Cari Blog Ini

ILMU TANPA AMAL

2. Ilmu tanpa Amal tidak Berguna
Seyogyanyalah anda mengamalkan segala ilmu yang anda ketahui, agar anda dapat kemenangan dunia dan akhirat, seperti yang telah kami sebutkan dalam risalah ini, karena Rasulullah bersabda :
” inna Asyaddan-nasi ‘Adzaaban Yaumal Qiyaamati, ‘Aalimun Lam Yanfa’hu ‘Ilmuhu”
Artinya : ” Sesungguhnya manusia yang mendapat azab yang paling hebat di Hari Kiamat ialah seorang yang berilmu tetapi tidak memanfaatkan ilmunya”
Syekh Ruslan r.a dalam syairnya berkata :
” Fa Aalimun’ Bi’ilmihi Lam Ya’malanna, Mu-adzdzabun Min Qabli ‘Aabidil Wastani”
Artinya : ” Seorang yang berpengetahuan tidak mengamalkan ilmunya, diazab lebih dahulu dari pada penyembah berhala “
Begitu pula suatu amal yang tidak didasarkan ilmu, maka amal yang demikian sama sekali tidak ada nilai dan harganya, bahkan mungkin membawa kesesatan. sebagai mana bunyi syair :
” Al-Ilmu Bighairi ‘Amalin Dzanbun Kabiirun Wal’Amalu Bighairi ‘ Ilmin Dlolalun Syadiidun”
Artinya : ” Ilmu tanpa amal dosa besar, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan yang nyata “
Ilmu dan amal memungkinkan seseorang mendapatkan ilmu laduni sebagaimana tersebut dalam Firman Allah :
” Wattaqullaaha wa Yu’Allimukumullaahu ‘
Artinya : ” Taqwalah kepada Allah, allah akan ajarkan ilmu langsung padamu.
Hadist Rasulullah s.a.w :
” Man ‘Amila Bimaa ‘Alima Warastahullaahu Ilma Maa Lam Ya’lam “
Artinya : ” Siapa yang mengamalkan apa yang diketahuinya, Allah akan mengajarkan kepadanya apa yang tidak pernah diketahuinya “
Ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang langsung dari pada Allah s.w.t. tanpa lebih dahulu dipelajari, suatu ilmu yang juga akan membawa dia ketingkat makrifatullah.
Seseorang tidak akan mencapai tingkat Makrifatullah tanpa ilmu laduni. Pengertian Makrifatullah itu sebenarnya adalah ” Allah yang memperkenalkan dirinya “.

KEHARUSAN MELALUI MURSYID ADALAH KEBIASAAN

1. Keharusan melalui seorang guru adalah kebiasaan saja. Tarikan Tuhan adalah lebih bernilai.
Al Arif Billah Maulana Syekh Muhammad bin ahmad Al Jauhar Rahmatullah ‘Alaihi mengatakan ” Perpegangan yang teguh kepada Allah adalah suatu keharusan untuk tetap mengikuti dan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi Larangan-Nya. Bukanlah suatu keharusan, bahwa untuk sampai kepada Allah harus dengan Washitho/perantaraan guru, sebagai umumnya disangka oleh sementara kalangan shufi. Tentang washithoh guru itu hanyalah sekedar kebiasaan saja. Allah sampaikan seseorang hambanya kepada-Nya, atas kehendak-Nya sendiri, dengan beberapa macam tarikan ( jadzabaat)
Sebagian dari cara tarikan Tuhan untuk menyampaikan seorang hamba kepadaNya antara lain adalah dengan cara “membaca sholawat” sedapat dapatnya 10.000 kali tiap malam dengan Lafzh sholawat sebagai berikut :
” Allahumma sholli ‘Alaa Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi Wa’Alaa Aalihi Washohbihi Wa Sallim “
Artinya : ” Ya Allah, limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan terhadap Nabi Muhammad yang ummiy, dan terhadap keluarga serta sahabat beliau “
Demikian pendapat Syekh Malawy rahmatullah ‘alaihi. Selajutnya Syekh JAUHARY mengemukakan : “Siapa siapa yang mengamalkan apa apa yang tercantum dalam risalah ini, Insya Allah akan mendapat “jizbah” dengan segera dari Tuhannya. Nilai jizbah itu jauh lebih tinggi dari pada amalan Jin dan Manusia, sebagaimana sabda Nabi kita Muhammad s.a.w :
” Jadzabatun Min Jadzabaatil Haqqi Laa Tuwaazi ‘Amalast-staqalaini “
Artinya : ” Satu tarikan dari beberapa tarikan Tuhan, tidak akan dapat disamakan dengan amalan amalan Jin dan Manusia “
Catatan : 
Memang benar bahwa keharusan melalui guru dalam menuntut Ilmu Tasawwuf adalah kebiasaan, Tetapi dalam banyak hal, ungkapan ungkapan dan rumus serta isyarat didalam ilmu itu banyak sekali yang harus dimengerti. Apabila dipelajari sendiri melalui kitab-kitab tasawwuf, pasti akan bertemu dengan rumus dan isyarat. Tanpa guru banyak kemungkinannya salah pengertian yang akibatnya malah akan menyesatkan. Guru bukanlah seseorang yang pasti bisa mengantar muridnya untuk sampai kepada Allah, sama sekali tidak, Guru hanyalah sekedar menunjukkan jalan, memberi pengertian dan pemahaman. Namun semua itu adalah tergantung seluruhnya pada kehendak Allah sendiri. Abalagi bila sampai kepada pengertian hakiki tentang makrifat ialah ” Allah sendiri yang memperkenalkan diriNya”.

