahu segala hokum secara terperinci (tafshili). Katanya janganlah kita berikan ilmu rahasia ini kepada yang selain itu. Akhirnya banyak pengajian dalam hal ilmu ini secara sembunyi-sembunyi, diajarkan malah oleh orang yang bukan ahlinya. Manusia ingin mencari kepuasan batin dengan mencari ilmu kearah itu, akan tetapi bila diberati dengan bermacam syarat dan ketentuan yang dirasa sulit untuk dilaksanakan, akhirnya mereka mundur teratur atau timbul kecenderungan untuk pengisian batin itu dengan cara-cara yang praktis, yang malah timbul hasil sebaliknya tidak sesuai dengan ajaran yang benar. Tapi apa mau dikata, mereka merasa mendapat pengisian batin sesuai hajat mereka. Kita jangan heran, bahwa orang yang berada ditempat padang pasir yang sedang kehabisan air dan tidak menemukan apa-apa untuk pelepas dahaga, disaat demikian, air kotor yang bagaimanapun akan diminum. Sebagi yang disabdakan oleh Rasulullah, “ Kadal Faqru ‘Yuristul Kufra ‘, artinya : hampir saja orang yang faqir itu menderita kekafiran.
Guru-guru saya dan saya sendiri tidak sependapat, bahwa untuk mempelajari ilmu ini, harus lengkap dengan ilmu-ilmu yang lain. Pengertian yang dikatakan “ Ahlinya “ ialah orang-orang yang memiliki kecerdasan dan intelenjia untuk dapat memahami permasalahannya, dan ada kegairahan untuk mendalami masalah kebatinan. Tentu saja mereka sudah harus mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, meskipun pengertian mereka secara “ ijmali” (global = jumlah). Sebagai seorang muslim, mereka tentu mengerti dan mengucapkan dua kalimah syahadat, sholat, puasa dan sebagainya yang mereka laksanakan. Apabila ada “ Ala Qadri ‘Uqulihim” (menurut ukuran kecerdasannya) ternyata tidak mungkin diberikan, maka jelas sekali akan membawa bahaya bagi si penuntut. Kecerdasan itu tentu saja dilihat dari segi usia atau umur yang menurut ilmu jiwa bahwa kecerdasan manusia sesuai dengan peningkatan umurnya. Dan tidak mungkin juga diberikan kepada seseorang meskipun cukup usia, tetapi sikapnya terlihat ciri-ciri kebodohan atau bebal. Hal ini tergantung dengan pengamatan seorang guru terhadap murid-muridnya. Kalau sekiranya kita gunakan pendapat yang pertama, dimana harus mendalami syariat, ilmu fiqih, dan lain-lain secara mendalam, apakah hal tersebut dapat dilakukan? Sedangkan waktu untuk mencurahkan perhatian terhadap hal tersebut memerlukan waktu yang panjang, bagaimana jika habis umur?.

MENGENAL DIRI DAN MENGENAL TUHAN

3. Mengenal diri dapat Mengenal Tuhan, setelah mengenal Tuhan dia tidak mengerti lagi terhadap dirinya.
Makrifat itu ta’alluq ( berhubungan ) dengan pengenalan terhadap diri. pengenalan diri berhubungan pula kepada pengenalan terhadap Allah. Selanjutnya bila seseorang itu sudah makrifat kepada Allah, barulah dia menyadari bahwa dia sendiri sebenarnya tidak mempunyai pengetahuan apa-apa. Hadist Rasulullah :
” ‘Arafukum Birabbihi ‘Arafukum Binafsihi”
Artinya : ” Orang yang benar-benar makrifat kepada Allah, adalah yang lebih mengerti/ kenal terhadap dirinya “
Makrifat adalah ” Kasaf “ yang maksudnya, terbuka baginya hakikat segala sesuatu ini, Fana dirinya, kemudian fanalah fana itu sendiri, artinya bukan dirinya sendiri yang memfanakan, tetapi Allah-lah yang memfanakannya. Dari Tingkat ini langsung mencapai tingkat Baqo Billah,
yang maksudnya, Allah meliputi segala-galanya.
Akan terasa kemanisan dan keindahannya, lebih manis dari pada gula, lebih indah dari pada yang indah. Tentang Fana ini, dapat kita bagi dalam 3 tingkatan.
  1. FANA ILMU : Fana segala sesuatu ini pada hakikatnya, dilihat dari segi ilmu dan pengetahuan anda.
  2. FANA ‘AIN : Fananya segala sesuatu ini, sepanjang pandangan mata hati anda.
  3. FANA HAQ : Fana dalam arti sebenarnya, fana dirinya dan fana yang dilihatnya menurut pengertian hakiki.

TAJALLI DZAT

Pada bagian ini akan diterangkan tentang Tajalli zat, hendaklah anda kethui, bahwa Tajalli Zat itu atas tujuh martabat (Tingkat “Tanazzul” (turun) dari Hidratus-Sarij yaitu Hidrat Zat semata-mata yang pengertiannya tidak menyangkut sifat dan asma atau dlam pengertian lain, lepas dari pada isyarat.
Arif Billah Sayyid Abdullah bin Ibrahim Al-Mirghani q.s dalam Kitab beliau Tuhfatul Mursalah menyebutkan : “Kunhi Zat Allah s.w.t. tidak dapat digambarkan oleh akal dan indera (hissi) yang lima, tidak terbatas (haq) dengan ukuran akal dan pancaindra maka uaha yang demikian termasuk usha yang mustahil, Hal itu hanya mungkin dicapai dengan jalan kasyaf.
Penjelasan Martabat Tanazzul :
  1. Martabat Ahadiyat :Martabat (tingkat) ini dinamakan pula dengan “martabat Kunhi Zat” yaitu keadaan Zat semata-mata, dari sini nyata apa yang dinamakan sifat dan asma. Tidak ada martabat lain yang lebih atas dari pada ini. Semua martabat yang berikut ini, bersumber dari martabat ini.
  2. Martabat Wahdah : Tingkat ini dalah tingkat sifat secara keseluruhan (ijmal) dengan segala nama, disinilah hakekat Nabi Muhammad s.a.w, yaitu sebagai asal jadi dari segala yang jadi, hawiyatul-alam atau hakekat alam. Segala apapun adalah dari Nur Muhammad s.a.w. sebagaimana sabda Beliau :  “ awwalumaa Khalaqallahu Nuura Naiyyika Yaa Jaabiru Wa Khalaqa Minhul-asyyaa’a Wa Anta Min Tilkal Ayaa’i”
 Artinya : “ Mula-mula yang dijadikan adalh Nur Nabimu Ya Jabir, Dan Allah jadikan dari nur itu, segala sesuatu ini. Dan engkau Hai Jabir termasuk pada sesuatu itu”
 Pada Hadist yang lain Nabi bersabda : “ Ana Minallaahi Wal Mu’minuuna Minni”
Artinya : “Aku adalah dari pada Allah, dan orang-orang Mukmin adalah dari padaku”
 Sabda Nabi s.a.w. : “Innallaaha Khalaqa Ruuhannabiyyi Shalallaahu’Alaihi Wasallama Min Dzaatihi Wa Khalaqal Aalama Biasrihi Min Nuuri Muhammadin Shallahu Alaihi Wasallama”
Artinya : Sesungguhnya Allah ciptakan Roh Nabi Muhammad dari Zat-Nya, lalu Allah ciptakan alam dengan rahasiaNya dari pada Nur mUhammad s.a.w “
 Selain itu ada juga suatu riwayat dari Abdurrazaq r.a. yang diterimanya dari pada Jabir r.a. Jabir pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. “Ya Rasulullah beritahukanlah kepadaku, apakah yang mula-mula sekali Allah jadikan?”
Rasulullah menjawab :  “ Yaa Jaabiru Innallaaha Khalaqa qablal Asy-yaa’i Nura Nabiyyika Min Nuurihi”
Artinya : Sesungguhnya Allah ciptakan sebelum adanya sesuatu, adalah Nur Nabimu dari pada Nur-Nya.”
 Dari Hadist-hadist ini jelaslah bahwa kejadian Nur Muhammad s.a.w.adalah Nur-Zat-Nya.
Allah berikan nama dengan Nur-Nya sebagai tercamtum di dalam Al-Quraan yang mulia :
“ Laqad Ja’Akum Minallahi Nurun”
Artinya : Sesungguhnya telah Allah datangkan untuk kamu Nur dari pada Allah. Yaitu Nur Muhammad s.a.w.
 Sebagaimana kita ketahui bahwa Nur adalah salah satu nama Allah s.w.t. Diambil nama itu untuk Nabi kita karena tidak lain daripadaNya jua dalam arti Hakiki.
Untuk memudahkan pengertian kita misalkan “matahari” dengan “cahaya matahari”. Cahaya matahari menunjukkan tentang adanya si matahari, tetapi cahayanya itu sendiri sebenarnya bukanlah matahari pada rupa/bentuknya (surah) namun cahaya matahari itu dapat kita sebutkan matahari sepanjang gambaran arti saja. (itibar ma’na). Karena bilamana cahayanya tidak ada, kita akan mengatakan tidak ada matahari padahal matahari itu bukanlah cahaya.
Berhubung hal ini adalah suatu “kebenaran (haq)” maka Allahpun memberikan pula nama yang lain kepada beliau dengan nama Al-Haq yang nama ini adalah juga salah satu dari nama-nama Allah.s.w.t. sebagaimana firmanNya: “Yaa Ayyuhan-Nassu Qad Ja’akumul Haqqu Min (R) Rabbikum”
Artinya : “Wahai manusia, telah datang Al-Haq dari pada Tuhanmu, yaitu Nabi Muhammad s.a.w.”
  1. Martabat Wahidiyah Pada martabat ini nyata pula sifat dan asma itu dalam arti “munfashil” (terurai). Pada martabat wahdah nyata sifat dan asma dalam arti ijmal maka pada martabat ini adalah arti munfashil. Dari sini pula lahirnya Kalam Qadim (ucapan Allah Yang Maha Sedia) yaitu “annahu Anallahu” artinya, sesungguhnya Akulah Allah. Adanya tuturan kata (khitob) dengan “kalam qadim” itu berarti ada yang “dituturi” (sasaran pembicaraan) yaitu alam sifat dan asma.
Ketiga tiga martabat yang tersebut itu adalah Qadim. Adapun terjadinya susunan pada tingkat tingkat itu hanya sekedar suatu gambaran semata-mata (amrun ‘ittibary) janganlah hendaknya diartikan seolah olah terdapat tingkat menurut ukuran masa dan ruang atau tempat.
Maka nyata dengan jelas pada alam asma dan alam sifat roh Nabi Muhammad.s.a.w. menyeluruh pada hidlrat wahda dan teruarai pada hidlrat wahidiyah. Pada alam syahadah/alam nyata ini, diartikan awal dari segala yang jadi (tercipta) awal dari segala mumkinat yang datang dari hidlrat Mahabbah sebagai yang tersebut dalam Hadist Rasulullah s.a.w.,suatu hadist Qudsi (Firman Allah S.w.t.) yang berbunyi : “ Kuntu Kanzan Mahkfiyyan, Fa Ahbabtu An’Urufa, Fa Khalaqtul Khalqa Liya’Rifani”
Artinya : “Aku (Allah) adalah suatu perbendaharaan yang tersembunyi, lalu Aku berkeinginan dikenal maka Kujadikanlah mahkluk (Muhammad s.a.w.) agar dia kenal atau ma’rifat kepadaKu”
Lalu kemudian zahirlah Nabi Muhammad s.a.w. di alam syahadah atau alam nyata ini, yang dari padanya jua jd segala isi alam ini.
Rasulullahpun bersabda : “ Ana Abul Ruhii  Wa Aadamu Abul Basyari”
Artinya : “ Akulah bapak atu sumber dari segala roh, dan Adam bapak atau sumber segala tubuh (basyariat).”
 Kata Syekh Abdul Ghani An’Nablusi q.s  di dalam Syarah Fushush “ Roh segala jasad itu adalah satu, sedang yang berbilang ini hanyalah nafas. Maka nafas itulah yang mengalami mati, namun roh tidak akan mati karena berdirinya roh itu adalah dengan Haq Ta’ala pada semua keadaan ”.
Nabi Muhammad s.a.w. sebagai uraian yang terdahulu adalah jelas sebagai bapak/sumber dari segala sesuatu ini, serta sumber dari segala hayat kehidupan.
Berarti dengan itu jelas pulalah bahwa “mesrahlah Nur Muhammad pada segala sesuatu ini, laksana mesranya air pada tumbuh tumbuhan. Pafham fainnahu muhimmun (fahamilah,sungguh hal ini sangat penting).
Syekh Muhammad ibnu Abdul Karim As-Saman r.a. berkata dalam susunan Sholawat pada kitab Minnahul Muhammadiya : “Alifudz-dzatis-sariyyi Sirruha Fii Kulli Dzarratin. Ha’un Haayatul’alami Alladzii Minhu Mabda’uhu Wa Maqarruhu”
Artinya : Alif Zat, adalah mesra rahasianya pada segala zarrah, dan Ha adalah Hayatul alam ( kehidupan alam semesta ) dari situlah permulaan dan menetapnya”
Alif dan Ha yang dimaksud ini di itibar dari huruf huruf yang tertera pada nama Nabi Muhammad s.a.w. dengan nama yang lebih dikenal dilangit ialah Ahmad.

SURGA DARI CITRA MUHAMMAD

Catatan ; Pahami betul metafor yang  digunakan, agar  tidak terjebak pada makna-makna simbolnya.
Shurah (Citra) Muhammad adalah tajalli al Haq dengan nama-Nya al Mannan (Yang memberi nikmat). Darinya al Haq menciptakan surga-surga, kemudian Dia bertajalli dengan nama-Nya al Lathiif (Yang lemah lembut). Yang dijadikan tempat bagi segenap manusia mulia dan insan-insan yang dimuliakan oleh-Nya. Surga itu terbagi atas delapan tingkatan, setiap tingkat memiliki taman-taman surga yang banyak sekali, setiap taman memiliki tingkatan yang tidak terbilang jumlahnya.

Tingkat Pertama : Surga Salaam, surga ini dinamakan juga surga al Mujazah (balasan), al Haq menciptakan pintu surga ini dari amal shaleh (laku kabaikan), di dalamnya Dia bertajalli dengan nama-Nya al Hasiib (Yang menghitung-hitung). Penghuni surga ini murni karena perolehan pahala dari laku kebaikan, sabda Rasulullah  Muhammad  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Orang seorang tidak akan masuk surga dengan amalnya, adalah beliau maksudkan khusus untuk surga Mawahib (pemberian), adapun surga al Mujazah, untuk memasukinya adalah dengan amal-amal shaleh (perbuatan baik), terkait dengan hak penghuni surga ini al Haq berfirman : Bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. (Q.s. an Najm 53 : 39 – 41). Dengan demikian tidak seorangpun bisa memasuki surga ini, kecuali dengan amal (perbuatan) baik. Semantis logikanya barang siapa yang tidak berbuat amal shaleh, tidak akan bisa memasukinya. Surga ini juga dinamakan al Yusrah, al Haq berfirman : Adapun orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah, dan bertaqwa. Dan membenarkan adanya pahala yang baik. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginyajalan yang mudah. (Q.s. al Lail 92 : 5 – 7) maksudnya adalah laku perbuatan yang sedikit, tapi diterima oleh-Nya, keterkabulan itu membuat pelakunya dimudahkan memasuki surga.

Tingkat Kedua : Surga Khuldi atau surga al Makasib (perolehan). Perbedaan antara surga al Mujazah dan surga al Makasib. Surga al Mujazah terkait dengan kadar perbuatan baik yang membuahkan balasan dari-Nya, sedang surga al Makasib merupakan keberuntungan murni, karena surga ini produk daripada aqidah (keyakinan) dan prasangka baik kepada al Haq. Esensinya surga balasan hasil kerja fisik sedang surga perolehan murni karena pemberian tanpa kerja fisik, al Haq menampakkan diri-Nya kepada penghuni surga ini dengan nama-Nya al Badi’ (Yang menjadikan). Dia tampakkan diri-Nya kepada para pemeluk keyakinan yang lurus dan benar yang tidak menciptakan bid’ah-bid’ah ketuhanan. Pintu surga ini terbuat dari aqidah yang benar dan prasangka baik kepada al Haq, serta Rajaa’ (Harapan) kepada-Nya, tidak akan bisa masuk surga ini kecuali mereka yang terkait dengan ketiga hal tersebut. Surga ini dinamakan dengan al Makasib, sebab lawan dari perolehan adalah kerugian, yang disebabkan oleh prasangka buruk kepada al Haq, Dia berfiman : Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orangyang merugi. (Q.s. Fushshilaat 41 : 23) Insan yang mentradisikan prasangka buruk kepada al Haq, akan terjerembab ke dalam api kerugian tak bertepi, sedangkan orang yang mentradisikan prasangka baik kepada al Haq, akan menjadi penghuni surga al Makasib.

Tingkat Ketiga: Surga Mawahib (pemberian). Ketahuilah pemberian al Haq tidak berpenghabisan, Dia Maha Memberi, kadang pemberian-Nya jamak lebih banyak kepada hamba yang tiada beramal dan tidak berkeyakinan, ketimbang kepada hamba-Nya yang beramal dan berkeyakinan, ada hikmah berserak dibalik realita tersebut, yang patut direnungkan. Dalam surga ini terdapat para pemeluk setiap agama, dan jenis manusia dari berbagai bangsa dari anak cucu Adam as, mereka yang memasuki surga ini akan tampak dihadapan mereka nama-Nya al Wahhab (Yang memberi). Tidak ada satupun yang memasuki surga ini, kecuali atas pemberian al Haq, dialah sejatinya surga yang disabdakan Rasulullah  Muhammad  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , Surga itu tiada satupun yang bisa masuk karena amalnya. Para sahabat bertanya, sampai engkau sekalipun wahai rasul, ? Rasul saw menjawab bahkan aku sendiripun tidak bisa, kecuali orang-orang yang beroleh rahmat pemberian-Nya, surga ini paling luas dari surga-surga yang ada, surga ini pula sejatinya dari firman-Nya, Rahmat Ku, meliputi segala sesuatu, tidak ada satupun yang mampu menjangkau rahasia dibalik kehendak pemberian-Nya, kepada mereka-mereka yang dimasukkan ke dalam surga ini sejalan dengan kehendak-Nya. Bahkan akal dan estimasi tidak akan mampu menakarnya, siapa saja yang akan beroleh nikmat pemberian-Nya dimasukkan surga ini, karena hal itu murni hak preogratif al Haq, akal dan estimasi manusia tidak mampu menakarnya. Warta ketuhanan mengabarkan, penghuni surga ini terdiri atas pemeluk agama-agama dari segala generasi (kurun) dari berbagai bangsa yang ada dalam makro kosmos, bukan semua pemeluknya tapi sebagian pemeluk agama-agama tersebut, ini jelas berbeda dengan surga al Mujazah yang dikhususkan bagi insan-insan pelaku amal shaleh. Surga al Makasib disebut surga terluas, karena tiket masuknya adalah al Ribh (keberuntungan), sedang modal keberuntungan itu diperoleh dengan prasangka baik kepada al Haq, dan kelurusan aqidah, surga ini (al Mawahib) adalah yang terluas dari surga-surga yang ada. Surga inilah sejatinya yang disebut dalam firman Qur’ani dengan al Ma’wah. al Haqberfirman : Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Qs. as Sajdah 32 : 19). Penyebutan surga dengan redaksi tempat kediaman bukan balasan, sebagai bentuk pewartaan bahwasanya Dia memasukkan mereka ke surga pemberian, bukan surga balasan ataupun surga perolehan. Proses penurunan mereka ke surga itu adalah dengan prosedur ketuhanan yang diatur dalam pundi-pundi rahasia al Haq. Kasih pemberian dan apresiasiNya tidak terbatas melalui laku kebaikan, terlebih hanya dikhususkan bagi pelaku kebaikan saja, Pahami ini dengan jeli dan betul!

Tingkatan Keempat: Surga al Istihqoq (kepemilikan), Surga al Na’im (kenikmatan), Surga al Fitroh (fitrah). Surga ini bukan merupakan balasan atau pemberian, surga ini diperuntukkan bagi orang-orang khusus, yang eksis pada ketentuan hakiki kodrat penciptaan mereka karenanya surga ini merupakan hak dan milik asli insan-insan yang pergi dari alam dunia ini sedang ruh mereka tetap pada fitrah penciptaan dasar, surga ini juga milik mereka yang menjalani kehidupan transendental sepanjang umurnya di dunia ini, sementara ruh mereka dalam naungan fitrah, yakni mereka adalah para Bahlul (cacat mental), anak-anak yang belum menginjak akil balig, orang-orang yang tidak waras (gila). Surga ini diperuntukkan bagi mereka-mereka yang mensucikan dirinya dengan amal shaleh, laku Mujahadah, Riyadlah, dan Mua’amalah yang baik bersama al Haq, sehingga ruh mereka terjernihkan dari kisi-kisi keburukan sifat kemanusiaan, dan kembali ke fitrah penciptaannya. Sedang fitrah dasar penciptaan manusia itu seperti yang difirmankan al Haq. Sesungguhnya Kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (Q.s. at Tiin 95 : 4) namun ketika manusia mengotori dirinya, Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. (Q.s. at Tiin 95 : 5), sedangkan manusia-manusia yang mensucikan dirinya, merekalah itulah yang diapresiasikan al Haq dalam firman-Nya, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh : maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (Q.s. at Tiin 95 : 6). Surga ini dinamakan surga kepemilikan, karena mereka memang berhak masuk kedalamnya, tanpa proses, ganjaran, pemberian, perolehan dari laku amal kebaikan. Manusia-manusia yang mensucikan jiwa mereka hingga bisa kembali ke fitrah penciptaan, itulah yang disebut al Abraar, (para pembakti) al Haq berfirman : Sesungguhnya orang-orang banyak berbakti, benar-benarberada dalam surga yang penuh kenikmatan. (Q.s. al Infithaar 82 : 4) makna yang tersirat dari ayat ini adalah, bahwasanya al Haq bertajalli kepada para penghuni surga ini dengan nama-Nya al Haq, mereka yang tidak mensucikan fitrah penciptaannya, tidak berhak memasuki surga ini. Mereka yang berusaha mensucikan jiwanya lantas dipanggil keharibaan-Nya, ia berhak memasuki surga ini, diantara penghuninya ada juga insan yang telah dimasukkan neraka-Nya, hingga dosa-dosanya tersterilkan, dan kembali ke fitrahnya, setelah itu al Haq memasukkannya ke dalam surga ini. Atap surga ini bernama Arsy, berbeda dengan atap-atap surga sebelumnya, surga al A’lah atapnya bernama al Adna, surga Salaam atapnya bernama Khuldi, sedangkan surga Khuldi atapnya bernama surga al Ma’wah, adapun surga Ma’wah atapnya bernama surga al Istihqoq, surga al Fitrah atau surga al Na’im atapnya adalah Arsy.