SIFAT MA'NAWIYAH

Adapun hakikat sifat ma’nawiyah itu: hiyal halul wajibatu lidzati madaamati lidzati mu’allalati bi’illati, artinya hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu dikarenakan suatu karena yaitu Ma’ani, umpama berdiri sifat Qudrat pada dzat maka baru dinamakan dzat itu Qadirun, artinya Yang Kuasa, Qudrat sifat Ma’ani, Qadirun sifat Ma’nawiah maka berlazim-lazim antar sifat Ma’ani dengan sifat Ma’nawiah, tiada boleh bercerai yaitu tujuh sifat pula:
 1. QADIRUN, artinya Yang Kuasa, melazimkan Qudrat berdiri pada dzat
2. MURIIDUN, artinya Yang Menentukan maka melazimkan Iradat yang berdiri pada dzat
3. ‘ALIMUN, artinya Yang Mengetahui maka melazimkan ‘Ilmu yang berdiri pada dzat
4. HAYYUN, artinya Yang Hidup melazimkan Hayyat yang berdiri pada dzat
5. SAMI’UN, artinya Yang Mendengar melazimkan Sami’ yang berdiri pada dzat
6. BASIRUN, artinya Yang Melihat melazimkan Basir yang berdiri pada dzat
7. MUTTAKALLIMUN, artinya Yang Berkata-kata melazimkan Kalam yang berdiri pada dzat
 Sifat Istighna
 Artinya sifat Kaya, Hakikat sifat Istighna: mustaghniyun ’angkullu maa siwahu, artinya Kaya Allah Ta’ala itu daripada tiap-tiap yang lain.
Apabila dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lain, maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sebelas (11) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sebelas (11) sifat itu maka tiadalah dapat dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lainnya.
 Adapun sifat wajib yang 11 itu ialah:
Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Kiyamuhubinafsihi, Sami’, Basir, Kalam, Sami’un, Basirun dan Muttakalimun.
 Selain sebelas (11) sifat yang wajib itu ada tiga (3) sifat yang harus (Jaiz) yang termasuk pada sifat Istighna yaitu
 1. Mahasuci dari pada mengambil faedah pada perbuatan-Nya atau pada hukum-Nya, lawannya mengambil faedah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau mengambil faedah tiadalah Kaya Ia daripada tiap-tiap yang lainnya karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia pada menghasilkan hajat-Nya
2. Tiada wajib Ia menjadikan alam ini. Lawannya wajib yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau wajib Ia menjadikan alam ini tiadalah Ia Kaya dari pada tiap – tiap yang lainnya, karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia kepada yang menyempurnakan-Nya
3. Tiada memberi bekas suatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya. Lawannya memberi bekas yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau memberi sesuatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya tiadalah Kaya Ia pada tiap-tiap yang lainnya karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia mengadakan sesuatu dengan wasitoh
 Sifat Ifthikhor
Artinya sifat berkehendak: hakikat sifat Ifthikhor: wamuftaqirun ilaihi kullu maa ’adaahu, artinya berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya.
 Apabila dikatakan berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sembilan (9) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sembilan (9) sifat ini maka tiadalah dapat berkehendak tiap-tiap yang lainya kepada-Nya,
Adapun sifat wajib yang sembilan (9) itu adalah:
1. Qudrat
2. Iradat
3. Ilmu
4. Hayat
5. Qodirun
6. Muridun
7. ‘Alimun
8. Hayyun
9. Wahdaniah

Selain dari sembilan (9) sifat yang wajib itu ada dua (2) sifat yang harus termasuk pada sifat Ifthikhor:
1. Baharu sekalian alam ini. Lawannya Qodim yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau alam ini Qodim tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya karena lajim ketika itu bersamaan derajat-Nya
2. Tiada memberi bekas sesuatu daripada Af’al dengan Sifat atau dzatnya. Lawannya memberi bekas yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau tidak memberi bekas sesuatu daripada Af’al dengan SifatNya niscaya tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya .
 Maka sekarang telah nyata pada kita bahwa duapuluh delapan (28) sifat Istighna dan duapuluh dua (22) sifat Ifthikhar maka jumlahnya jadi limapuluh (50) ‘akaid yang terkandung didalam kalimah laa ilaha ilallaah, maka jadilah makna hakikat laa ilaha ilallaah itu dua: laa mustaghniyun angkullu maasiwahu, artinya tiada yang kaya dari tiap-tiap yang lainnya dan wa muftaqirun ilaihi kullu ma’adahu, artinya : dan berkehendak tiap-tiap yang lain kepadaNya.
 Ini makna yang pertama maka daripada makna yang dua itu maka jadi empat (4):
1. Wajibul wujud, yaitu yang wajib adanya.
2. Ishiqoqul ibadah, yaitu yang mustahak bagi-Nya ibadah
3. Kholikul ‘alam, yaitu yang menjadikan sekalian alam
4. Maghbudun bihaqqi, yaitu yang disembah dengan sebenar-benarnya.
 Ini makna yang kedua maka daripada makna yang empat (4) itu jadi satu (1) yaitu:
 Laa ilaha ilallaah, Laa ma’budun ilallah, artinya tiada Tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah.
Ini makna yang ketiga penghabisan maka jadilah kalimah laa ilaha ilallaah itu menghimpun nafi dan isbat
Adapun yang dinafikan itu sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor berdiri pada yang lain dengan mengatakan: laa ilaha dan diisbatkan sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor itu berdiri pada dzat Allah Ta’ala dengan mengatakan kalimah Ilallaah
Laa = nafi, Ilaha = menafi, ila = isbat, Allah = meng-isbat
 Yang kedua kalimat laa ilaha ilallaah itu nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi sepeti sabda nabi : laa yufarriqubainannafi wal-isbati wamamfarroqu bainahumaa fahuwa kaafirun, artinya Tiada bercerai antara nafi dan isbat dan barang siapa menceraikan keduanya, maka tergolong kedalam golongan kafir.
 Seperti asap dengan api. Asap itu bukan api dan asap itu tidak lain daripada api. Asap tetap asap dan api tetap api: tetapi asap itu menunjukkan ada api inilah artinya nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi. Tiada bercerai dan tiada bersekutu.
 AQAI’DUL IMAN
Adapun Aqa’idul Iman itu lima bagian:
1. Aqa’idul Iman 50, yaitu dengan ringkas untuk mengesahkan iman kita dan wajib diketahui bagi tiap-tiap orang islam yang baligh lagi beraqal laki-laki atau perempuan yang mula hendak mengerjakan ibadah kepada Allah Ta’ala, jikalau tiada kita mengetahui Aqa’idul Iman yang ringkas ini maka tiadalah syah ibadah kita kepada Allah Ta’ala yaitu 20 sifat yang wajib dan 20 sifat yang mustahil dan 1 sifat yang harus maka dijumlahkan jadi 41 dan 4 sifat yang wajib bagi rasul dan 4 sifat pula yang mustahil dan 1 sifat yang harus pada rasul maka jadi 9, maka dijumlahkan dengan 41, jadi 50 Aqa’id
2. Aqa’idul Iman 60
3. Aqa’idul Iman 64
4. Aqa’idul Iman 66
5. Aqa’idul Iman 68
Adapun Aqa’idul Iman yang empat (4) kemudian ini untuk ma’rifat yaitu untuk membedakan dzat Allah Ta’ala dengan dzat yang baharu, dan membedakan sifat Allah Ta’ala dengan sifat yang baharu dan membedakan perbuatan Allah Ta’ala dengan perbuatan yang baharu, maka kesemuanya itu benar, hanya perselisihannya pada Rukun Iman saja, setengahnya tiada dimasukkan Rukun Iman yang 4 perkara, maka jadi 60, setengahnya dimasukkan Rukun Iman tetapi tiada dimasukkan lawannya, maka jadi 64, dan setengahnya dimasukkan Rukun Iman yang 4 perkara dan lawannya , maka jadilah 68 dan yang 66 tiada masyhur sebab tiada dimasukkan satu (1) sifat yang wajib bagi Rasul dan lawannya maka inilah sebab menjadi 66.
Maka Syahadat itu terdiri dua (2) bagian:
1. Syahadat Tauhid, yaitu Ashadu anllaa ilaha ilallah
2. Syahadat Rasul, yaitu Ashadu ana muhammadarrasuulullaah

Adapun Fardhu Syahadat itu dua perkara:
1. Diikrarkan dua kalimah itu dengan lidah
2. Ditasdiqkan makna itu kedalam hati

Syarat Syahadat itu empat perkara:
1. Diketahui apa isi didalam dua kalimah itu
2. Diikrarkan dua kalimah itu dengan lidah
3. Ditasdiqkan maknanya itu kedalam hati
4. Diyakinkan sungguh-sungguh didalam hati

Rukun Syahadat itu empat perkara:
1. Mengisbatkan dzat Allah Ta’ala dzat yang wajibal wujud
2. Mengisbatkan sifat Allah Ta’ala sifat yang kamalat atau sifat yang kesempurnaan
3. Mengisbatkan af’al Allah Ta’ala memberi bekas dan yang berlaku dalam alam ini semua perbuatannya
4. Mengisbatkan kebenaran Rasulullah dan Muhammad itu benar-benar pesuruh Allah

Kesempurnaan Syahadat itu empat (4) perkara:
1. Diketahui
2. Diikrarkan dengan lidah
3. Ditasdiqkan maknanya didalam hati
4. Diamalkan dari dalam hati hingga melimpah keseluruh anggota

Yang Membinasakan Syahadat itu empat (4) perkara:
1. Syak hatinya pada Allah Ta’ala
2. Menduakan Allah Ta’ala
3. Menyangkal dirinya dijadikan Allah Ta’ala
4. Tiada mengisbatkan dzat, sifat dan af’al Allah Ta’ala dan kebenaran Rasul

Adapun dzikir itu tiga (4) bagian
1. Dzikir lidah yaitu: Laa ilaha ilallah
2. Dzikir hati yaitu: Illalah
3. Dzikir Ruh yaitu: Allah
3. Dzikir sirr yaitu: Huwa

Adapun Laa ilaha ilallaah dzikir orang Syari’at
Adapun Allah… Allah… dzikir orang Tarikat
Adapun Huwa… Huwa… dzikir orang Hakikat
Laa ilaha ilallaah itu makanan Jasmani
 Allah… Allah… itu makanan Qalbu
Huwa… Huwa… itu makanan Ruhani

ALLAH
Alif = Dzat
Lam = Sifat
Lam = Af’al
Ha = Asma’

Adapun yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat:
1. Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud
2. Sifat Salbiyah yaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniat
3. Sifat Ma’ani, yaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam
4. Sifat Ma’nawiyah, yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun

Adapun sifat 20 terbagi kepada 4 bagian.
1. Wujud – Sifat Ma’ani (karena Maujud sifat kepada zat dan memberi bekas sifat kepada kejadian alam.
2. Adum – Sifat Salbiah (Karena tiada Maujud pada zhan dan pada kharij)
3. Hal – Sifat Nafsiah ( Karena sifat Nafsiah adalah kenyataan Maujud)
4. Iktibar – Sifat Ma’nawiyah ( Nama bagi zat yang wajibul wujud sekalian alam dan nyatanya sifat 20.
 Adapun Martabat Sifat 20 terbagi kepada 3
1. Martabat Zat – Sifat Nafsiah dan Salbiah – Karena sifat ini kenyataan kepada zat yang mana hanya Allah Saja yang mengetahui.
2. Martabat Sifat – Sifat Ma’ani – Tiada maujud sifat kepada zat dan memberi bekas sifat pada kejadian alam.
3. Martabat I’sma – Sifat Ma’nawiah – Nama bagi zat yang wajib wujud.

Terhimpun 20 sifat itu dalam Kalimat Syahadah “Laa Ila Ha’il La’llah”
1. La – 5 Sifatnya – Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi (Yang mana sifat2 ini wujud hingga kiamat dan dia dinamakan kalimah tauhid)
2. Illaa – 6 Sifatnya – Sami’, Bashir, Kalam Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun ( Kerana sifat ini adalah sifat KAYA)
3. Ha’ila – 4 Sifatnya – Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun ( Karena Melazimi bagi sifat Maani )
4. Allah – 5 Sifatnya – Wahdaniat, Qudrat, Iradat, Ilmu dan Hayat ( Karena dengan sifat ini Zahir segala sifat)
 1. La Tauhid Zat kenyataan bagi Allah   Kediamannya Rahasia
2. Illa Tauhid Sifat kenyataan bagi Muhammad kediamanya Nyawa
3. Ha’ila Tauhid Isma kenyataan bagi Roh kediamanya pada Hati
4. Allah Tauhid A’ffal kenyataan bagi Adam kediamanya pada Tubuh.