Tingkatan Kelima: Surga Firdaus, ia adalah surga makrifat, buminya membentang luas tak bertepi, semakin tinggi penghuninya mendaki semakin mengerucut keluasannya, bahkan puncaknya lebih kecil dibandingkan lubang jarum, tidak ada pepohonan, sungai, istana, bidadari, kecuali jika sang penghuni melihat ke surga di tingkatan bawahnya, jika mereka menginginkan kenikmatan surgawi itu ia bisa turun ke surga ditingkat bawah. Di surga makrifah ini tidak didapati bidadari, para muda tampan atau istana-istana surgawi, surga ini berada didepan pintu Arsy, penghuni surga ini selalu Musyahadah (dalam nuansa penyaksian), karena penghuninya merupakan para penyaksi, yakni penyaksi keagungan dan keindahan, serta kebagusan serta kasih kebaikan Ilahiyah (ketuhanan), mereka gugur dalam naungan rasa kasih cinta dijalan al Haq, dan Dia mencintai mereka, para penghuni surga ini adalah para pecinta al Haq yang gugur dengan pedang fana’ (ekstase) atas nasfsu-nafsu diri mereka, sehingga tidak menyaksikan kecuali kekasih sejati (al Haq) mereka. Surga ini dinamakan pula dengan surga’ Wasilah’ (penghubung) karena makrifah merupakan penghubung antara orang yang arif dengan yang dimakrifahi Dia-lah al Haq, penghuni surga ini paling sedikit dibanding surga-surga lainnya, demikian halnya semakin tinggi dakian surga ini semakin sedikit pula penghuni puncaknya.

Tingkat Keenam: Surga Fadhilah (Keutamaan). Penghuninya adalah para Shidiqin (insan-insan yang mentradisikan kebenaran dan kelurusan), al Haq memberi apresiasi yang tinggi kepada mereka dan menempatkan mereka di Sisi Tuhan Yang Berkuasa surga ini disebut surga asma (nama-nama)-Nya, yang terhamparkan diatas tingkatan-tingkatan Arsy, penghuninya lebih sedikit ketimbang surga Firdaus atau Makrifat, namun kedudukannya paling tinggi dihadapan al Haq, karenanya penghuninya disebut penikmat kelezatan Ilahiyah (ketuhanan).

Tingkat Ketujuh : dinamakan surga al Darajah al Rafi’ah (tingkatan tinggi). la merupakan surga sifat-sifat-Nya dari dimensi nama-nama-Nya, ia surga dzat-Nya dari dimensi bentuk, buminya adalah dasar Arsy, penghuninya disebut ahli hakekat dan ahli makrifah hakekat-hakekat ke-Tuhan-an, penghuninya paling sedikit dibanding surga-surga-Nya yang lain, penghuninya merupakan al Muqorrobin (insan-insan paling dekat) dengan al Haq dan para khalifah (pengganti) ketuhanan. Mereka adalah insan-insan yang menyembunyikan diri dan memiliki hasrat kuat dalam mengarungi samudera kehakikian al Haq. Dalam pengembaraan ruhiyahku, aku melihat Ibrahim al Kholil (sang terkasih) berdiri disebelah kanan surga ini, melihat ke arah tengah, aku melihat komunitas para rasul dan nabi serta para kekasih Allah (wali), di sebelah kiri surga ini, mereka memfokuskan perhatian mereka ke arah tengah surga ini, aku melihat Rasulullah  Muhammad  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di tengah-tengah surga ini, sambil mengarahkan pandangan ke tiang pancang Arsy, memohon keharibaan-Nya maqom Mahmud (kedudukan mulia) dan al Haq mengabulkan permohonan baginda Rasulullah  Muhammad  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Tingkat Kedelapan : dinamakan surga Maqom Mahmud (Kedudukan Mulia). Ia merupakan surga dzat, buminya dari atap Arsy, yang tiada seorangpun bisa sampai kepadanya, setiap penghuni surga ini berusaha bisa Wushul (sampai) ke atap Arsy ini, sebagian orang berasumsi surga ini ditegakkan hanya dengan hakekat asma-Nya, prediksi mereka tidaklah salah, surga ini diperuntukkan bagi Rasulullah  Muhammad  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , sejalan dengan sabdanya dalam sebuah hadist Sesungguhnya Maqom Mahmud, merupakan tempat tertinggi di dalam surga, ia diperuntukkan hanya untuk satu orang saja, aku berharap satu-satunya orang itu adalah diriku. al Haq lantas mewartakan bahwasanya Dia mengabulkan permintaan Muhammad saw tersebut, dan mengkhususkan surga untuk beliau seorang. Kita wajib percaya dengan sabda Rasulullah  Muhammad  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut, Dan tiadalah yang dia ucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. (Q.s. an Najm 53  : 4 – 5)

Bahwa al Haq menciptakan dari citra Muhammad ini surga yang multi kenikmatan bagi para mukminin dan neraka dengan ragam siksa yang ada di dalamnya, al Haq juga menciptakan dari citra Muhammad ini citra Adam, sebagai bentuk duplikat dari citra Muhammad tersebut, ketika Adam diusir dari surga-Nya, maka terpisah pula citra dirinya, karena keterpisahannya dengan alam ruh. Pahamilah ketika Adam berada disurga, eksistensi fisiknya belum diwujudkan secara Lahiriyah seperti tubuh yg digunakan didalam dunia, ia hanya di-ada-kan al Haq dalam bentuk rasa, karenanya orang seorang tidak akan bisa memasuki surga-Nya, kecuali bila ia bisa menemukan rasa fitri-nya, ketika Adam diusir ke bumi rasa fitri-nya tetap tinggal di surga, karena kehidupan-nya di surga bercitrakan rasa yang lahir dari nafs-nya, sedang kehidupannya di dunia bercitrakan ruh, ia bakal mati kecuali yang dikekalkan al Haq, melihat kepada-Nya dengan pandangan dzat-Nya, hak-hak-Nya, sifat-sifat-Nya dan asma-asma-Nya. Nasibnya dalam kehidupan dunia ini bercitrakan Qudrah al Haq yang menentukan wajah kehidupannya di kampung akhirat, al Haq tidak memberi citra kepada nafs (jiwa) hamba-Nya, kecuali dalam ‘rasa’
Tingkat Kesembilan : Disebut surga Musyahadah ( Memandang Wajah Allah ” Kadzuljalali Wal Ikram “ ) , akan kita jelaskan  nanti dalam penjelasan tersendiri .

PENCIPTAAN TUBUH MUHAMMAD

Ka’ab al Ahbaar radhiy-Allahu ‘anhu mengatakan, “Ketika Allah SWT menginginkan untuk menciptakan Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Ia memerintahkan Malaikat Jibril untuk membawa kepada-Nya tanah liat yang menjadi jantung dari bumi, yang menjadi kemegahan dan cahayanya. Jibril pun turun, ditemani beberapa malaikat dari Tempat Tertinggi di Surga. Ia mengambil segenggam tanah untuk penciptaan Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam dari suatu tempat yang kini menjadi makam suci beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam; tanah itu berkilau putih cerah. Kemudian ia meramas dan mengadun tanah itu dengan air ciptaan terbaik dari Air Terjun Syurgawi Tasniim, yang berada dalam sungai-sungai jernih yang mengalir di Syurga. Ia mengaduninya sampai tanah itu menjadi suatu mutiara putih dengan pancaran warna putihnya yang cemerlang. Para malaikat membawanya, mengelilingi ‘Arasy Syurgawi dan gunung-gunung dan samudera. Dengan begitu, para malaikat dan seluruh makhluq menjadi tau akan keberadaan junjungan kita Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam dan kehormatan beliau; sebelum mereka mengetahui Adam.”
Ibn ‘Abbas radhiy-Allahu ‘anhumengatakan, “Asal usul dari tanah liat Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam adalah dari pusat bumi, di Makkah, di titik di mana Ka’bah berdiri. Kerana itu pula, Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam menjadi asal usul penciptaan, dan semua makhluq ciptaan adalah pengikut-pengikut beliau.”
Pengarang Awarif al Ma’arif [al-Suhrawardi], berkata bahawa ketika Banjir meluap, menebarkan buih ke seluruh penjuru, esensi dari Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam berhenti hingga ke suatu tempat di dekat tanah kubur beliau di Madinah, sehingga beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam menjadi seseorang yang termasuk dalam Makkah maupun Madinah.
Diriwayatkan bahawa ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan Adam ‘alaihissalam, Ia Subhanahu Wa Ta’ala mengilhamkan kepada Adam untuk bertanya, “Wahai Tuhan, mengapakah Engkau memberiku nama panggilan, Abu Muhammad (ayah dari Muhammad)?” Allah menjawab, “Wahai Adam, angkat kepalamu.” Adam pun mengangkat kepalanya dan ia melihat cahaya dari Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam dalam kubah ‘Arsy. Adam kemudian bertanya lagi, “Wahai Tuhan, cahaya apakah ini?” Allah menjawab, “Ini adalah cahaya dari seorang Nabi keturunanmu. Namanya di Syurga adalah Ahmad, dan di Bumi namanya Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam. Jika bukan demi dirinya, tentu Aku tidak akan menciptakan dirimu, tidak pula Langit, tidak pula Bumi.”
‘Abd al-Razzaq meriwayatkan, dari Jabir bin ‘Abdullah radhiy-Allahu ‘anhu, bahwa ia berkata, “Ya RasulAllah, semoga ayahku dan ibuku dikorbankan demi dirimu, ceritakan padaku tentang hal pertama yang Allah ciptakan, sebelum yang lain-lainnya.” Beliau menjawab, “Wahai Jabir, Allah menciptakan, sebelum apa pun yang lain, cahaya Nabimu dari cahaya-Nya. Cahaya itu mulai bergerak ke mana pun Allah kehendaki dengan Qudrat Ilahiah Allah. Pada saat itu belum ada Tablet (Lauh) belum pula Pena; belum ada Syurga mahupun Neraka, tidak ada malaikat; tidak ada Langit, tidak pula Bumi; tak ada Matahari mahupun Bulan, tak ada Jinn ataupun manusia. Ketika Allah ingin untuk menciptakan makhluq-Nya, Ia membagi cahaya itu menjadi empat bagian. Dari bagian pertama, Ia menciptakan Pena, dari yang kedua, Tablet (Lauh), dan dari yang ketiga, ‘Arasy. Kemudian, Ia membagi bagian keempat menjadi empat bagian: bagian pertama membentuk para pembawa ‘Arasy, bagian kedua menjadi penunjang kaki ‘Arasy, dan dari bagian ketiga Ia menciptakan malaikat-malaikat lainnya. Ia kemudian membagi bagian keempat menjadi empat bagian lagi: Ia menciptakan langit dari bagian pertama, bumi-bumi dari bagian kedua, Syurga dan Neraka dari bagian ketiga. Kemudian Ia membagi lagi bagian keempat sisanya menjadi empat bagian: menciptakan cahaya firasat orang-orang beriman dari bagian pertama, cahaya kalbu-kalbu mereka(iaitu ma’rifat Allah) dari bagian kedua, dan dari bagian ketiga Ia ciptakan cahaya kesenangan dan kegembiraan (Uns, yaitu Laa ilaha illa Allah, Muhammadun Rasuulullah).
Suatu riwayat lain dari ‘Ali ibn Al-Husain radhiy-A llahu ‘anhu dari ayahnya [iaitu Husain ibn 'Ali ibn Abi Talib, peny.] radhiy-Allahu ‘anhu, dari datuknya [iaitu 'Ali ibn Abi Talib] karram-Allahu wajhahu, dari Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam yang bersabda, “Aku adalah suatu cahaya di hadapan Tuhanku, empat belas ribu tahun sebelum penciptaan Adam.” Telah pula diriwayatkan bahwa ketika Allah menciptakan Adam ‘alaihissalam, Ia Subhanahu Wa Ta’ala menaruh cahaya itu di punggung Adam, dan cahaya itu biasa berkilau dari bahagian depannya, menelan seluruh sisa cahayanya. Kemudian Allah menaruh cahaya itu ke ‘Arasy Kekuasaan-Nya, dan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya membawanya di pundak mereka, dan memerintahkan mereka pula untuk membawa Adam berkeliling di Langit dan mempertunjukkan padanya keindahan-keindahan Kerajaan-Nya.
Ibn ‘Abbas radhiy-Allahu ‘anhu berkata, Penciptaan Adam adalah pada hari Jumat di sore hari. Allah kemudian menciptakan baginya Hawa’, istrinya, dari satu tulang rusuk kirinya ketika ia sedang tertidur. Saat ia bangun dan melihat Hawa’, Adam merasa tenteram dengannya, dan ia mulai merentangkan tangannya ke Hawa’. Malaikat berkata, “Berhenti, Adam.” Adam berkata, “Kenapa, tidakkah Allah menciptakannya untukku?” Mereka menjawab, “Tidak boleh hingga kau membayar mas kawin padanya”. Adam bertanya, “Apa mas kawinnya?” Para Malaikat menjawab, “Dengan membaca salawat atas Muhammad tiga kali.” [dan dalam riwayat lain, dua puluh kali].
Telah pula diriwayatkan bahawa ketika Adam ‘alaihissalam meninggalkan Syurga, ia melihat tertulis di kaki ‘Arasy dan di setiap titik dalam Syurga, nama Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam di samping nama Allah. Adam bertanya, “Wahai Tuhan, siapakah Muhammad?” Allah menjawab, “Dia adalah anakmu, yang jika seandainya tidak demi dirinya, tentu Aku tidak akan menciptakanmu.” Kemudian Adam berkata, “Wahai Tuhan, demi anak ini, kurniakanlah rahmat pada ayahnya.” Allah memanggil, “Wahai Adam, seandainya engkau akan bersyafa’at melalui Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam bagi seluruh penduduk Langit dan Bumi, Kami akan kabulkan permohonan syafa’atmu.”
‘Umar Ibn al-Khattab radhiy-Allahu ‘anhu berkata bahawa Sayyidina Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketika Adam berbuat dosa, ia berkata, ‘Ya Allah, aku memohon kepadamu demi Muhammad untuk mengampuniku.’ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman padanya, ‘Bagaimana dirimu tahu akan Muhammad padahal Aku belum menciptakannya?’ Adam menjawab, ‘Kerana ketika Engkau, Ya Tuhanku, menciptakanku dengan Tangan-Mu, dan meniupkan padaku dari Ruh-Mu, aku memandang ke atas dan melihat tertulis di kaki-kaki ‘Arasy, Laa ilaaha illallah, Muhammadun Rasuulullah. Aku tahu bahawa Engkau tidak akan menaruh  nama di samping Nama-Mu, melainkan pasti itu adalah nama seseorang yang paling Engkau-cintai dari makhluq-Mu.’ Allah berfirman, ‘Wahai, Adam, engkau telah mengatakan kebenaran: dialah yang paling Kucintai di antara makhluq ciptaan-Ku. Dan kerana engkau telah memohon pada-Ku demi dirinya, engkau kuampuni. Seandainya tidak untuk Muhammad, Aku tak akan menciptakanmu. Dialah penutup para Nabi dari keturunanmu.’”
Dalam Hadits Salman radhiy-Allahu ‘anhu, diriwayatkan bahwa Jibril ‘alaihissalam turun menemui Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Tuhanmu mengatakan, ‘Jika Aku telah menjadikan Ibrahim sebagai yang Ku-cintai, sahabat dekat (khalil), Aku pun menganggapmu demikian. Tak pernah Ku-ciptakan makhluq apa pun yang lebih berharga bagi-Ku daripada dirimu, dan telah Ku-ciptakan dunia ini dan penduduknya dengan maksud untuk membiarkan mereka mengetahui kehormatanmu dan mengetahui arti keberadaanmu bagi-Ku; dan seandainya tidak untukmu, tidaklah Kuciptakan dunia ini’”.
Hawa’ ‘alaihassalam melahirkan empat puluh anak dari Adam ‘alaihissalam, dalam dua puluh kali kelahiran; tetapi ia melahirkan Seth [atau Syits] ‘alaihissalam secara terpisah, sebagai kehormatan bagi junjungan kita Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, yang cahayanya berpindah dari Adam ke Seth. Sebelum wafatnya, Adam menitipkan pemeliharaan anak-anaknya kepada Seth, dan ia pun, sebagai gilirannya, mempercayakan pada anak-anak tersebut, wasiat dari Adam: untuk menaruh cahaya itu hanya pada wanita yang suci. Wasiat ini berlanjut, abad demi abad, sampai Allah memberikan cahaya itu kepada Abdul Muttalib dan puteranya, Abdullah. Dengan cara inilah, Allah menjaga kemurnian silsilah tanpa cela dari Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam, dari perzinaan orang-orang bodoh.
Ibn ‘Abbas radiyAllahu ‘anhu berkata, “Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tak satu pun perzinaan  menyentuh kelahiranku. Aku dilahirkan tidak lain hanya dengan pernikahan Islam.’”
Hisyam ibn Muhammad Al-Kalbi meriwayatkan bahawa ayahnya berkata, “Aku menghitung bagi (silsilah) Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam ada lima ratus ribu ibu, dan tak kutemukan di antara mereka satu jejak pun perzinaan, atau apa pun dari interaksi orang-orang bodoh.”
Ali radiyAllahu ‘anhu berkata bahawa Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku datang dari pernikahan, aku tidak datang dari perzinaan; dari Adam hingga diriku dilahirkan dari ayah dan ibuku, tak satu pun perzinaan orang jahil yang menyentuh diriku.”
Ibn ‘Abbas radiyAllahu ‘anhu berkata bahwa Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang tua moyangku tak pernah melakukan perzinaan. Allah menjaga memindahkanku dari sulbi yang baik ke rahim yang suci, murni dan tersucikan; bila saja ada dua jalan untuk berpindah, aku menuju ke yang terbaik di antara mereka.”
Anas radiyAllahu ‘anhu berkata bahawa Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam membaca, “La qad jaa-akum Rasuulum min Anfusikum” [QS. 9:128], dan bersabda, “Aku adalah yang terbaik di antara kalian dalam silsilahku, dalam hubungan-hubungan-ku dan nenek moyangku: tak ada perzinaan pada ayah-ayahku dalam setiap tingkat hingga ke Adam.”
‘Aisyah radiyAllahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam bahwa Jibril ‘alaihissalam berkata, “Aku telah meneliti Bumi dari timur ke barat, dan tak kutemui seorang manusia pun yang lebih baik dari Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, dan tak kutemui seorang anak laki-laki dari ayah mana pun yang lebih baik dari anak-anak Hasyim (Bani Hasyim).”
Dalam Sahih Al-Bukhari, Abu Hurairah radiyAllahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku telah diutus dari generasi terbaik dari Anak-anak Adam, satu demi satu hingga aku mencapai keadaanku sekarang ini.”
Dalam Sahih Muslim, Watsila ibn al-Aska’ meriwayatkan bahwa Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah telah memilih Kinana dari anak-anak Isma’il, dan Quraisy dari Kinana, dan dari Quraish, anak-anak Hasyim, dan akhirnya memilihku dari Bani Hasyim.”
Al ‘Abbas radiyallahu ‘anhu berkata Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah menciptakan makhluq, dan menempatkanku dalam kelompok-kelompok terbaik, dan yang terbaik dari dua kelompok; kemudian Ia memilih suku, dan menaruhku pada yang terbaik di antara keluarga-keluarga mereka. Kerana itulah, aku memiliki keperibadian terbaik, roh dan sifat terbaik, dan memiliki asal-usul terbaik di antara mereka.”
Ibn ‘Umar radiyAllahu ‘anhu berkata bahawa Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah memeriksa ciptaan-Nya dan memilih Bani Adam (manusia) dari mereka; Ia memeriksa Bani Adam dan memilih orang-orang Arab darinya; Ia memeriksa kaum Arab dan memilihku dari antara mereka. Kerananya, aku selalu menjadi yang terpilih di antara yang terpilih. Lihatlah, orang-orang yang mencintai kaum Arab, adalah karana cinta kepadaku hingga mereka mencintai kaum Arab, dan mereka yang membenci kaum Arab, adalah kerana mereka membenciku hingga mereka pun membenci Arab.”
Ketahuilah bahawa Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam tidaklah terkait (memiliki) secara langsung pada saudara laki-laki atau perempuan siapa pun dari orang tua-orang tuanya; beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam adalah anak satu-satunya mereka dan silsilah mereka berhenti pada beliau. Dengan begitu, beliau secara eksklusif ‘memegang penuh’ suatu silsilah yang Allah (SWT)inginkan menjadi yang tertinggi yang dapat dicapai suatu kenabian, dan yang memegang puncak kehormatan.
Jika Anda memeriksa status silsilah beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam dan mengetahui kesucian kelahiran beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Anda akan yakin bahawa silsilah beliau adalah suatu keturunan dari ayah-ayah yang terhormat, kerana beliau adalah Al-Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Al ‘Arabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Al Abtahi sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Al Harami sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Al Hasyimi sall-Allahu ‘alaihi wasallam, Al Quraisyi sall-Allahu ‘alaihi wasallam, elite dari Bani Hasyim, seseorang yang telah dipilih dari suku-suku terunggul bangsa Arab, dari silsilah terbaik, keturunan paling mulia, cabang yang paling subur, pilar tertinggi, asal usul terbaik, akar-akar terkuat, memiliki lidah terfasih, gaya bicara terhalus, darjat kebajikan) yang paling memberatkan, iman paling sempurna, persahabatan paling kuat, kaum kerabat paling terhormat dari kedua pihak orang tua, dan dari tanah Allah yang paling mulia. Beliau sall-Allahu ‘alaihi wasallam memiliki banyak nama dan yang paling terkemuka adalah Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam ibn (putera) Abdullah. Beliau juga adalah putera Abdul Muttalib, yang namanya adalah Syaybat-ul Hamd, anak Hasyim, yang namanya adalah Amr; anak dari Abd Manaaf, yang namanya adalah al-Mughiirah, anak dari Qusai, yang namanya adalah Mujammi’, anak dari Kilaab, yang namanya Hakiim, ibn Murra, ibn Ka’b (dari suku Quraisy), ibn Lu’ai, ibn Ghalib, ibn Fihr, yang namanya adalah Kinana, ibn Khuzaima, ibn Mudrika, ibn Ilias, ibn Mudhar, ibn Nizar, ibn Ma’add, ibn Adnan.
Ibn Dihia berkata, “Para ulama setuju dan kesepakatan ulama adalah bukti bahwa Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan silsilah beliau hingga Adnan, dan tidak menyebutkan di atas itu.”
Ibn ‘Abbas radiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa bila saja Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam menyebutkan silsilahnya beliau tak pernah menyebut di atas Ma’add, ibn Adnan, dan akan berhenti, dengan mengatakan, “Para genealogis (ahli silsilah) telah berbohong.” Beliau akan mengulangi ucapannya itu dua atau tiga kali. Ibn ‘Abbas juga berkata, “Di antara Adnan dan Isma’il ada tiga puluh ayah yang tak diketahui [namanya, red.].”
Ka’b al-Ahbaar radiyAllahu ‘anhu berkata, “Ketika cahaya Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam sampai pada Abdul Muttalib, dan dia telah mencapai usia kedewasaan, dia tidur suatu hari di halaman Ka’bah; ketika ia bangun, matanya terhiasi oleh kohl (celak), rambutnya terminyaki, tubuhnya terbalut dengan jubah yang indah . Ia terkejut, tak mengetahui siapa yang telah melakukan hal itu padanya. Ayahnya menggapai tangannya dan segera membawanya ke tukang ramal Quraisy; mereka menasihatinya untuk menikah, dan ia pun menikah. Bau dari misk terbaik biasa memancar keluar dari dirinya, dengan Nur (cahaya) dari Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam berkilauan dari dahinya. Bila saja terjadi kekeringan, kaum Quraisy biasa membawanya ke Gunung Tsabiir, dan berdoa kepada Allah melalui dirinya memohon Allah untuk menurunkan hujan. Allah akan menjawab doa mereka dan menurunkan hujan karana berkah dari Nur Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam.”
Ketika Abrahah, raja Yaman datang untuk menghancurkan rumah suci (Ka’bah) dan kabar tentang ini sampai ke kaum Quraisy, Abd al-Muttalib berkata pada mereka, “Ia tak akan sampai ke Rumah ini, karana Rumah ini di bawah perlindungan Tuhannya.” Dalam perjalanannya ke Makkah, Abrahah menjarah unta-unta dan domba kaum Quraisy, di antaranya empat ratus unta betina milik Abd Al-Muttalib. Ia dan banyak dari kaum Quraisy pergi ke Gunung Tsabiir. Setelah mendaki gunung tersebut, cahaya dari Nabiyullah sall-Allahu ‘alaihi wasallam muncul dalam bentuk suatu lingkaran di dahinya seperti sebuah bulan sabit, dan sinarnya terpantulkan ke Rumah Suci Ka’bah. Ketika ‘Abdul Muttalib melihat hal itu, ia berkata, “Wahai, kaum Quraisy, engkau boleh kembali sekarang, sudah aman. Demi Allah, kini cahaya ini telah membentuk suatu lingkaran pada diriku, tak ada keraguan bahwa kemenangan menjadi milik kita.”
Mereka kembali ke Makkah, di mana mereka bertemu seorang laki-laki yang diutus Abrahah. Saat melihat wajah ‘Abdul Muttalib, laki-laki tersebut tertegun, lidahnya tergagap-gagap. Ia pun pingsan, sambil melenguh seperti lembu jantan yang tengah disembelih. Ketika ia sadar kembali, ia pun jatuh bersujud kepada Abdul Muttalib, sambil berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau benar-benar Pemimpin Kaum Quraisy.”
Telah diriwayatkan pula bahwa ketika Abdul Muttalib muncul di depan Abrahah, gajah putih yang besar dalam pasukannya melihat ke wajah Abdul Muttalib dan jatuh berlutut seperti seekor unta, dan jatuh bersujud. Allah membuat gajah tersebut berbicara, berkata, “Keselamatan bagi cahaya di sulbimu, wahai Abd al-Muttalib.” Ketika pasukan Abrahah mendekat untuk menghancurkan Ka’bah suci, gajah tadi berlutut kembali. Mereka memukulinya kepalanya dengan hebat untuk membuatnya berdiri, yang tak mau ia lakukan. Tetapi, ketika mereka memutarnya menuju Yaman, ia pun berdiri. Kemudian Allah mengirimkan untuk melawan mereka, armada-armada burung dari lautan, setiap ekor dari mereka membawa tiga batu: satu dalam paruhnya, dan satu dalam setiap cakar kakinya. Batu-batu itu memiliki ukuran seperti miju-miju, dan jika satu batu mengenai seorang prajurit, prajurit itu akan terbunuh. Pasukan Abrahah lari tunggang langgang. Abrahah sendiri terserang suatu penyakit. Ujung-ujung jarinya terlepas, satu demi satu. Tubuhnya mengeluarkan darah dan nanah, dan akhirnya jantungnya terbelah, dan ia pun tewas.
Peristiwa inilah yang diacu oleh Allah ketika Ia berfirman pada Nabi-Nya sall-Allahu ‘alaihi wasallam, mengatakan, “Tahukah engkau bagaimana Tuhanmu memperlakukan Pasukan Gajah…” (QS Al-Fiil:1-5). Peristiwa ini adalah suatu tanda akan martabat dari junjungan kita, Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, dan suatu tanda akan kenabiannya, dan kedudukannya. Peristiwa ini juga menunjukkan kehormatan yang dikurniakan pada masyarakatnya, dan bagaimana mereka dilindungi, yang membuat kaum Arab menyerah pada mereka, dan percaya pada kemuliaan dan keunggulan mereka, kerana adanya perlindungan Allah atas diri mereka dan pembelaan-Nya pada mereka melawan plot dari Abrahah yang seakan-akan tak terkalahkan.
Tamat untuk Penciptaan Tubuh Suci Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam

NUR MUHAMMAD REALITAS RUHANI

Sesungguhnya yang pertama sekali diciptakan Allah SWT adalah suatu realitas gaib yang bersifat ruhani sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Muhammad SAW yaitu bahwa yang mula mula diciptakan oleh Allah adalah Nur Muhammad yang diciptakan dari cahaya Ketuhanan. Selanjutnya juga disampaikan bahwa yang pertama sekali diciptakan adalah Qalam dan Aqlu (akal), sehingga realitas ruhani dari hakikat Nur Muhammad tersebut difahami dalam beberapa realitas konsep yang pada hakikatnya adalah satu yaitu Sifat dari Zat yang bernama Allah
  • Disebut Nur atau Cahaya karena Nur Muhammad itu bebas dan bersih dari segala kegelapan dan atau karena dengan Nur Muhammad tersebut segala kegelapan hilang dan musnah.
  • Disebut Akal yaitu Akal Alam semesta karena dengan Nur Muhammad ini Allah melahirkan sifat Ilmu – Nya yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
  • Disebut Qalam atau Pena karena dengan Nur Muhammad ini Allah menyampaikan dan menyebarkan ilmu dan hikmah dalam bentuk dan rupa huruf, angka dan perkataan
  • Disebut Ruh atau Nyawa karena dengan Nur Muhammad ini Allah melahirkan sifat hayat yang berarti hidup dan menghidupkan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan makhluk dengan Tuhannya
Dengan pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa Nur Muhammad adalah sumber dari segala sesuatu yang berwujud. Dialah yang awal yang menjadi hakikat alam semesta. Allah menciptakan segala ruh dari ruhnya.
Nur Muhammad adalah nama bagi insan di alam gaib yaitu alam tempat berkumpulnya seluruh ruh sebelum diturunkan ke alam yang paling rendah yaitu alam kebendaan yang nyata.
” Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”  ( QS : 095 : At Tiin : Ayat : 04  05 )
  • Bahwa nyatanya Hayat Allah Taala adalah pada hidupnya Muhammad, nyatanya hidup Muhammad itu pada tubuh kita. Apabila tidak hidup tubuh kita itu , maka tidak nyata hidup Muhammad. Apabila tidak nyata hidup Muhammad, maka tidak nyata Hayat-Nya Allah Taala
  • Bahwa nyatanya Ilmu Allah Taala adalah pada tahunya Muhammad, nyatanya tahu Muhammad itu pada hati kita. Apabila tidak tahu hati kita itu , maka tidak nyata tahu Muhammad. Apabila tidak nyata tahu Muhammad, maka tidak nyata Ilmu-Nya Allah Taala
  • Bahwa nyatanya Qudrat Allah Taala adalah pada kuasanya Muhammad, nyatanya kuasa Muhammad itu pada tulang kita. Apabila tidak kuasa tualang kita itu , maka tidak nyata kuasa Muhammad. Apabila tidak nyata kuasa Muhammad, maka tidak nyata Qudrat-Nya Allah Taala
  • Bahwa nyatanya Iradat Allah Taala adalah pada kehendaknya Muhammad, nyatanya kehendak Muhammad itu pada nafsu kita. Apabila tidak berkehendak nafsu kita itu , maka tidak nyata kehendak Muhammad. Apabila tidak nyata kehendak Muhammad, maka tidak nyata Iradat-Nya Allah Taala
  • Bahwa nyatanya Samik Allah Taala adalah pada pendengaran Muhammad, nyatanya pendengaran Muhammad itu pada telinga kita. Apabila tidak mendengar telinga kita itu , maka tidak nyata pendengaran Muhammad. Apabila tidak nyata pendengaran Muhammad, maka tidak nyata Samik-Nya Allah Taala
  • Bahwa nyatanya Basir Allah Taala adalah pada penglihatan Muhammad, nyatanya penglihatan Muhammad itu pada mata kita. Apabila tidak melihat mata kita itu , maka tidak nyata penglihatan Muhammad. Apabila tidak nyata penglihatan Muhammad, maka tidak nyata Basir-Nya Allah Taala
  • Bahwa nyatanya Kalam Allah Taala adalah pada perkataan Muhammad, nyatanya perkataan Muhammad itu pada lidah kita. Apabila tidak berkata lidah kita itu , maka tidak nyata perkataan Muhammad. Apabila tidak nyata perkataan Muhammad, maka tidak nyata Kalam-Nya Allah Taala
Maka tidak satu pun yang ada pada diri kita melainkan semua adalah pada Muhammad yaitu Nur Muhammad dan tidak ada segala sesuatu itu melainkan adanya Nur Muhammad, sehingga pemahaman ini adalah kelanjutan dari pemahaman kajian terdahulu yang telah disampaikan bahwa. Zat pada Allah, Sifat pada Muhammad. Rupa pada Adam dan Rahasia pada Kita. Dan semoga kajian yang singkat ini bisa sedikit memberikan kejelasan tentang Rahasia dari Kajian Tariqat Tentang Hakikat Nur Muhammad dan selanjutnya bisa menjadi materi dan bahan dalam diskusi di majelis masing  masing. Amin ( Hakikat Nur Muhammad )