SIFAT MAÁNI

Sifat Ma’ani, maksudnya adalah sifat-sifat Allah yang penggambaran (Tajalli) makna  lahir sifat-sifat tersebut pada manusia. Sifat ma’ani tersebut ada Tujuh macam; Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Bashar dan Kalam.
        Qudrat, artinya, Kuasa. Allah menampakkan lahir sifat kuasa tersebut pada manusia seperti manusia kuasa membuat meja, kursi, televise, radio dan lain-lain. Pada hakikatnya kekuasaan atau kemampuan manusia tersebut hanyalah sekedar pemaknaan belaka, sedangkan  Sang Kuasa Hakiki adalah Allah SWT. Dengan demikian manusia adalah Sang Fakir yang sama sekali tidak mempunyai daya dan kemampuan apa-apa. Inilah makna “ Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.” Tidak ada daya dan kekuatan melainkan daya dan kekuatan Allah SWT. Lebih tegas lagi Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya “ Wallahu khalaqakum wamaa ta’maluun” artinya Alllah yang telah menciptakanmu dan apa-apa yang kamu kerjakan.
Dengan demikian berarti bahwa yang kuasa membuat meja, kursi, televise, radio dan lain-lain hanyalah Allah semata, sedangkan manusia dan semua makhluq yang lain bersifat ‘Ajzun yang sama sekali tidak mempunyai daya dan kemampuan apa-apa. Hal ini pula-lah yang kita ikrarkan didalam shalat “ inna shalaati iwanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbil ‘alamiin.” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah milik Allah penguasa alam.
          Iradat, artinya Kehendak. Allah menampakkan sifat kehendak ini pada kehendak manusia dan semua makhluqnya. Seperti, Si Fulan berkehendak menuntut ilmu tauhid di Pesantren Al hayyu, Rangga Warsito berkehendak mengarang serat wirid hidayat jati, Syeck Siti Jenar berkehendak ndhadhar ilmu kasampurnaning gesang dan lain-lain. Kehendak-kehendak manusia sebagaimana contoh di atas pada hakikatnya adalah kehendak Allah. Juga kehendak makhluq-makhluq yang lain seperti walet membuat sarang dengan air liurnya, laba-laba menjerat mangsanya dengan peerangkap jarring-jaringnya, ular hendak melumpuhkan mangsanya dengan bisanya dan lain-lain. Makhluq-makhluq tersebut melakukan aktifitasnya sesuai dengan kodratnya masing-masing berdasarkan insting atau ilham yang diberikan Allah kepadanya.
Lalu bagaimana dengan kehendak-kehendak yang buruk seperti mencuri, berzina dan sebagainya? Apakah juga kehendak Allah? Bagaimana peran Iblis dan Syetan ?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut perhatikan kutipan ayat berikut: “ Fa alhamahaa fujuurahaa wataqwaaha.” Artinya, maka Allah mengilhamkan keburukan dan ketaqwaan kepadanya. Juga hadist Nabi Muhammad SAW, “ Man yahddillaahu falaa mudhillalah waman yudhlil falaa haadiyalah.” Dan masih banyak ayat maupun hadist lain yang maknanya serupa. Dengan demikian yang menggerakkan hati manusia untuk melakukan kebaikan maupun keburukan adalah Allah sendiri. Sedangkan Iblis maupun syetan hanyalah madhar dari af’al Allah.
Kalau ditanya mengapa Allah memberikan pahala kepada orang yang berbuat kebaikan? Dan menyiksa orang yang berbuat salah? Jawabnya adalah, itu semua Hak Priogatif Allah. Allah bersifat  JAIZ. Dia wenang berbuat apa saja menurut kehendakNya sendiri kepada semua makhluqnya. Bukankah manusia dan seluruh jagat aya seisinya ini milik Allah. Dia bebas berbuat apa saja, mau mengganjar atau menyiksa kepada siapa saja yang dikehendakinya, tanpa ada satupun yang bisa mencegah atau menghalang-halangi. Sifat semacam ini ada yang menyebutnya sifat sak karepe dewe.
Dalam menyikapi hal ini disamping kita harus betul-betul pasrah dan tawwakal kepada-Nya, Rasulullah  SAW mengajarkan do’a kepada umatnya, “ Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa diinika wa’alaa tha’atika.” Wahai dzat yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama dan ketaatan padaMu Rasulullah juga pernah berdo’a, “ A’uudzubika minka.” Aku berlindung padaMU dariMU.
          Ilmu, artinya Mengetahui. Maksudnya adalah Allah menampakkan sifat Ilmunya ini pada pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Misalnya Nabi Adam as bisa menunjukkan nama-nama benda dihadapan para malaikat setelah Allah mengajarkan nama-nama benda tersebut kepadanya. Sedangkan para malaikat yang tidak diajarkan nama-nama benda tersebut tidak bisa menyebutkannya. Ketika Allah menyuruh kepada malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda tersebut, para malaikat menjawab,” Laa ‘ilma lanaa illaa maa’allamtanaa innaka antassamii’ul ‘aliim.” Sesungguhnya engkau adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dari penjelasan ayat diatas dapat kita petik suatu pengertian bahwa pada hakikatnya Nabi Adam as pun, tidak dapat menyebutkan nama-nama benda tanpa dibarengi sifat ilmunya Allah. Dengan demikian yang mengetahui dan yang bisa menyebutkan nama-nama barang tersebut adalah ALLAH.
Manusia mengetahui ilmu listrik ilmu astronomi, ilmu botani, ilmu biologi, ilmu kedokteran, ilmu cloning dan segala macam bentuk keilmuan, termasuk ilmu hakikat-makrifat, pada hakikatnya tetap Allah saja yang mengetahui. Manusia bisa ini itu, mengetahui ini itu karena  dibarengi sifat ilmu Allah. Jika Allah tidak menampakkan sifat ilmunya ini kepada manusia, maka manusia akan tetap buta, tidak bisa mengetahui apa-apa.
        Hayat, artinya Hidup. Allah itu bersifat Hidup atau Urip. Berarti dimana saja ada kehidupan maka disitu ada Dzat Hidup. Yang namanya Hidup berarti tidak akan kena mati. Hayyun daa-imun laayamuutu Abadan. Urip langgeng tan kena ing pati selawase. Hidup itu kekal adanya. Kalau ada hidup kok tidak kekal , maka namanya bukan hidup, tetapi dihidupi.
Hidup itu hanya satu adanya dari dulu kala sebelum digelarnya jagat sampai sekarang ini dan sampai kapanpun ya hanya satu itu. Dia yang Maha Hidup itu sama sekali tidak mengalami perubahan dan kematian. Tetep langgeng tan kena awah gingsir ing kahanan jati. Dialah yang kita sebut sebagai Dzat Allah.
Dengan  adanya Dzat Yang Maha Hidup ini, maka muncullah kehidupan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan pada hakikatnya tidak hidup. Buktinya manusia, hewan tumbuh-tumbuhan masih mengalami mati. Bukankah hidup itu langgeng?
  Dengan  demikian yang hidup hanyalah Allah semata, manusia bisa bergerak, beraktifitas demikian pula dengan makhluq yang lain. Karena bersamaan dengan sifat Hayatnya Allah. Dengan kata lain Allah menampakkan sifat hayatnya ini pada manusia dan semua makhluqnya. Karena Hidup adalah Hidup-Nya Allah maka kembalinya harus kepada Allah. Jika tidak demikian berarti tersesat namanya.