HAKEKAT NUR MUHAMMAD

Pada kajian yang lalu tentang Hakikat Nur Muhammad telah disampaikan bahwa Muhammad itu merupakan Nur yang terpancar dari Zat Tuhan. Nur Muhammad adalah yang pertama diciptakan dan merupakan roh dari segala makhluk. Sehingga tidak ada makhluk tanpa adanya Nur Muhammad karena dengan Nur Muhammad inilah Allah SWT melahirkan secara nyata sifat ketuhanan – Nya dalam diri setiap makhluk ( bukan Zat )
Sekarang kita akan mencoba melanjutkan kajian tentang Hakikat Nur Muhammad dalam bentuk pemahaman lanjutan [ sebelumnya perlu disampaikan bahwa, kajian ini merupakan lanjutan dari kajian sebelumnya ( Hakikat Nur Muhammad dan Hakikat Zat Pada Sifat Allah ) ,mohon tidak melanjutkan memahami kajian ini apabila belum memahami secara benar apa yang dimaksud dengan kajian tersebut ]
Hidup kita karena hidupnya Muhammad dalam alam batang tubuh kita, Hidupnya Muhammad dalam batang tubuh kita karena Hayat – Nya Allah Taala. Jika tidak hidup Muhammad dalam alam batang tubuh kita, maka tidak nyata Hayat – Nya Allah Taala. Bukan kita yang hidup melainkan Muhammad.
Tahu kita karena tahunya Muhammad pada hati kita, Tahunya Muhammad pada hati kita dengan Ilmu – Nya Allah Taala. Jika tidak tahu Muhammad pada hati kita, maka tidak nyata Ilmu – Nya Allah Taala. Bukan kita yang tahu melainkan Muhammad.
Kuasa kita karena kuasa Muhammad pada tulang kita, Kuasanya Muhammad pada tulang kita dengan Qudrat – Nya Allah Taala. Jika tidak kuasa Muhammad pada tulang kita, maka tidak nyata Qudrat – Nya Allah Taala. Bukan kita yang kuasa melainkan Muhammad.
Berkehandak kita karena kehendak Muhammad pada nafsu kita, Berkehendaknya Muhammad pada nafsu kita dengan Iradat – Nya Allah Taala. Jika tidak berkehendak Muhammad pada nafsu kita, maka tidak nyata Iradat – Nya Allah Taala. Bukan kita yang berkehendak melainkan Muhammad.
Mendengar kita karena pendengaran Muhammad pada telinga kita, Mendengarnya Muhammad pada telinga kita dengan Samik – Nya Allah Taala. Jika tidak mendengar Muhammad pada telinga kita, maka tidaklah nyata Samik – Nya Allah Taala. Bukan kita yang mendengar melainkan Muhammad.
Melihat kita karena penglihatan Muhammad pada mata kita, Melihatnya Muhammad pada mata kita dengan Basir – Nya Allah Taala. Jika tidak melihat Muhammad pada mata kita, maka tidaklah nyata Basir – Nya Allah Taala. Bukan kita yang melihat melainkan Muhammad.
Berkata kita karena Berkatannya Muhammad pada lidah kita, Berkatanya Muhammad pada lidah kita dengan Kalam – Nya Allah Taala. Jika tidak berkata Muhammad pada lidah kita, maka tidaklah nyata Kalam – Nya Allah Taala. Bukan kita yang berkata melainkan kata Muhammad.
Awal Muhammad adalah Nurani, menjadi nyawa atau roh dalam alam batang tubuh kita. Akhir Muhammad itu adalah Ruhani, menjadi hati dalam alam batang tubuh kita. Zahir Muhammad itu adalah Insani, menjadi rupa atau wajah dalam alam batang tubuh kita. Batin Muhammad itu adalah Rabbani, menjadi ujud dalam alam batang tubuh kita
Sedangkan anasir Nyawa atau Roh Muhammad itu dapat difahami dalam empat kedudukan yaitu :
  • Ujud – Ujud merupakan penzahiran dari Zat Allah jadi rahasia pada kita dan pada hakikatnya merupakan keberadaan Muhammad
  • Ilmu – Ilmu merupakan penzahiran dari sifat Allah menjadi Nyawa atau Roh pada kita dan pada hakikatnya merupakan Nyawa atau Roh Muhammad
  • Nur – Nur merupakan penzahiran dari asma Allah menjadi hati pada kita dan pada hakikatnya merupakan hati Muhammad
  • Syuhud – Syuhud merupakan penzahiran dari Af’aal Allah menjadi tubuh pada kita dan pada hakikatnya merupakan tubuh Muhammad
Pemahaman tentang Ujud adalah Zat Allah, merupakan realitas iman dan keimanan. Artinya Ujud itu Ada dan yang diadakan. Pemahamannya adalah bahwa yang ada itu Allah dan yang diadakan itu Muhammad
Pemahaman tentang Ilmu adalah Sifat Allah, merupakan realitas nyawa atau roh, Artinya Ilmu itu mengetahui dan yang diketahui. Pemahamannya adalah bahwa yang mengetahui itu Allah dan yang diketahui itu Muhammad
Pemahaman tentang Nur adalah Asma Allah, merupakan realitas hati, Artinya Nur itu terang dan yang diterangi. Pemahamannya adalah bahwa yang terang itu Allah dan yang diterangi itu Muhammad
Pemahaman tentang Syuhud adalah Af’aal Allah, merupakan realitas tubuh insan, Artinya Syuhud itu memandang dan yang dipandang. Pemahamannya adalah bahwa yang memandang itu Allah dan yang dipandang itu Muhammad
Demikian Pemahaman Tentang Hakikat Nur Muhammad, semoga bermanfaat untuk menambah wawasan dan bahan dalam diskusi di majelis masing  masing dan sekalian mohon sampaikan salam hormat saya kepada para guru kita yang dimuliakan Allah dan tak lupa dan tak bosan  bosannya saya mengharapkan doa dari beliau semoga Allah selalu merahmati kami sekeluarga dengan hidayah-Nya yang tek terhingga. Amin ( Hakikat Nur Muhammad )