MARTABAT TANAZALUL

Martabat Tanazzul   pada tingkat-tingkat berikut ini .
        1. Alam Arwah. Pada tingkat inilah terhimpun dan terhampar luas segala roh yang tidak bersusun-susun.
        2. Alam Mistal. Ada rupa, tetapi tidak bisa dibagi-bagi karena amat halusnya. (catatan: istilah ilmiyahnya atom, a = tidak, tom = dibagi bagi.
        3. Alam Ajsad. Berupa dan berbentuk dan bisa dibagi-bagi atau terbagi-bagi.
        4. Alam Insan. Terhimpun menurut pengertiannya (amrun itibary) dari yang ke 1 sampai dengan 6.
Martabat yang ke 7 ini adalah martabat yang terakhir, kesemuanya ini dinamakan pula umumnya dengan nama Martabat Tujuh.
Seorang yang zahir pada alam Insan (alam manusia) kemudian sempurna makrifatnya sampai kepada martbat yang pertama, maka orang tersebut dapat diberi gelar dengan Insan Kamil. (manusia seutuhnya sempurna)
Insan Kamil. atau manusia sempurna yang dimaksudkan ini, dimana terhimpun sifat Jalal (kemuliaan) dan sifat Jamal (keindahan) yang nyata sekali pada iri Nabi kita Muhammad s.a.w. sehingga tepat kalau beliau dikatakan atau dinyatakan sebagai penutup para Nabi.
Kesimpulan :
Setelah anda mempelajari apa yang tertera dalam tulisan ini, tidaklah salah kiranya bila disini kita cantumkan ringkasan-ringkasan mskipun sudah cukup jelas pada pasal dan bagiannya masing-masing.
  • Segala perbuatan adalah perbuatan Allah, si hamba sama sekali tidak memiliki perbuatan.
  • Segala asma pada hakekatnya adalah Asma Allah.
  • Segala sifat pada hakekatnya adalah sifat Tuhan. Yang ada pada hamba adalah mazhar WujudNya.
  • Nur Nabi kita Muhammad s.a.w. adalah dari pada Nur Zat Allah Ta’ala. Sekalian mahluk dan segala sesuatu ini di jadikan dari padanya.
Bagi mereka yang ingin mendapatkan perbendaharaan Uluhiyah dan khazanah rabbaniyah seharusnyalah mereka secara terus menerus dengan zikrullah dan sholawat atas Nabi s.a.w. agar memudahkan terbukanya khazanah hati untuk menampung “makrifatullah” dalam waktu yang singkat.
Dalam rangka terus menurus zikir dan mentauhidkan Allah s.w.t. adalah dengan cara :
  1. Anda lihat segala gerak dan diam, ucapan atau bukan ucapan, semua itu adalah dri pada Allah s.w.t. Apakah hal itu dari dirimu sendiri atau bukan. Maka dengan kesungguhan dan ketekunan sehingga tahkik hal itu bagi anda dengan penuh perasaan dan kasyaf. cara ini disebut Tauhidul Af’al.
  2. Dengan isyarat guru, berpindah anda pada cara berikutnyaTauhidul Asma. dan Tauhidus-Sifat. engkau lihat dan pandang dengan penuh perasaan dan jiwa serta keyakinan yang mantab atau dengan perkataan lain, dengan “cara Syuhudi”, “kasyfi, “zauqi” tak ada yang kuasa, tak ada yang berkehendak, tak ada yang tahu, tak ada yang hidup, melihat, mendengar dan berkata-kata, kecuali Allah Dzat Wajibul Wujud.
  3. Selanjutnya anda berpindah tingkatTauhiduz-Zat.dengan suatu kepastian bahwa tidak ada yang maujud ini kecuali Allah, fanakan segala akwan ini serta dirimu sendiri.
  4. Anda tenggelamkan dirimu dalam kefanaan, selanjutnya anda fanakan pula kefanaan itu dari anda, yang maksudnya “bukan anda yang memfanakan tetapi memfanakan itu adalah Allah s.w.t. Hal ini yang disebut “fana ul fana”.
Apabila semua itu sudah mencapai hasil, Allah akan letakkan anda pada suatu tingkatan BAQO BILLAH, yang dengan itu Allah karuniai anda dengan karomah (kemuliaan) dan kegembiraan yang tiad tara dari Hidlrat Yang Suci, begitu pula berarti anda telah diangkat Allah dari lembah kehinaan dan dibebaskan olehNya dari perhambaan dan belenggu hawa nafsu, lalu merdekalah anda dalam arti yang sebenarnya sebagai hamba Allah.s.w.t.
Semua yang diutarakan ini adalah cara-cara musyahadah, hal mana merupakan pula jalan yang paling dekat menuju Allah, serta merupakan ibadat yang paling utama (afdal).

HAKEKAT NUR MUHAMMAD

Banyak pendapat dan pertentangan pendapat tentang Hakikat Nur Muhammad yang akan menjadi topik bahasan dalam  Kajian Hakikat Tauhid  ini. Perbedaan pendapat itu pada umumnya terdapat pada kisaran tentang Penciptaan Nur Muhammad dan Awal Muhammad. Masing-masing pendapat berusaha untuk menampilkan dan menyandarkan pendapatnya kepada ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadist serta penjelasan-penjelasan yang logis dan ilmiah untuk mendukung kebenaran pendapat mereka. Mungkin saya, atau anda termasuk salah satu diantara mereka
Masing-masing pihak berusaha untuk membantah pendapat yang lainnya. Bahkan ada diantaranya yang menyatakan bahwa hadist-hadist yang disampaikan sebagai dasar dari pendapat yang berseberangan dengan pendapatnya adalah hadist lemah bahkan hadist palsu dan sebagainya. Sehingga pada akhirnya hanya pendapat dia sajalah yang paling benar.
Mengenai hal tersebut, saya lebih tertarik dengan pernyataan yang disampaikan oleh Ibnu Hajar yang menyatakan bahwa, setiap pendapat yang berusaha menjelaskan suatu urusan tentang agama yang tidak mempunyai penjelasan yang tegas, pada umumnya hanya berupa penafsiaran yang berusaha untuk menyelaraskan maksud dan pemahamannya dengan apa yang dimaksud oleh Allah swt. Sedangkan yang dimaksud oleh Allah swt bisa jadi adalah demikian atau sama sekali bukan demikian, kebenaran yang sesungguhnya adalah milik Allah swt
Sedangkan tentang saling kalim bahwa hadist yang disampaikan satu pihak oleh pihak yang lain adalah hadist lemah atau hadist palsu. Saya berpendapat bahwa, sesuai dengan konsep dasar pembelajaran ilmu hadist, dalam perkembangannya memang terdapat bebarapa hadist yang sebelumnya dinyatakan sahih ternyata belakangan ditemukan lemah sanadnya atau bahkan ternyata bukan hadist. Namun dengan pemahaman bahwa apabila satu hadist yang sebelumnya dianggap lemah tenyata diriwayatkan oleh banyak orang dengan jalan yang berbeda, bisa jadi hadist tersebut adalah sahih. Karena tidak mungkin atau kecil sekali kemungkinannya banyak orang berbohong pada masalah yang sama pada saat yang bersamaan.
Tapi apabila dicermati kedua pendapat yang yang saling bertolak belakang tentang keberadaan Nur Muhammad tersedari pemahaman wahabi yang memang pada awal keberadaan fahamnya menolak setiap pendapat diluar dari pendapatnya sendiri. Sedangkan pendapat yang lain, selain pendapat dari faham wahabi atau dari kalangan Ahlu Sunnah Wal Jamaah cendrung hanya mempersoalkan tentang penciptaan mana yang lebih dahulu diciptakan antara Kalam dan Nur Muhammad. Sehingga keberadaan Nur Muhammad tersebut sebetulnya sudah disepakati.
Perlu juga disampaikan dalam kajian awal pada category  Hakikat Nur Muhammad  ini, bahwa Nur Muhammad yang dibahas bukan Nabi Muhammad saw yang dilahirkan di Makkah dan wafatnya di Medinah, Ayahnya bernama Abdullah dan Ibunya bernama Aminah, tetapi Nur Muhammad yang dimaksud dalam Kajian Hakikat Tauhid ini adalah sesuatu yang diciptakan Allah swt yang akan membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan yang tidak ada Tuhan selain Dia yang berhak untuk disembah.
Secara logika dapat digambarkan bahwa tidaklah bisa dikatakan sesorang itu sebagai seorang guru apabila dia tidak mempunyai murid atau tidak ada orang yang belajar kepadanya, dan tidaklah bisa dikatakan bahwa sesorang itu pemimpin kalau tidak ada rakyat yang dipimpinnya. Tentunya tidaklah dikatakan Allah swt itu sebagai Tuhan, apabila tidak ada makhluk yang menyembahnya dan yang menyembah itulah yang dikatakan sebagai Nur Muhammad. ( Insya Allah akan dibahas lebih lanjut )
Dengan pemahaman itu, maka sudah jelas bahwa yang pertama sekali diciptakan Allah swt sebagai Tuhan adalah Nur Muhammad, karena tanpa Nur Muhammad itu Allah swt belum menjadi Tuhan, karena belum ada yang menyembah-Nya. Setelah ada yang menyembah, barulah Allah swt menciptakan kalam untuk berkata-kata karena tidak mungkin Allah swt berkata-kata sendirian. Setelah memahami konsep sederhana yang disampikan diatas, barulah kita bisa melanjutkan kajian tentang apa dan siapa Nur Muhammad itu dan bagaimana proses penciptaannya dan hubungannya dengan makhluk yang lain yang diciptakan Allah swt sesudahnya.

TENTANG NUR MUHAMMAD

Cukup banyak ulama-ulama yang menolak NUR MUHAMMAD namun banyak pula yang menerima dan meyakininya, letak permasalahannya adalah satu titik perbedaan, yaitu lemah (dlo’if) atau kuat (shohih) hadist-hadist yang berkenaan dengan masalah Nr Muhammad, karna hal ini adalah suatu ” ihktilaf” ( perbedaan pendapat) tentang masalah hadist-hadistnya maka tergantung setiap penuntut unruk dapat menerima atau tidak.
Untuk jelasnya baiklah kita cantumkan sedikit hasil selidik Buya HAMKA tentang ajaran Al Hallaj dan Ibnu Araby mengenai NUR MUHAMMAD pada buku beliau yang berjudul TASAWWUF PERKEMBANGAN DAN PEMURNIAANNYA halaman 97/98, ” TENTANG NUR MUHAMMAD”. Beliaulah (Al Hallaj) yang mula-mula menyatakan bahwa sanya kejadian alam ini pada mulanya adalah dari pada HAKIKATUL MUHAMMADIYAH, atau NUR MUHAMMAD.
” Nur Muhammad” itulah asal segala kejadian, Hampir sama perjalanan persamaannya dengan renungan ahli Filsafat yang menyatakan bahwa yang mula-mula diciptakan adalah ” AQAL PERTAMA”
Menurut Al Hallaj, Nabi Muhammad itu terjadi dua rupa, Rupa yang qadim dan Azali. Dia telah terjadi sebelum terjadinya seluruh yang ada, dari padanya disauk atau mengalir sebagai sumber seluruh ilmu dan irfan.
Kedua iyalah rupanya sebagai manusia, sebagai seorang Rasul dan Nabi yang diutus Allah sebagai rupa manusia yang menempuh maut, tetapi rupa yang qadim tetap ada meliputi alam. Maka dari Nurnya yang qadim itulah diambil segala Nur untuk menciptakan semua Nabi-nabi dan Rasul-rasul serta Auliaya.
Cahaya segala keNabian dari pada Nurnya, dan cahaya mereka adalah pancaran Nur dari Nur Muhammad. Tidak ada cahaya yang lebih bercahaya dan lebih nyata, lebih qadim dari cahayanya yang Qadim itu, yang mendahului segala kehendak, ujudNya mendahului Adam Nmanya mendahului Qalam itu sendiri, karena dia terjadi sebelum apapun terjadi.
Segala yang manusia ketahui, ilmu pengetahuan dan segala ilmu yang ada di dunia ini hanya setetes dari Lautan Ilmunya. ibarat kata ” Diatasnya mega mengguruh, dibawahnya kilat menyinar dan memancar, menurunkan hujan dan memberi kesuburan” . Segala ilmu adalah setetes dari lautan ilmunya. segala hikmat hanyalah segelas dari sungainya, segala jaman hanyalah segelas dari Sungainya, satu jaman adalah masa yang singkat dari masanya.
Dalam hal kejadian Dialah yang Awal, dalam hal kenabian dialah yang Akhir, Al Hallaj adalah bersamanya, dan dengan Dialah Hakikat, Dialah yang batin dalam hakikat dan dialah yang dhohir dalam Ma’rifat. Nur Muhammad adalah pusat kesatuan Alam, dan Pusat kesatuan Nubuwat segala Nabi, dan Nabi-nabi itu Nubuwatnya segala macam ilmu, hikmat dan Nubuwat adalah pancaran dari Nurnya ( Halaman 146/147).
Menurut IBNU ARABY Allah adalah suatu dan satu, Dialah Wujud yang Mutlak. Maka Nur Allah itu sebagian dari pada dirinya, itulah dia Hakikat Muhammadiyah, itulah kenyataan pertama dalam uluhiyah.
Daripadanyal tercipta alam dalam berbagai tingkatan, ALAM JABARUT, ALAM MALAKUT, ALAM MISTAL, ALAM AJSAM, dan ALAM ARWAH. Dia segenap kesempurnaan ilmu dan amal yang maujud pada Nabi sejak Adam sampai Muhammad, dan kepada Wali-wali dan segala tubuh INSAN KAMIL.
Nur Muhammad atau Hakikat Muhammadiyah itu Qadim, sebab dia adalah sebagian dari Ahadiyat. Sebahagian dari satu dan satu, Dia tetap ada, hakikat Muhammadiyah itulah yang memenuhi tubuh Adam dan tubuh Muhammad, dan apabila Muhammad wafat sebagai tubuh, namun Nur Muhammad dan Hakikat Muhammadiyah tetap ada, Maka sesungguhnya Allah, Adam, dan Muhammad adalah satu, dan Insan Kamil adalah dia juga pada Hakikatnya.
Demikianlah beberapa faham ini, bila kita selidiki ke dalam kitab-kitab Ibnu Araby sendiri , kita bisa ” Menangkap “ beberapa kesimpulan dan juga ” jalan keluar “ yang telah tersedia berupa kata-kata, rumus dan isyarat.
Demikian yang kita kutib dari dari buku susunan Buya HAMKA.
Sepanjang kajian yang telah saya pelajari adalah sebagai berikut :
  1. NUR MUHAMMAD dari pada NUR DZAT adalaha dalam arti qadim pada Hidlrat/ martabat WAHDA yang nyata secara ” mujmal “ (menyeluruh).
  2. NUR MUHAMMAD atau NUR DZAT dalam arti ” tafshli “ (terurai) adalah suatu asma pada hidlrat Wahidiyah.
  3. Sehubungan dengan Dzat Allah s.w.t, maka kata-kata NUR MUHAMMAD atau NUR DZAT atau NUR tidak boleh diartikan dengan arti ” cahaya “ dalam bahasa Indonesia, karena definisi cahaya adalah sebagai akibat balik dari sesuatu dan mempunyai ketergantungan dengan sesuatu itu.
  4. NUR adalah NUR, salah satu asma Allah (99 nama). Misalnya kalau ada seseorang bernama NUR HAYATI, menurut arti bahasa ” cahaya kehidupan ” maka tidak tidak benar jika kita memanggilnya dengan kata-kata ” hai cahaya hidup kemarilah, orang yang bernama NUR HAYATI itu sendiri tidak akan tahu, kalau yang dipanggil adalah dirinya.
  5. Dalam Pengajian Guru saya selalu berpesan  ” ingat “ jangan Muhammad yang di Mekkah karna bisa menimbulkan kekafiran ( seperti orang kristen Menuhankan Isa).
  6. MUHAMMAD dalam pengertian bahasa berarti yang terpuji, maka kata-kata Nur Muhammad dalam iktikad keqadimannya, asma Allah Nur yang terpuji, sehingga jangan sampai tasawwur/berbaur dan mengartikannya sebagai Muhammad Rasulullah yang bermaqam di Madinah.
  7. Dan adalah kesalahan pengertian bila NUR MUHAMMAD dalam arti qadim, dinyatakan sebagai ” bagian dari ahadiyat Allah s.w.t” Maha Suci Allah dari pada terbagi-bagi.
Banyak keterangan yang bisa diungkapkan untuk menjelaskan masalah ini, namun yang paling utama adalah jangan sekali-kali memegang pendapt bhwa Muhammad s.a.w, yang terbaring dimakamnya di Madinah itu adalah qadim. Dalam sebuah Hadist Rasulullah s.a.w. riwayat Imam Baihaqy :
”  Qola Rasulullahi Shollallahu Alaihi Wasallama, Iqtarafa Adam Ul-khotiatha.  Qola Ya Rabbi, As’aluka Bihaqqi Muhammadin illa Ghafarta, Li Faqolal Lahu Ta’ala , ” Ya Adamu Kaifa ‘Arafta Muhammadan Walam Akhluqhu”. Qola Ya Rabbi Innaka Lamma Khalaqtani Rafa’tu Rasi, Fa ra’aitu Ala Qawa’imil ‘Arsyi Martuban Fi hi ” LA ILAHA ILLALLAHU MUHAMMADUR RASULULLAH “
Artinya :
Rasulullah s.a.w bersabda : Ketika Adam telah mengakui kesalahanya, dia berkata bermohon, Ya Tuhanku, hamba mohon kepada Engkau demi kebenaran Muhammad, melainkan Engkau mengampuniku. Lalu Allah berfirman kepada Adam : ” Hai Adam bagaimana Engkau bisa mengetahui tentang Muhammad padahal aku belum menjadikannya?”. Adampun menjawab : ” Ya Tuhanku, sesungguhnya ketika Engkau ciptakan aku, aku mengangkat kepala, kemudian terlihat olehku tulisan di tiang Arasy berbunyi ” LA ILAHA ILLALLAH, MUHAMMAD RASULULLAH.