HAKEKAT SHOLAT

Tasawuf sumbernya ada 3 macam (tasawuf indal akhlaq wal adab, tasawuf indal Fuqaha, tasawuf indal ahlil Ma’rifat ) Ini yang perlu diketahui. Tasawuf indal akhlaq wal adab bisa kita terapkan sedini mungkin untuk anak-anak kita. terutama makan dengan tangan kanan, masuk kamar mandi dengan kaki kiri, keluar kaki kanan ini tasawuf akhlak wal adab. Karena sumbernya tasawuf adalah min akhlaq wal adab, dari pekerti dan tatakrama.
Yang kedua adalah tasawuf indal fuqaha: bagaimana fiqih ini tidak berhenti hanya secara fiqhiah belaka. Contoh orang kalau sudah menjalakan wudhu mau sholat, setelah dipake shalat wudhunya kemana? Selesai kan?! Nah orang tasawuf tidak mau. Tasawuf menuntut sejauh mana anda membawa wudhu ini terlepas daripada kefardhuan yang sudah anda laksanakan. Apakah anda wudhu didalam shalat hanya terikat oleh syarat-syarat atau hukum-hukum syari’at. Anda dituntut oleh ulama tasawuf agar wudhumu bisa mewudhui bathiniah Anda atau tidak. Dan seterusnya. Disinilah hebatnya ilmu tasawuf.
Tasawuf i dan ahli ma’rifat, nah disni banyak orang terjebak. Dalam dunia tasawuf, dalam ilmu ma’rifat mereka yang perbendaharaannya belum mumpuni, belum mencukupi seringkali terjebak. Akhirnya dia memunculkan analis-analis, seolah-olah tasawuf berbau Budha tasawuf, berbau Hindu. Karena apa? Mereka tidak tahu. Ilmu ma’rifatnya saja mereka tidak mengerti, apa sebetulnya ma’rifat itu. Dari kekosongan itu, mereka belajar menganalis tasawuf; orang-orang yang sudah ahli Marifat, tinggi sekali, dengan bahasanya yang luar biasa. Wong dalam Tasawuf fuqaha saja mereka sudah tidak bisa memahami. Contoh Imam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali menjawab dunia falsafah, menjawab dunia tauhid aliarn ilmu kalam pada waktu berkembang macem-macem faham. Dijawab dengan tasawuf fuqaha, yaitu dengan munculnya ‘Ihya Ulumiddin’. Mengapa dalam kitab Ihya ulumiddin banyak hadits – hadits maudhu’ disamping dhaif. Karena apa? Pendapatnya ahli falasifah dijawab oleh Imam Al Ghazali dengan hadits yang maudhu saja, masih lebih baik haidits maudhu’ daripada pendapat-pendapat kaum falasifah. Masih tepat, karena apa? Walaupun ini maudhu, tapi yang menggunakannya adalah orang-orang yang mengerti ma’rifat kepada Allah. Makanya disini digunakan oleh Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali.
SHOLAT SESUAI ILMU TASAWUF
menurut ilmu tasawuf, maka apabila orang itu sholat walau dg sarat rukunnya tapi dia makan barang haram, dan melakukan segala perbuatan tercela, seperti sombong zina, membunuh, membicarakan kejelekan orang, mengadu domba, melakukan riba, minum arak, dan perbuatan dosa yang lain maka sholatnya tak sah, dalam artian tidak menerima pahala, atau makin sholat makin menjadi-jadi dosanya.
SHOLAT DALAM PANDANGAN AHLI SUFI
·         Takbirotul Ihram
Di sini maksudnya, berpisah dari Alam Mulki dan fanalah hamba. ketika mengucapkan ‘Allahu Akbar’. Hanya sifat ‘yang menyembah’ saja yang tinggal sebagai penzohiran. wujud Alloh ‘Yang Disembah’. Ia bergerak dengan gerak Allah. Ia berkata-kata dengan kata-kata Allah. Takluknya dalam rahasia Titik bagi Alif – ‘Tiada’. Seperti kata Abu Yazid Busthomi, “Ariftu Robbi bi Robbi’. (Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku).[4]
·         Membaca Fatihah
Ketika membaca Fatihah, terbukalah Pintu Alam Malakut bagi ‘yang menyembah’. Dia menyaksikan kalimat Allah melalui penyingkapan (syuhud) akan firman Allah; “Maliki yaw middin” di dalam Kerajaan Allah Ta’ala. Dari takluknya ‘Tiada’ ia menjadi Titik dari NurNya (Nur Muhammadi) . Dengan Nur Muhammad inilah ‘yang menyembah’ mengenal dirinya ‘man arofa nafsahu’ – sebagai ‘Ruh-Nya’ yang pernah dihimpunkan di Alam Lahut semasa Adam baru sempurna kejadiannya, yakni ketika Jibril menepuk tulang sulbi Adam, maka keluarlah semua ruh anak cucu Adam dari tulang sulbi Adam itu.
Adapun ‘Ruh-Nya’ itu pada hakikatnya adalah satu jua, yaitu daripada Sirulloh.Ruh anak cucu Adam itu hanyalah bayangan (menumpang) dari Ruh-Nya.Tanpa hadirnya Nur Muhamad, ‘yang menyembah’ tak mungkin bisa berhadap di depan Allah Ta’ala. Dengan perwujudan Nur Muhammad inilah maka ‘yang menyembah’ …. “ Kepada Engkaulah kami sembah dan kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan mereka yang Engkau berikan ni’mat, bukan (jalan) mereka yang Engkau murkai, dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.”. Maka di Amin kan akhir Fatihah itu oleh para malaikat dari setiap 7 lapis langit, yaitu dari: Alam Mulki, Alam Malakut, Alam Jabarut, Alam Bahut, Alam Lahut, Alam Ahut dan yang tertinggi Alam Al-Insan yang di sinilah kemuncaknya Sholat itu. Adapun maksud ‘jalan yang lurus’ bagi kalangan sufi ialah Mi’roj. Sebagaimana sabda Nabi SAW; “Sholat itu adalah mi’roj bagi mukmin”. Tujuan Mi’roj itu ialah Penyatuan, yakni kembalinya ‘yang menyembah’ kepada ‘Yang Disembah’.
·         Rukuk
Takluknya kepada huruf ‘Lam’ terzohirnya dari Alif – ‘yang menyembah’ menampakkan ‘Yang Disembah’. Alif adalah Kanzun Mahfiyyan (Yang Tersembunyi). Yang Tersembunyi ingin dikenali maka dizohirkan Lam sebagai tabirnya. Sabda Nabi SAW,”Dirikanlah sholat seolah-olah kau melihat Allah”. Para Arif Billah telah berkata bahwa”Siapa yang kenal dirinya, kenallah Tuhannya.” ‘Yang menyembah’ dinatijahkan seperti ‘angin’, manakala tatkala ‘yang menyembah’ pada posisi berdiri tadi, natijahnya adalah ‘api’ – fana dalam wujud. Api itu sifatnya membakar – yakni melenyapkan keakuan diri. Pada tahap ‘rukuk’ ini, ‘yang menyembah’ berada dalam suatu tarikan yang tersangat kuat dari Nur Muhammad. Justru itulah ia dinatijahkan kepada angin (tunduk dan menderu). ‘Yang menyembah’ ditarik masuk ke dalam Alam Jabarut dan berpisah dari Alam Malakut. Justru itulah kata para Arif Bilah , “Barangsiapa mencari Tuhan di luar dirinya, niscaya akan sesat.”. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ melepas qolbunya dan yang tinggal padanya adalah Roh-Nya yang akan naik ke lapisan yang lebih tinggi untuk kembali kepada Tuhan. Alam Jabarut yang menghubungkan Perbendaharaan Wujud (batas larangan yang tak bisa ditembus melainkan kepada Nur Muhammad) di antara yang ‘maujud’ – ‘yang menyembah’. ‘Yang menyembah’ mengenal dirinya di Alam Jabarut, maka tersingkaplah baginya seluas-luasnya wujud Alloh tanpa tabir bahwa ‘yang menyembah’ telah bersatu dengan ‘Yang Disembah’ sebagaimana adanya di dalam Misykat itu ialah Cahaya-Nya. (Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ). Maka bertasbihlah ‘yang menyembah’, “Maha suci Tuhanku yang Maha Agung dengan sifat kepujiannya”
Jika difahami ayat itu, maka pengertian bersatu dengan ‘Yang Disembah’ yang dimaksudkan di sini bukanlah mengambil kefahaman ‘Hulul’ sebagaimana yg diyakini oleh Mansur Al-Hallaj. Yang lebih ditekankan di sini ialah Wahdatusy-Syuhud (Kesaksian Penyatuan).
·         I’tidal
‘Yang menyembah’ adalah yang dibangkitkan – ‘Yang menyembah’ masuk dalam ‘Pintu Kematian.’ “Matikanlan dirimu sebelum mati”. Di sini juga artinya ‘waqof’ (sementara) dalam Sholat.
·         Sujud Awal
Takluknya kepada huruf ‘Lam’ – juga huruf ‘Mim’. Nabi Muhammad SAW bersabda,”Aku dizohirkan ke dunia dalam keadaan sujud”. ‘Yang menyembah’ dinatijahkan kepada air. Air adalah sumber kejadian Alam Mulki. Arasy Tuhan berada di atas air. Maka ‘yang menyembah’ dinatijahkan kepada air, karena di sinilah ‘yang menyembah’ sampai di Alam Bahut. Alam Bahut adalah Pembatasan Terakhir Segala Penzohiran, Ungkapan Syeikh Akbar Ibnu Arobi; Syajarotul – Kaun (Pohon kejadian) atau sebutan yang sering juga disebut – Sidrotul Muntaha. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ adalah Ruh-Nya yang di dalam Sirr. Sabda Nabi Muhammad SAW ketika mi’roj baginda melihat Wajah Alloh, “Aku tidak tahu di mana aku berada”. Pada tahap ini juga ‘yang menyembah’ menyerap kepada ‘Yang Disembah’ seolah-olah ‘yang menyembah’ itulah ‘Yang Disembah,’ ‘Yang Disembah’ itulah ‘yang menyembah, – yang pada hakikatnya wujud terurai dalam fana fil sifat dan lebur dalam fana fil zat – ‘Melihat Alloh dengan Alloh’ – maka ‘yang menyembah’ diberikan pengetahuanNya – Anal Haq (Akulah Yang Benar’).
Dari sisi tahap ini, lihatlah kepada ‘Basmalla’. Hanya ‘Ba’ dalam Basmallah saja yang tercantum dengan Alif. Sabda Nabi SAW; “Seluruh kitab Al-Qur’an itu terkandung dalam Al-Fatehah. Dan seluruh Al-Fatehah itu terkandung dalam Basmallah. Dan Basmallah terkandung dalam huruf ‘Ba’. Dan rahasia ‘Ba’ itu adalah Titik di bawahnya” Inilah yang dimaksudkan oleh Syekh Ibnu ‘Arobi Wujud Kesatuan – Wahdatul Wujud. Maka bertasbihlah ‘yang menyembah’, “Maha suci Tuhanku yang Maha Mulia dengan sifat kepujian-Nya.”
·         Duduk diantara 2 Sujud
Takluknya pada huruf ‘Ha’ besar dan juga ‘Ha’ kecil (maksudnya selepas huruf Jim). ‘Yang Menyembah’ telah dikurniai ‘Baqo’ setelah fana fil sifat dan fana fil zat. Dengan dikurniai ‘Baqo’, barulah ‘yang menyembah’ dapat memasuki Perbendaharaan Rahasia Tuhan – Ilahiyat – pada sujud yang akhir nanti, sebagaimana diistilahkan oleh para Arif Billah melalui tiga tahapan, Yaitu ; ( Ahadiat, – Wahdat, – Wahadiat ). Pada tahap ini ‘yang menyembah’ berada di Alam Lahut – Alam Tiada, yang tiada sesuatu pun yang tercipta, tiada awal dan akhir, ‘yang menyembah’ menyaksikan kekosongan tanpa perbatasan, dan disinilah awalnya Diri yang kemudiannya dizohirkan sebagai Adam. Di kalangan sufi, ia juga diistilahkan ‘Negeri ‘Adami’. Diri (‘yang menyembah’) dinisbahkan kepada air yakni Air Mutlak, inilah asal-usul manusia dari alam tiada ‘La’.
Pada tahap ini juga ‘yang menyembah’ adalah di dalam Sirr-Nya – Ruh-Nya dalam keghoiban Nur Muhammad. Haqiqot Ruh-Nya adalah Nur Muhammad. Di sinilah ia bermunajat; “ Tuhanku ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, afiatkanlah aku dan maafkanlah aku.”
·         Sujud Akhir
Takluknya pada rahsia huruf ‘Ha’ – yang tak kelihatan atau bunyi diujungnya ‘Hu’ dan juga huruf ‘Mim’. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ berada di Alam Ahut’ pada nisbahnya air yang di bawah ‘Arasy Tuhan . Yang tinggal pada ‘yang menyembah’ adalah Sirulloh. Di dalam Sirr, inilah Aku. Kata Ahli Sufi, ‘Air dalam gelas, tak dapat dibedakan lagi. Air itulah gelas. Gelas itulah air.” ‘Yang menyembah’ itulah ‘Yang Disembah’ dalam gedung makrifat, bukan dalam gedung syari’at, gedung thoriqot dan gedung haqiqot. Pahamkanlah ini ‘Yang menyembah’ tidak bisa menjadi ‘Yang Disembah’ dalam arti haqiqot. Ini hanya pada makrifat semata-mata. Ingatlah, bukan faham hamba yang bertukar menjadi Tuhan. Camkan air di dalam gelas, bersatu dalam kejernihan. Lihatlah pada ‘ombak’- ombak hanya pada nama yang diberikan padahal itu air yang beriak dan menggelora.
Pada sujud akhir inilah, ‘yang menyembah’ memasuki Wilayah Ilahiyat:
·       Ahadiat – Zat Mutlak atau Zat wajibal wujud
·       Wahdat – Zat Yang Maha Esa
·       Wahadiat – ILAH – Zat yang maha kaya daripada tiap-tiap sesuatu yang lain dan sesuatu yang lain memerlukannya.
Zat ingin dikenali sebagai Kanzun Mahfiyyan. Di sinilah terbitnya ungkapan ‘Kun’ jadilah maka jadilah ia.
·         Duduk Tahiyat Akhir
Takluknya pada huruf Dal. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ berada di Alam Al-Insan, dinisbahkan kepada tanah ketika ia duduk – dalam kesempurnaan. Dia yang mengenal dan Dialah yang dikenal pada akhirnya. Dialah yang turun dan naik dalam mi’roj.“Rahasia Insan RahasiaKu, RahasiaKu Rahasia Insan”.
Di Alam Insan, ‘yang menyembah’ diliputi dengan Wujud, Ilmu, Nur dan Syuhud, maka Zat adalah rahasianya, Sifat adalah ruhnya, Asma’ adalah qolbunya dan Af’al adalah tubuhnya. Di sinilah ia mengucapkan Selamat sejahtera (tahiyat) ke atas Nabi dan rahmat Alloh dan keberkatan-Nya. Juga kepada hamba-hamba yang solihin sekaliannya. Dialah yang menyaksi dan dialah yang bersaksi tiada Tuhan melainkan Alloh dan Muhammad adalah utusan Allah swt.
·         Salam
“Salamun qowlam mir-robbir- rohiim”. Inilah salam ahli syurga. Syurga inilah yang dinikmati oleh ‘yang menyembah’, yakni syurga yang di dalamnya tanpa bidadari, sungai, buah-buahan dan pepohonan. Di syurga inilah ‘yang menyembah’ terlena memandang Wajah Alloh.
Perlu kita renungi ini adalah sutu konsep atau pandangan dari para Arif Bilah yang pemahamannya sudah jauh dari manusia awam, yang perlu kita tekankan sholat (sujud) adalah salah satu rahasia diri kita, jadi tidak perlu diungkapakan dengan kata-kata bagaimana aku sholat (sujud), cukuplah untuk diri kita pribadi,. (semuanya jadi kosong). tapi jika kita berkholwat silahkan berbicara sebebas – bebasnya.
PERBANDINGAN SHOLAT DALAM PERSEPEKTIF FIQIH DAN TASAWUF
Sholat dalam persepektif  fiqih ( sholat formal )
Sebagai ibadah terpokok dalam Islam, shalat dipastikan menjadi “trade mark” bagi siapapun yang mengaku beragama Islam, artinya ke-Islaman seseorang secara lahir dapat dilihat dari shalatnya. Jika shalatnya “baik” maka orang tersebut dikenal sebagai Islam santri atau Islam “hijau” (terkadang disebut Islam putih). Sebaliknya jika shalatnya “jelek” atau malah tidak shalat, maka orang tersebut akan dikatakan sebagai Islam KTP atau Islam abangan.
Lebih dari sekedar “trade mark” , ada sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh at-Turmudziy dll, bahwa Rasulullah SAW menegaskan betapa pentingnya shalat:
“Sungguh, amal seorang hamba yang pertama kali diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka dia benar-benar telah beruntung. Tetapi bila shalatnya jelek, maka dia sungguh-sungguh amat merugi…”.
Dalam tataran fiqih, shalat dikatakan “baik” manakala telah memenuhi syarat (sesuatu yang harus dipenuhi sebelum melakukan shalat) dan rukun (sesuatu yang harus dipenuhi ketika mengerjakan shalat) nya. Sebagaimana dapat dibaca dalam kitab-kitab fiqih, syarat shalat ada dua macam ( Syarat wajib sholat dan Syarat sah-nya sholat ).
Syarat wajib sholat yaitu ;
1.       Islam
2.       Baligh ( bagi laki-laki bila sudah mimpi keluar mani, sedang bagi perempuan bila sudah haidl)
3.       Berakal sehat (tidak gila)
Sedangkan, Syarat sahnya sholat, yaitu :
1.       Mengetahui waktu shalat
2.       Suci dari hadats (baik hadats kecil maupun hadats besar) dan najis
3.       Menutup aurat (bagi laki-laki adalah bagian badan antara pusat dan lutut, sedang bagi perempuan adalah seluruh tubuh selain muka dan dua tapak tangan)
4.       Menghadap arah qiblat bagi yang memungkinkan
Sementara, Rukun sholat adalah :
1.       Berdiri bagi yang mampu (kalau tidak mampu maka duduk, dan jika tidak sanggup maka telentang dengan posisi kaki di arah qiblat)
2.       Takbiratul Ihram (mambaca Allaahu Akbar pertama) disertai niat shalat
3.       Membaca surat al-Fatihah (dalam keadaan berdiri bagi yang mampu)
4.       Ruku’ (membungkuk 90 derajat)
5.       I’tidal (berdiri tegak sesudah ruku’)
6.       Sujud (7 anggota badan harus menyentuh tempat shalat, yaitu dahi, dua tapak tangan bagian dalam, dua lutut dan jari-jari dua kaki) dengan posisi pantat diangkat lebih tinggi dari kepala
7.       Duduk di antara dua sujud
8.       Duduk tahiyyat/tasyahhud (membaca at-tahiyyaat/syahaadatain)
9.       Membaca tahiyyat/tasyahhud dan shalawat Nabi.
10.    Mengucapkan salam (sambil menengok ke kanan dan ke kiri)
11.    Tertib (semua rukun shalat dikerjakan secara urut)
Seorang muslim/ah yang telah melaksanakan shalat dengan memenuhi syarat dan rukun tersebut, berarti telah menunaikan kewajibannya. Mengenai bacaan/doa (selain rukun di atas) yang mengiringi/menyertai semua gerakan dalam shalat hukumnya adalah sunnah (sebaiknya dibaca, tetapi kalau tidak dibacapun shalatnya tetap sah)