HAKEKAT AWAL NUR MUHAMMAD

Hakikat Awal Nur Muhammad. Pamahaman tentang hakikat Nur Muhammad pada umumnya dimulai dari kajian asal yaitu ketika, seluruh alam belum ada dan belum satu pun makhluk diciptakan Allah swt. Pada saat itu yang ada hanya zat Tuhan semata-mata, satu-satunya zat yang ada dengan sifat Ujud-Nya. Banyak dari kalangan sufi memahami bahwa pada saat itu zat yang ujud yang bersifat qidam tersebut belumlah menjadi Tuhan karena belum bernama Allah, Untuk bisa dikatakan sebagai tuhan, sesuatu itu harus dan wajib ada yang menyembahnya. Apabila tidak ada yang menyembah maka tidak bisa sesuatu itu disebut Tuhan, demikianlah Logikanya.
Karena  zat yang ujud-Nya besifat qidam tersebut pada saat itu hanya berupa zat, maka pada saat itu Dia belum menjadi Tuhan dan Dia belum bernama Allah, karena  kata Allah sendiri dipakai dan diperkenalkan oleh  Tuhan sendiri setelah ada makhluk yang akan menyembahnya serta hakikat makna dari kata Allah itu sendiri berarti yang disembah oleh sesuatu yang lebih rendah dari padanya. (untuk  pembahasan ini kita cukup memahaminya seperti itu)
Setelah itu, barulah diciptakam Muhammad dalam ujud nur atau cahaya yang diciptakan atau berasal dari Nur atau Cahaya Zat yang menciptakannya ( sebagai perbandingan kaliamat Adam Diciptakan dari Tanah ). Yaitu Nur yang cahanya terang benderang lagi menerangi. ( kemudian nur tersebut difahami sebagai Nur Muhammad ). Nur itulah yang kemudian mensifati atau memberi sifat akan Zat yaitu sifat Ujud yang berati ada dan mustahil bersifat tidak ada karena sudah ada yang mengatakan “ ada “ atau meng-“ada”-kan yaitu Nur Muhammad.
Jabir ibn `Abd Allah r.a. berkata kepada Rasullullah s.a.w: “Wahai Rasullullah, biarkan kedua ibubapa ku dikorban untuk mu, khabarkan perkara yang pertama Allah jadikan sebelum semua benda.” Baginda berkata: “Wahai Jabir, perkara yang pertama yang Allah jadikan ialah cahaya Rasulmu daripada cahayaNya, dan cahaya itu tetap seperti itu di dalam KekuasaanNya selama KehendakNya, dan tiada apa, pada masa itu ( Hr : al-Tilimsani, Qastallani, Zarqani ) `Abd al-Haqq al-Dihlawi mengatkan bahwa Hadist ini Sahih.
Ali ibn al-Husayn daripada bapanya daripada kakaeknya berkata bahwa Rasullullah s.a.w berkata: “Aku adalah cahaya dihadapan Tuhanku selama empat belas ribu tahun sebelum Dia menjadikan Adam a.s.      (HR.Imam-Ahmad,Dhahabi,dan-al-Tabrani)
Setelah  Nur   Muhamamad di ciptakan dari Nur atau  Cahaya  Zat – Nya, maka selanjutnya Nur Muhammad itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan keberadaannya dengan Zat, karena dengan Nur Muhammad itulah, Zat melahirkan semua sifat yang disifati-Nya
“ Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah,  adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[ * ], yang di dalamnya ada pelita besar.  pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang  (yang bercahaya)  seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) [ ** ], yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. “ ( QS : 024. : An Nuur : ayat : 35 )