MAKNA TAUHID DZAT DAN KUNHI DZAT



Pengertian tauhid zat adalah mengesakan Allah pada zat. Maqam tauhid zat merupakan maqam tertinggi dan merupakan puncak pengetahuan dan musyahadah orang yang Arif.
Bagi Arifin yang telah sampai pada maqam ini, mereka merasakan kelezatan spiritual yang tiada tara. Dan maqam ini juga merupakan batas akhir pencarian (seluruh makhluk), dalam perjalanan menuju kepada-Nya.
Batas Pengetahuan
Tauhid Zat itu berbeda dengan Kunhi Zat. Karena itu, tidak ada seorang pun yang sampai pada maqam ini yaitu maqam Kunhi Zatullah  termasuk para Nabi Mursal dan Malaikat muqarrabin. Dalam firman Allah dijelaskan:
وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ .
“Dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. “ (Ali Imran: 30).
Namun dalam ayat tersebut para ulama ahli hakikat memiliki penafsiran sebagai berikut “Yakni Allah memperingatkamu bahwa ma’rifahmu tidak akan sampai kepada Kunhi Zat-Nya.”
Pendapat tersebut telah diperkuat dengan hadits Nabi Muhammad Saw.:
كُلُّكُمْ فِى ذَاتِ اللهِ اَحْمَقُ .
“Kamu semua tidak akan sampai pada Kunhi Zat Allah.”
Dalam hal ini, Syekh Abdul Wahab as-Sya’rani qs. dalam kitab al-Jawahir wa al-Durar, menerjemahkan perkataan Syekhnya Sayyidi Ali al-Khawas ra. sebagai berikut: “Bahwa pengetahuan makhluk terhadap Allah tidak akan sampai kepada zat-Nya, karena Ia (Allah) bukan ’ain (wujud materi) yang dihukumkan oleh akal, dan bukan pula ’ain yang dihukumkan oleh syuhud dalam hati dan mata. Melainkan Ia dibalik semua itu. Dengan demikian, Allah bukan’ain yang dikenal oleh manusia dan bukan pula Ia ’ain yang tidak diketahui. Karena itu, bagi siapapun yang mengetahui hal itu, maka ia wajib menyembah kepada zat yang suci lagi gaib. Dan yang demikian itulah yang disebut ibadah yang paling sempurna”.
Jadi, tidak ada yang sampai pada maqam ini (tauhid zat) kecuali Nabi kita Muhammad Saw. Dan para Anbiya’ dan Aulia’ yang berada di bawah bimbingan-Nya. Karena hanya Nabi Muhammad Saw. yang diciptakan dari Zat-Nya. sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir ra. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Jabir! Yang pertama kali diciptakan Allah adalah Cahaya Nabimu. Dari Cahaya itulah kemudian diciptakan segala sesuatu, termasuk engkau di dalam segala sesuatu itu.”
Tauhid & Caranya
Cara mengesakan Allah pada zat, adalah dengan memandang melalui mata kepala dan mata hati, bahwa tiada yang maujud di dalam wujud ini kecuali hanya Allah. Dengan kata lain, dalam maqam tauhid zat ini seorang hamba fana’ dari segala zat di bawah zat Allah. Tiada zat yang maujud melainkan wujudullah, sedangkan wujud makhluk adalah ma’dum (yang ditiadakan). Karena wujud selain Allah bukan wujud itu sendiri, melainkan ia wujud dengan Allah. Artinya, wujud makhluk berdiri dengan wujud Allah, dan tidak berdiri sendiri. Karena itu, wujud makhluk sebenarnya bersifat khayal (imajinatif) dan waham (menciptakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada).
Dalam hal ini, Syekh Arif billah Maulana as-Syekh Shidiq bin Umar Khan ra. menjelaskan: “Segala wujud selain Allah bagaikan wujud yang kita lihat di dalam mimpi, yang segera sirna saat kita terjaga. Demikianlah gambaran tentang wujud gairullah (selain Allah).”
Karenanya, untuk dapat merasakan pandangan bahwa tiada wujud di alam semesta ini kecuali wujud Allah, maka kita harus mematikan diri.
Mati & Maknanya
Mengenai mati, menurut ulama ahli tasawuf, dibagi menjadi dua, yakni Mati hissi yaitu berpisahnya ruh dari jasad. Dan Mati ma’nawi yaitu mati secara makna, yang berarti jasadnya masih hidup akan tetapi nafsunya mati.
Ketika seseorang mati, baik secara hissi maupun ma’nawi maka hilanglah wujud gairullah. Karena saat itulah sesungguhnya kita baru betul-betul terjaga. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.:
النَّاسُ نِيَامٌ فَاِذَا مَاتُوْا إِنْتَبَهُوْ
“Manusia dalam keadaan tidur maka apabila mereka mati maka mereka baru jaga (dari tidurnya).”
Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. juga menjelaskan:
مُوْتُوْا قَبْلَ اَنْ تَمُوْتُوْا وَمَنْ اَرَادَ اَنْ يَنْظُرَ اِلَى مَيِّتٍ يَمْشِى عَلَى وَجْهِ اْلاَرْضِ فَلْيَنْظُر اِلَى اَبِى بَكْرٍ
“Matikanlah dirimu sebelum kamu mati dan barang siapa ingin melihat mayat berjalan di atas bumi maka lihatlah Abu Bakar.”
Orang yang sampai pada tahap mati ma’nawi, seluruh nafsunya seperti nafsu ammarah, lawwamah dan sawwalat telah mengalami proses kematian. Sehingga dalam pandangannya meyakini bahwa segala wujud gairullah (selain Allah) fana’ dan hakikatnya tidak ada. Karena itu, Wujudullah adalah wujud yang sebenarnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.:
اَلاَ كُلُّ شَيْئٍ مَا خَلاَ اللهُ بَاطِلٌ .
“Ingatlah ! Tiap-tiap sesuatu selain Allah adalah batil (adanya).” Adapun dalil yang memperkuat pendapat tersebut banyak sekali. Seperti firman Allah SWT.
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ .
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26-27)
Para ulama ahli hakikat menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut: “Bermula tiap-tiap sesuatu baik semua hewan atau yang tersusun dari zat dan sifat semuanya binasa pada masa dahulu dan masa sekarang dan masa yang akan datang. Dan yang kekal hanya zat Tuhanmu, yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
Dalam ayat lain juga dijelaskan:
كُلُّ شَيْئٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُ .
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (Al Qashash: 88)
Ayat tersebut ditafsirkan oleh ulama ahli hakikat sebagai berikut: “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, baik pada masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, kecuali Zat Allah yang tiada binasa.”
Dalam hadis Nabi Muhammad Saw. juga dijelaskan:
كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْئٌ مَعَهُ .
“Yang ada hanya Allah dan tidak ada sesuatu serta-Nya.”
Selain itu, juga ada maqalah Ulama yang menambahkan:
وَهُوَ اْلاَنَ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ كَانَ .
“Dan Dia (Allah) pada masa sekarang ini adalah ada pada-Nya masa yang telah lampau..”
Dalam hadis Nabi Muhammad Saw. juga dijelaskan:
وَالَّذِيْ نَفْسٌ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ اَنَّكُمْ دَلَيْتُمْ بِحَبْلٍ اِلَى اْلاَرْضِ لَهَبِطَ عَلَى اللهِ ثُمَّ قَرَأَ هُوَ اْلاَوَّلُ وَاْلاَخِرُ ……. اْلاَيَة
“Demi Zat yang jiwa Muhammad ada pada Qudrat-Nya, jikalau kamu ulurkan tali dari langit ke bumi niscaya turun dari awal hingga akhirnya Wujudullah kemudian membaca “HUWAL AWWALU WAL AKHIRU…… (hingga akhir ayat 3 Surat Al Hadid).”
Kesimpulannya adalah, bahwa segala wujud yang disandarkan kepada Wujudullah yang hakiki, itu hanya khayal (imajinatif), waham (ilustratif) dan majazi (metaforis). Karena wujudnya antara dua ’adam (tidak ada) sedangkan wujud di antara dua ’adam itu ’adam. Tidak ada wujud yang berdiri sendiri, kecuali dengan Wujudullah. Artinya, wujud alam semesta berdiri dengan Wujudullah. Karena itu, tidak ada wujud yang sesungguhnya, kecuali hanya wujud Allah SWT.

 
Diberdayakan oleh Blogger.