[*] Yang dimaksud lubang yang tidak tembus (misykat) ialah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain.
[**] Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.
Ibn Jubayr dan Ka`b al-Ahbar berkata: “Apa yang dimaksudkan bagi cahaya yang kedua itu ialah Rasullullah s.a.w kerana baginda adalah PesuruhNya dan Penyampai dari Allah s.w.t terhadap apa yang menerangi dan terdzahir.” Ka`b berkata: ” Minyaknya bersinar akan berkilauan kerana Rasullullah s.a.w bersinar akan  diketahui kepada orang ramai walaupun jika baginda tidak mengakui bahawa baginda adalah seorang nabi, sama seperti minyak itu bersinar berkilauan walaupun tanpa dinyalakan.
Dari dalil-dalil yang disampaikan diatas dapatlah difahami bahwa hubungan antara Nur Muhammad dengan Zat Tuhan adalah hubungan yang tidak dapat dipisahkan yaitu, dimana Allah berdiri disana nur muhammad berada, Ketika Allah disebut, maka disana Muhammad ikut menyertainya seperti pada pada kalimat tauhid “ La Ila Ha Illaallah, Muhammad rasululullah “ Ketika Allah disebut, maka mutlak disana Muhammad ikut atau berada. Ibarat api dengan panasnya. Dimana api berada, maka disana pula panasnya berada.  Dimana  Zat berada disana pula Nur Muhammad berada.  Bukanlah dikatakan api kalau tidak terasa panas. Ketika api disentuh, maka sesunggunya yang tersentuh hanyalah panasnya saja dan ketika terasa panasnya api pada hakikatnya yang dirasakan adalah api itu sendiri. Sehingga untuk memudahkan  pemahaman,   kalau diibaratkan “ api “ adalah zat dan  “ panas “  adalah  Nur Muhammad yang menjadi sifat yang tidak terpisahkan dari pada api.
Sebagai contoh lain dapat difahami melalui konsep laut  dan gelombang. Tidaklah dikatakan sesuatu itu laut kalau dia tidak bergembang  ( ombak ).  Karena gelombang itu adalah sifat dari pada laut. Dimana ada laut,  maka  disana pula  ada gelombangnya. Tidak bergoncang  atau bergerak gelombang itu apabila laut tidak  bergoncang. Karena gelombang itu adalah laut yang bergocang. Ketika kita memandang laut yang terlihat adalah gelombangnya. Dan ketika mata memandang gelombang, pada hakikatnya yang dipandang  adalah laut . (Pemahaman ini sebaiknya disimpan dulu, untuk pemahaman kajian lebih lanjut) coba pelajari dan fahami hadist berikut dalam acuan pemahaman diatas

“ Aku telah dimasukkan ke dalam tanah pada Adam dan adalah yang dijanjikan kepada ayahanda ku Ibrahim dan khabaran gembira kepada Isa ibn Maryam “ ( HR : Ahmad, Bayhaqi )
“ Bila Tuhan menjadikan Adam, Dia menurunkan aku dalam dirinya (Adam). Dia meletakkan aku dalam Nuh semasa di dalam bahtera dan mencampakkan aku ke dalam api dalam diri Ibrahim. Kemudian meletakkan aku dalam diri yang mulia-mulia dan memasukkan aku ke dalam rahim yang suci sehingga Dia mengeluarkan aku dari kedua ibu-bapa ku. Tiada pun dari mereka yang terkeluar “. ( HR : Hakim, Ibn Abi `Umar al-`Adani )
Ada yang bertanya padaku tentang uraian ini, pertanyaannya sebagai berikut :
Dengan uraian tsb. lalu mau dikemanakan a.l. QS. 15:29 :
“Setelah Aku sempurnakan bentuknya (Adam) dan Aku tiupkan kepadanya  (Adam) ruh-Ku, maka hendaklah kamu tunduk merendahkan diri kepadanya (Adam)”
Dari ayat ini dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang terkait dengan posisi Adam As. dapat disimpulkan tidak ‘terselip’ perkalimat pun riwayat Nur Muhammad.
Muhammad SAW manusia biasa, berbeda proses kelahirannya dengan Nabi Isa As. dan apalagi dengan penciptaan Adam As.
Katakan (hai Muhammad): “Aku tidak mengatakan kepada kamu, bahwa aku (Muhammad) mempunyai perbendaharaan Allah, tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan, bahwa ‘aku malaikat’; hanyalah aku mengikut apa yang diwahyukan kepadaku”. Katakan: ‘Samakah orang buta dengan orang yang dapat melihat?’ Tidakkah kamu pikirkan? (QS. 6:50).

Dhohir memang sama, antara kita dengan nabi, tapi apakah hakikat itu sama? tentu tidak. Kebodohan akan hakikat bersumber dari hakikat hati masing2 yang tidak bisa mengerti akan hakikat. Hanya makhluk bodoh yg berselisih tentang hakikat.
Man lam yazuq lam ya’rif: siapa tidak merasa pasti tidak tahu. Hanya orang yg merasalah yg dapat mengenal hakikat Nur Muhammad SAW.
“Dzohir boleh berbeda tapi hakikatnya Satu jua” ,”Syuhudul kasroh fi Wahdah”. Hakikat adalah rahasia kedalaman hati, karena itu jika sudah mencapai dasar dari hati, maka tidak ada perselisihan. Tapi jika Hakikat diletakkan pada akal akhirnya timbul sangka2 akhirnya timbul perselisihan, perbanyaklah bersholawat untuk menemukan hakikat yang sebenarnya, karena sholawat bisa menjadi pengganti Guru Mursyid yang sekarang ini susah untuk kita temui.
Diterangkan oleh hadits, asalnya Nabi Adam adalah dari saripati tanah-api-air-angin. Kalau tanah-api-air-angin, datang dari mana?  Diterangkan oleh hadits, asalnya dari nur muhammad, yaitu cahaya empat perkaracahaya hitam – hakikat tanah,  cahaya putih – hakikat air,  cahaya kuning – hakikat angin, dan cahaya merah – hakikat api.
Kalau nur muhammad, asalnya dari mana? Menurut keterangan dari hadits, asalnya dari Nur Maha Suci, yaitu jauhar awwal. Selepas ini, habis. Karena sudah dijelaskan di hadits dan Qur’an bahwa jauhar awwal adalah bibitnya tujuh bumi tujuh langit berikut segala isinya. Maka, yang dimaksud dengan dalil ‘bermula dari Allah’ adalah dari jauhar awwal ini.
inti dalam menjalankan Islam dan Tujuan Vertikal diri adalah Tarikat, Syariat, Hakikat dan MA’rifat…..

 
Diberdayakan oleh Blogger.